Asap Karhutla Masih Mengancam, IDAI Bagikan 8 Langkah untuk Lindungi Anak

Anak merupakan salah satu kelompok rentan bila terkena paparan asap karhutla.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 28 September 2026, 16:00 WIB
Gambar udara ini memperlihatkan kabut asap akibat kebakaran hutan yang menyelimuti Desa Lanjak di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Jumat, 4 September 2026. (AFP/ Bay Ismoyo)

Liputan6.com, Jakarta - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orangtua untuk melakukan sejumlah langkah perlindungan pada anak lantaran termasuk kelompok rentan pada kondisi ini. 

Ketua Pengurus Pusat IDAI dokter Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp Kardio(K), mengatakan anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap paparan asap karhutla karena sistem pernapasan dan imunnya masih berkembang.

"Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan anak dan kelompok rentan," kata Piprim dalam keterangan tertulis.

Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang sangat berbahaya bagi saluran pernapasan anak dan kelompok rentan. Partikel ini dapat menembus jauh hingga ke saluran napas bagian bawah, bahkan diserap masuk ke aliran darah.

"Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan karena mereka menghirup lebih banyak udara relatif terhadap berat badannya, serta sistem pernapasan dan imunnya yang masih berkembang,” tuturnya.

Kelompok anak di bawah lima tahun menjadi yang paling rentan pada usia anak bila terpapar asap karhutla seperti ditambahkan Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr. Wahyuni Indawati, SpA, Subsp Respi(K).

Selain ISPA, asap karhutl dapat menyebabkan eksaserbasi akut pada asma, bronkiektasis, dan penyakit paru kronik lainnya.

"Anak dengan penyakit jantung bawaan, atau dengan riwayat displasia bronkopulmonal juga termasuk kelompok berisiko tinggi mengalami perburukan akibat paparan asap. Karena itu, pemantauan ketat dan langkah pencegahan yang tepat sangat diperlukan," tambahnya.

Untuk mengurangi risiko paparan asap karhutla pada anak, UKK Respirologi IDAI merekomendasikan delapan langkah yang dapat dilakukan orangtua:

1. Pantau kualitas udara lokal (Air Quality Index/AQI atau Indeks Standar Pencemar Udara/ISPU) secara rutin selama musim kebakaran, meskipun titik api tidak berada di dekat lokasi anak berada, karena asap dapat menyebar hingga ratusan kilometer dari sumbernya.

2. Siapkan ‘ruang bersih’ (clean room) di rumah/ruangan dengan sedikit jendela dan pintu, dilengkapi alat pembersih udara portabel (bukan tipe ozone-generating).

3. Selama kabut asap berlangsung, jaga anak tetap di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup; bila menggunakan AC, atur agar tidak menarik udara segar dari luar (dengan mode closed vent atau air recirculation).

4. Jaga kualitas udara dalam rumah dengan menghindari rokok, kompor gas/kayu bakar, perapian, lilin, semprotan aerosol, memanggang/menggoreng daging, serta menyedot debu karena semua ini dapat memperburuk kualitas udara dalam ruangan.

5. Batasi aktivitas fisik berat anak di luar ruangan bila udara terlihat/berbau berasap atau kualitas udara dilaporkan buruk.

6. Jika harus keluar rumah, pakai masker bila anak berusia 2 tahun atau lebih untuk mencegah menghirup partikel asap yang berbahaya, dan pakai kacamata untuk mencegah iritasi asap terhadap mata.

7. Anak dengan asma, alergi, atau kondisi kronis lain berisiko lebih tinggi, pastikan obat rutin (termasuk obat pereda cepat/rescue inhaler) selalu tersedia.

8. Segera cari bantuan medis bila anak mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk, atau menolak makan/minum.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya