Liputan6.com, Jakarta - Keputihan umumnya dianggap sebagai keluhan yang biasa dialami perempuan sehari-hari. Namun, dokter spesialis obstetri dan ginekologi Caroline Tirtajasa mengingatkan pentingnya mengenali perbedaan antara keputihan normal dan keputihan yang bisa menjadi tanda gangguan kesehatan.
Menjaga kebersihan tubuh, terutama area genital, merupakan hal penting yang perlu diajarkan sejak dini. Salah satunya dengan memahami cara membersihkan area intim yang tepat.
Advertisement
Caroline menjelaskan, cara membersihkan area genital yang tidak tepat dapat memicu keputihan. Padahal, secara alami tubuh perempuan memang memproduksi cairan vagina untuk menjaga kebersihan dan kelembapan jaringan organ intim.
Keputihan normal umumnya berwarna jernih atau putih bening. Cairan tersebut juga tidak berbau menyengat serta tidak menimbulkan rasa gatal maupun panas.
"Keputihan yang normal itu sifatnya bening, tidak gatal, tidak berbau," ujar Caroline kepada Kesehatan Liputan6.com di sela acara Peluncuran Buku Sebelum Terlambat di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Dia, menambahkan, produksi cairan vagina secara normal dapat dipengaruhi kondisi fisiologis setiap perempuan, misalnya saat masa subur di pertengahan siklus menstruasi atau ketika mengalami rangsangan seksual.
"Dan, biasanya datang sesuai dengan fisiologisnya dia. Misalnya, saat pertengahan siklus, itu kan masuk masa subur, itu pasti ada. Saat rangsangan seksual, itu juga dia (keputihan) keluar," kata Caroline.
Ciri Keputihan Abnormal
Sebaliknya, kewaspadaan perlu ditingkatkan apabila cairan keputihan mengalami perubahan warna, disertai aroma tidak sedap dan rasa gatal yang mengganggu.
"Kalau keputihan yang tidak normal, dia gatal, berbau, dan berwarna. Warna di sini adalah putih seperti kepala susu, kuning, atau hijau kekuningan," ujar Caroline.
Jika mengalami kondisi tersebut, Caroline menyarankan perempuan segera memeriksakan diri ke dokter kandungan. Menurutnya, penggunaan obat saja terkadang tidak cukup apabila area genital belum dibersihkan dengan tepat.
"Kalau sudah tidak normal, harus segera datang ke dokter kandungan untuk dibersihkan, karena obat saja tidak cukup. Ibu-ibu mungkin biasanya langsung masuk obat lewat vagina, dan kadang masih akan terus terjadi. Dicuci dulu, kita sebutnya vaginal toilet, dibersihkan, baru obat akan efektif," tambahnya.
Risiko Gangguan Kesehatan
Keputihan abnormal yang diabaikan bukan hanya dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Kondisi tersebut juga berisiko memicu infeksi pada organ reproduksi yang pada akhirnya dapat berkaitan dengan infertilitas.
Caroline menjelaskan bahwa infertilitas merupakan kondisi ketika pasangan mengalami kesulitan mendapatkan kehamilan.
Salah satu kondisi yang dapat berkaitan dengan infertilitas adalah infeksi pada organ reproduksi. Infeksi yang bermula dari area genital dapat menyebar ke bagian organ reproduksi yang lebih dalam jika tidak segera ditangani.
Penyebaran infeksi tersebut dapat berlangsung secara bertahap. Infeksi yang awalnya terjadi di area genital dapat masuk ke vagina dan menyebabkan vaginitis. Selanjutnya, infeksi dapat menyebar menuju leher rahim, rahim, hingga saluran telur atau tuba falopi.
"Infeksi organ reproduksi itu selalu naik ke atas sifatnya, mulai dari bibir kemaluan, masuk ke vagina, ke mulut rahim, mulut rahim ke dalam rahim, dalam rahim ke tuba," katanya.
Oleh sebab itu, menjaga kebersihan area genital sehari-hari menjadi salah satu hal penting untuk mencegah infeksi.
Caroline juga mengingatkan pentingnya memperhatikan cara membasuh organ intim. Membasuh dari arah belakang ke depan, misalnya, dapat memindahkan kuman dari area anus ke vagina sehingga berpotensi memicu infeksi berulang.