Waspada Diabetes dan Hipertensi Tak Terkontrol, Bisa Berujung Penyakit Ginjal

Dua per tiga pasien dialisis (kerap disebut cuci darah) akibat gagal ginjal tahap akhir itu karena diabetes dan hipertensi tak terkontrol.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 07 Oktober 2026, 18:42 WIB
Wakil Ketua Umum National Kidney Foundation Indonesia, dr Tunggul Diapari Situmorang, SpPD-KGH bicara tentang penyebab tersering gagal ginjal.

Liputan6.com, Jakarta - Diabetes dan hipertensi menjadi dua penyebab tersering pada pasien penyakit ginjal. Sekitar dua per tiga pasien dialisis (kerap disebut cuci darah) akibat gagal ginjal tahap akhir itu berawal dari diabetes dan hipertensi tak terkontrol.

"Dua per tiga dari pasien kita yang mengalami dialisis (karena) gagal ginjal tahap akhir penyebabnya adalah hipertensi dan diabetes. Memang ada penyebab-penyebab lain, khususnya kita kan negara berkembang yang  ada infeksi, glomerulonefritis dan hal-hal yang lain. Tetapi yang paling banyak adalah kedua hal itu," kata Wakil Ketua Umum National Kidney Foundation Indonesia, dr Tunggul Diapari Situmorang, SpPD-KGH.

Tunggul mengungkapkan bahwa sebenarnya penyakit ginjal bisa dicegah bahkan didelay atau diperlambat keparahannya. 

“Sebenarnya bisa dicegah dengan mengendalikan gula darah, mengendalikan hipertensinya,” jelas Tunggul saat ditemui di SCTV Tower pada Rabu (7/10/2026).

Maka dari itu, Tunggul menilai masyarakat perlu mengetahui faktor risiko penyakit ginjal sekaligus mengenali tanda-tandanya. Deteksi dini memungkinkan gangguan ginjal diketahui sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Edukasi mengenai kesehatan ginjal juga penting agar masyarakat tidak hanya mencari pertolongan ketika fungsi ginjal sudah menurun drastis. Pengendalian gula darah dan tekanan darah menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan ginjal, terutama bagi orang yang memiliki diabetes atau hipertensi.

“Dan, itulah kenapa kita dari NKF Indonesia dan Pernefri ingin sekali memberikan informasi kepada masyarakat supaya mencegah dan deteksi dini,,” tuturnya.

 

Gagal Ginjal, Bukan Berarti Gagal Hidup

Di kesempatan itu, Tunggul juga mengungkapkan jika fungsi ginjal sudah menurun drastis atau gagal ginjal  maka pasien masih memiliki pilihan terapi pengganti ginjal.

“Kalau sudah gagal ginjal tidak berarti hidup ini sudah gagal. Gagal ginjal tidak berarti gagal hidup," kata Tunggul memberikan semangat. 

"Masih ada terapi pengganti ginjal yaitu dialisis, apakah itu hemodialisis atau peritoneal dialisis,” kata Tunggul.

Selain dialisis, transplantasi ginjal menjadi salah satu pilihan terapi. Tunggul menyebut transplantasi sebagai terapi yang ideal karena ginjal donor dapat menggantikan fungsi ginjal yang telah mengalami kegagalan.

Menurutnya, kemampuan medis untuk melakukan transplantasi ginjal di Indonesia juga terus berkembang. Prosedur pengambilan ginjal dari donor bahkan telah dapat dilakukan dengan teknik laparoskopi dan mulai menggunakan teknologi robotik.

“Kalau dari segi medik masalah transplantasi ginjal secara teknis agaknya sudah sama kita dengan di luar negeri, baik life expectancy, survival-nya juga sama,” ujarnya.

Namun, tantangan transplantasi ginjal tidak berkaitan dengan kemampuan medis. Ketersediaan donor, biaya, aspek legal dan hukum, serta pertimbangan agama juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

“Jadi masalah di transplantasi adalah bukan masalah medik, tapi adalah masalah nonmedik,” pungkas Tunggul.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya