Tanggal Merah Belum Tentu Jadi Hari Libur untuk Ibu

Tanggal merah belum tentu jadi hari libur bagi ibu karena mental load tetap berjalan meski di rumah.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 28 September 2026, 14:42 WIB
Tanggal merah seharusnya menjadi kesempatan ibu beristirahat dan memulihkan energi. Namun, beban mengurus rumah dan keluarga tetap bisa berjalan jika tanggung jawab belum dibagi secara proaktif. (Foto: Unsplash.com/ Tanaphong Toochinda)

Liputan6.com, Jakarta - Bagi ibu, tanggal merah belum tentu berarti benar-benar libur. Meski tidak pergi bekerja atau melakukan pekerjaan rumah yang terlihat, pikiran tentang menu sarapan, kebutuhan anak, isi rumah, hingga urusan keluarga lainnya tetap berjalan. Inilah yang membuat mental load ibu tetap terasa bahkan ketika kalender menunjukkan hari libur.

Psikolog Astarini Retno Y., S.Psi., Psikolog, yang dikenal sebagai Ajeng Raviando, mengatakan, pekerjaan rumah tangga bukan semata-mata tanggung jawab ibu. Seluruh anggota keluarga perlu mengambil peran dalam mengurus dan merawat keluarga.

"Pekerjaan di rumah itu adalah tanggung jawab seluruh anggota keluarga, bukan hanya tanggung jawab ibu," ujar Ajeng dalam diskusi Tanggal Merah untuk Ibu bersama Frisian Flag Kental Manis (FFI) di Bandung, Jawa Barat, Minggu, 27 September 2026.

Menurut Ajeng, pekerjaan rumah yang terlihat seperti memasak, menyiapkan sarapan, dan membereskan rumah biasanya lebih mudah dikenali. Namun, ada pekerjaan lain yang tidak terlihat tetapi tetap menguras energi mental dan emosional ibu.

Misalnya, memikirkan apakah bahan makanan masih tersedia, menentukan menu sarapan, hingga memikirkan kebutuhan anggota keluarga untuk keesokan harinya.

“Kadang-kadang kesannya ibu enggak ngapa-ngapain, padahal mikir terus," kata Ajeng.

Beban tersebut menjadi bagian dari mental load yang sering kali tidak disadari anggota keluarga lainnya.

Ketika berbagai hal lebih banyak dipikirkan dan dikerjakan oleh satu orang, ibu bukan hanya menghadapi pekerjaan fisik, tapi juga beban untuk terus mengingat, merencanakan, dan memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi.

 

Tanggal Merah Bukan Berarti Mental Load Ibu Ikut Libur

Tanggal merah seharusnya menjadi kesempatan ibu beristirahat dan memulihkan energi. Namun, beban mengurus rumah dan keluarga tetap bisa berjalan jika tanggung jawab belum dibagi secara proaktif. (Photo by César Abner Martínez Aguilar on Unsplash)

Oleh sebab itu, lanjut Ajeng, memberikan tanggal merah kepada ibu tidak cukup hanya dengan mengatakan 'Hari ini kamu istirahat saja'.

Menurut Ajeng, ibu membutuhkan waktu untuk recovery, bukan sekadar me time. Waktu tersebut diperlukan untuk mengisi kembali energi, baik secara fisik maupun mental.

"Lebih kepada bagaimana menciptakan waktu untuk ibu recovery, baik secara mental maupun fisik," ujarnya.

Ajeng menjelaskan bahwa setiap orang membutuhkan waktu untuk recharge. Hal ini juga berlaku bagi ibu yang selama ini kerap dianggap selalu mampu mengurus berbagai kebutuhan keluarga.

Ajeng mengibaratkan kondisi tersebut seperti baterai ponsel yang terus digunakan tanpa diisi ulang. Ketika energi tidak kembali terisi, seseorang bisa lebih mudah merasa overwhelmed, emosinya terkuras, dan kesulitan melakukan regulasi emosi.

"Yang namanya me time itu bukan sekadar butuh istirahat, tapi butuh recharge terkait dengan emosinya, mental load-nya," kata Ajeng.

 

Jangan Sekadar Bertanya

Tanggal merah seharusnya menjadi kesempatan ibu beristirahat dan memulihkan energi. Namun, beban mengurus rumah dan keluarga tetap bisa berjalan jika tanggung jawab belum dibagi secara proaktif. (foto:unsplash)

Dukungan kepada ibu juga tidak cukup hanya dengan bertanya 'Apa yang bisa saya bantu?'. Menurut Ajeng, terlalu banyak bertanya justru bisa membuat ibu tetap menjadi 'manajer' rumah tangga.

Misalnya, ketika suami mengatakan ingin mengurus anak, tapi kemudian masih bertanya tentang pakaian, sepatu, makanan, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Maksudnya memang membantu, tapi pada akhirnya ibu tetap harus mengatur dan memberikan arahan. Beban mental pun tidak benar-benar berpindah.

Oleh sebab itu, Ajeng mendorong anggota keluarga untuk bersikap proaktif. "Bukan membantu ibu atau misalnya kita bertanya terus, ‘Apa yang bisa saya bantu?’ Tapi lebih kepada proaktif," ujarnya.

Sikap proaktif dapat dilakukan dengan mengambil alih tanggung jawab tertentu tanpa menunggu diminta.

Misalnya, suami mengambil alih urusan anak atau pekerjaan rumah pada hari libur agar ibu benar-benar memiliki waktu untuk dirinya sendiri.

Namun, berbagi peran juga tidak cukup dilakukan hanya ketika tanggal merah atau weekend.

"Ketika memang proaktif, berarti harus ada konsistensi. Jadi, jangan cuma saat tanggal merah atau saat weekend saja," kata Ajeng.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya