Irama Jantung Tak Beraturan, Waspadai Fibrilasi Atrium

Sayangnya, pada sebagian orang fibrilasi atrium tidak menunjukkan gejala. Padahal kondisi ini rentan terkena stroke.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 04 Oktober 2026, 08:00 WIB
Ilustrasi jantung/Copyright unsplash.com/Robina Weermeijer

Liputan6.com, Jakarta - Gangguan pada jantung tidak hanya berkaitan dengan aliran darah. Irama jantung juga dapat mengalami gangguan alias aritmia, salah satunya fibrilasi atrium.

Fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (AF) merupakan salah satu jenis aritmia yang membuat irama jantung menjadi tidak teratur. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, tetapi risikonya meningkat seiring bertambahnya usia seperti disampaikan dokter spesialis penaykit dalam subspesialis kardiovaskular, Simon Salim, dari BraveHeart Cardiovascular Center Brawijaya Hospital Saharjo Jakarta.

"Studi Framingham menunjukkan bahwa setelah usia 50 tahun, risiko mengalami fibrilasi atrium dapat meningkat sekitar dua kali lipat setiap bertambah 10 tahun usia. Bahkan, hampir 10% orang yang mencapai usia 80 tahun diperkirakan dapat mengalami fibrilasi atrium," tutur Simon.

Selain usia, beberapa kondisi seperti tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes, gagal jantung, penyakit jantung struktural, gangguan tidur seperti sleep apnea, dan konsumsi alkohol juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami fibrilasi atrium.

Gejala Fibrilasi Atrium

Pada sebagian orang, fibrilasi atrium dapat menimbulkan keluhan diantaranya:

  • jantung berdebar
  • denyut jantung terasa tidak teratur
  • mudah lelah
  • sesak napas,
  • kemampuan beraktivitas yang menurun.

Namun, sebagian lainnya tidak merasakan keluhan atau gejala apa pun. Kondisi tersebut membuat fibrilasi atrium dapat berlangsung tanpa disadari dan baru diketahui ketika seseorang menjalani pemeriksaan jantung untuk alasan lain.

"Meski tidak menimbulkan keluhan, fibrilasi atrium tetap perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko stroke," tutur Simon. 

Lebih lanjut, Simon menjelaskan irama jantung yang tidak teratur dapat membuat aliran darah di dalam jantung menjadi kurang lancar. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terbentuknya bekuan darah.

Jika bekuan darah terlepas dan terbawa aliran darah menuju otak, pembuluh darah di otak dapat tersumbat dan menyebabkan stroke. Karena itu, pada pasien dengan fibrilasi atrium, pencegahan stroke menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya