Perubahan Iklim Bikin DBD Melonjak, Malaria Juga Mengkhawatirkan

Perubahan iklim picu lonjakan DBD dan malaria. Studi Monash ungkap pentingnya pencegahan penyakit.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 08 Oktober 2026, 16:15 WIB
Perubahan iklim memperluas habitat nyamuk pembawa penyakit. Studi Monash menyoroti pentingnya pengendalian vektor, vaksinasi, dan pengurangan emisi untuk menekan risiko DBD serta malaria. (Unsplash/Matt Palmer)

Liputan6.com, Jakarta - Perubahan iklim tak hanya membuat suhu bumi semakin panas. Dampaknya juga terasa pada kesehatan manusia, termasuk meningkatnya risiko penyakit yang ditularkan melalui nyamuk. Studi terbaru peneliti Monash University menunjukkan, perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi penyebaran demam berdarah dengue (DBD) dan malaria.

Kajian yang diterbitkan di jurnal Science Advances tersebut mengulas berbagai faktor ekologis, epidemiologis, dan sosial-ekonomi yang memengaruhi penularan malaria serta DBD.

Perubahan Iklim Pengaruhi Perkembangan Nyamuk

Malaria merupakan penyakit serius yang disebabkan oleh parasit dan umumnya ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Sementara itu, DBD disebabkan virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes betina yang terinfeksi.

Peneliti utama, Dr. Toby Cumming, ilmuwan dari Health and Climate Initiative di Monash School of Public Health and Preventive Medicine, mengatakan pemahaman terhadap faktor pendorong penularan menjadi kunci dalam menentukan respons kesehatan masyarakat.

"Perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu dan pergeseran pola curah hujan, sehingga memperluas wilayah yang cocok bagi populasi nyamuk Anopheles dan Aedes untuk berkembang pesat," ujar Cumming dalam keterangan resmi yang diterima Kesehatan Liputan6.com pada Kamis, 8 Oktober 2026.

Namun, hubungan antara perubahan iklim dan penyakit bawaan nyamuk tidak sesederhana kenaikan suhu. Pengaruh iklim dapat berbeda menurut musim dan wilayah. Faktor lain seperti urbanisasi, perubahan lingkungan, mobilitas penduduk, serta sistem pengendalian penyakit juga ikut menentukan risiko penularan.

Kasus Malaria Menurun, DBD Justru Meningkat

Menariknya, perkembangan malaria dan DBD justru bergerak ke arah berbeda. Dalam satu abad terakhir, ketika pemanasan global semakin nyata, angka malaria secara umum mengalami penurunan. Sebaliknya, kasus DBD terus meningkat.

"Namun, selama satu abad terakhir, di tengah fenomena pemanasan global yang kian nyata, angka kasus malaria menurun, sementara angka kasus demam berdarah justru meningkat," kata Cumming.

Rekan peneliti, Associate Professor Henry Surendra dari Monash University Indonesia, mengatakan keberhasilan pengendalian nyamuk dan terapi pengobatan turut membantu menekan penularan malaria.

Di sisi lain, urbanisasi menciptakan kondisi yang lebih mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes dan mempercepat penyebaran DBD.

"Upaya pengendalian nyamuk dan terapi pengobatan telah berhasil mengurangi penularan malaria secara signifikan. Namun, meningkatnya urbanisasi justru mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes, sehingga mempercepat penyebaran demam berdarah, yang hingga kini belum memiliki obat khusus," ujar Associate Professor Henry.

Pencegahan Penyakit Bawaan Nyamuk Harus Diperkuat

Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan menjadi semakin penting. Para peneliti menilai pengendalian vektor, vaksinasi, serta pengurangan emisi gas rumah kaca perlu dilakukan secara bersamaan untuk menekan dampak perubahan iklim terhadap penyakit bawaan nyamuk.

Cumming mengingatkan bahwa penurunan jangka panjang kasus malaria bukan alasan untuk lengah. Dalam satu dekade terakhir, jumlah kasus malaria global justru meningkat 8,5 persen.

"Tren kasus malaria belakangan ini dan lonjakan pesat demam berdarah sama-sama mengkhawatirkan. Kita harus meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan," tambahnya.

Sejumlah inovasi pencegahan DBD juga mulai dikembangkan, termasuk vaksin dan strategi pengendalian vektor seperti penggunaan bakteri Wolbachia. Bakteri tersebut dapat mengurangi kemampuan nyamuk Aedes dalam menularkan virus dengue.

"Pada akhirnya, penelitian kami menegaskan kembali pentingnya pendekatan yang terkoordinasi, mencakup berbagai intervensi untuk mengatasi faktor iklim dan non-iklim yang memicu penyebaran penyakit bawaan nyamuk," pungkas Cumming.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya