Toxic Competitiveness, Saat Pencapaian Olahraga di Medsos Jadi Tekanan

Salah satu cara menjaga konsistensi olahraga adalah mengunggah progres di media sosial, tetapi hal tersebut juga bisa memicu toxic competitiveness.

oleh Rachel AuliaDiterbitkan 08 Oktober 2026, 08:00 WIB
Mengunggah pencapaian olahraga ke media sosial bisa bikin terus termotivasi tapi di sisi lain bisa timbulkan toxic competitiveness. (Photo by Fitsum Admasu on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Toxic competitiveness bisa muncul ketika unggahan olahraga di media sosial yang awalnya bertujuan menginspirasi justru membuat seseorang membandingkan diri dan memaksakan mengabaikan kondisi tubuhnya sendiri

Dokter spesialis kedokteran olahraga, Andhika Raspati, mengatakan tren olahraga di media sosial bisa memberikan motivasi. Namun, pada kondisi tertentu, unggahan pencapaian orang lain juga dapat membuat seseorang terlalu memaksakan diri.

Andhika menyebut kondisi tersebut dapat terjadi ketika seseorang melihat kemampuan orang lain dan merasa harus bisa mencapai hasil yang sama, padahal belum tentu setiap orang memiliki kemampuan fisik yang setara.

"Saya juga setuju banget yang namanya kita posting (mengunggah ke media sosial) tuh harapannya bisa menginspirasi. Tapi enggak tahu kenapa dengan culture (budaya) sekarang, antara terinspirasi atau terintimidasi," ujar Andhika dalam acara Peluncuran U-Buddy, Fitur Integrasi Wearable Device pada U by Prodia di Prodia Tower, Rabu (7/10/2026).

"Yang saya suka sayangkan terkadang, enggak selalu ya, tapi ada yang namanya toxic competitiveness. Ini yang sering kita temukan," sambungnya.

Melansir dari Psychology Today, toxic competitiveness merupakan kondisi ketika dorongan alami seseorang untuk unggul berubah menjadi dorongan yang justru bersifat destruktif (merusak diri). Kondisi ini dapat membuat seseorang terlalu fokus mengejar pencapaian hingga mengabaikan kemampuan dan kondisi dirinya sendiri.

Menurut Andhika, kondisi fisik setiap orang berbeda. Seseorang yang sudah lama berlatih tentu memiliki kemampuan yang sama dengan orang yang baru mulai berolahraga.

Maka dari itu, pria lulusan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kedokteran Olahraga Universitas Indonesia itu menyarankan orang yang baru memulai olahraga untuk tidak langsung mengikuti kemampuan orang lain atau terburu-buru mengejar target latihan tertentu.

"Belum tentu, kan kondisi fisik orang beda-beda. Jadi memang harus melihat kembali bagaimana kondisi fisik diri sendiri," katanya.

Menurutnya, pemula perlu mengingat kembali cara memulai olahraga dengan tidak langsung melakukan latihan yang terlalu berat.

"Untuk memulai tuh enggak perlu yang ngoyo-ngoyo (terlalu memaksakan diri) banget," pesannya. 

Tubuh Perlu Istirahat

Arinda jelaskan perbedaan aktivitas fisik dengan latihan fisik dalam acara Peluncuran U-Buddy, Fitur Integrasi Wearable Device pada U by Prodia, Rabu (7/10/2026).

Terlalu berambisi meningkatkan kemampuan olahraga juga dapat membuat seseorang lupa memberikan waktu istirahat bagi tubuh.

Personal Trainer, Arinda Safari mengatakan, penggunaan aplikasi atau pencatatan aktivitas olahraga dapat membantu melihat perkembangan latihan. Data tersebut juga dapat digunakan untuk mengetahui kapan seseorang perlu berlatih dan kapan harus beristirahat.

Menurut Arinda, seseorang yang terlalu bersemangat berolahraga tanpa memperhatikan kondisi tubuh justru berisiko mengalami masalah akibat latihan yang berlebihan.

"Kalau misalnya tidak ada yang mengingatkan, kadang-kadang kita bisa kebablasan, overtraining (latihan berlebihan), sampai kemudian cedera.", jelas Arinda dalam kesempatan yang sama.

Data seperti detak jantung, pola tidur, hingga rencana makan dapat membantu melihat kondisi seseorang secara lebih menyeluruh.

Dengan begitu, latihan tidak hanya berfokus pada pencapaian target, tetapi juga mempertimbangkan kondisi tubuh dan kebutuhan istirahat.

Arinda menilai pencapaian dalam olahraga tidak harus selalu ditunjukkan melalui peningkatan jarak, kecepatan, atau beban latihan. Perkembangan kecil yang dilakukan secara konsisten juga tetap menjadi bagian dari proses.

"Yang penting kecil-kecil tapi terus konsisten. Nah, konsisten itu yang agak susah.", tutupnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya