Keputihan Tak Kunjung Sembuh, Bisa Jadi Gejala Diabetes

Bolak-balik keputihan yang tak kunjung sembuh, perlu ditelusuri penyebabnya dengan pemeriksaan darah. Bisa jadi diabetes.

Diterbitkan 22 Juni 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keputihan yang tak kunjung sembuh dapat menjadi salah satu tanda diabetes. Menurut dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin metabolik dan diabetes, Em Yunir, ini adalah gejala tidak khas yang terjadi pada perempun.

“Ada gejala diabetes yang tidak khas pada perempuan, keputihan tapi kok enggak sembuh-sembuh. Bolak-balik diobatin tapi muncul lagi,” kata Em Yunir dalam siaran Instagram bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dikutip pada Senin (22/6/2026).

Sedangkan, gejala diabetes yang tidak khas dan dapat terjadi pada laki-laki adalah gangguan hubungan seksual.

“Pada laki-laki yang sudah dewasa, yang sudah berkeluarga sering mengeluh hubungan suami istrinya jadi terganggu. Ini mesti dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah,” ujarnya.

Gejala lain yang lebih khas dan sering dialami pengidap diabetes adalah peningkatan frekuensi berkemih atau lebih sering kencing.

“Frekuensi kencing makin lama makin sering terutama malam hari, waktu dia tidur sering kebangun untuk ke toilet. Yang kedua ada penurunan berat badan yang drastis dalam periode beberapa bulan padahal makan biasa-biasa saja.”

Sering kencing memicu gejala lainnya yakni sering haus. Kadar gula darah tinggi dapat memicu air kencing lebih banyak keluar karena sifat gula dapat membawa air.

Orang Gemuk Lebih Berisiko Diabetes

Em Yunir menambahkan, risiko diabetes dapat meningkat pada orang gemuk. Kegemukan memicu banyaknya kadar jaringan lemak di perut. Peningkatan jumlah jaringan lemak membuat insulin lebih bekerja keras dalam mengatur gula darah.

“Kalau kita mengacu pada literatur yang ada dan dari fakta sehari-hari, kita akan lihat bahwa orang yang kegemukan itu ada korelasi yang sangat kuat antara banyaknya kadar jaringan lemak di lingkar perut atau otot dalam perut dengan resistensi insulin. Kita tahu insulin itu yang berperan mengatur gula darah,” kata Em Yunir.

Dia menjelaskan, pada orang dengan berat badan ideal, 10 insulin bisa mengatur 10 kalori atau 10 gram gula. Sedangkan, pada orang dengan resistensi insulin, untuk mengolah 10 gram gula itu dibutuhkan insulin yang lebih banyak, misalnya 20 atau dua kali lipat.

“Jadi, makin banyak jaringan lemak, makin resisten di dalam tubuh kita, maka makin butuh insulin yang tambah banyak,” ujar Em Yunir.

Dengan kondisi seperti ini, maka perlu ada perbaikan pada resistensi insulin supaya insulin kembali bekerja dengan baik. Caranya, mengurangi jaringan lemak atau sel lemak yang ada di seluruh tubuh, termasuk yang di perut atau rongga perut (jaringan lemak viseral).

“Jadi itu hubungannya, kenapa orang yang makin buncit, makin gemuk, risiko kena diabetesnya jadi lebih besar,” jelas Em Yunir.

Batas Gula Darah Normal

Guna mencegah terjadinya resistensi insulin yang berujung pada diabetes, maka pemeriksaan kadar gula darah perlu dilakukan.

“Kalau mau cek, puasa dulu sekitar delapan jam. Kalau gula darah pagi sebelum makan sudah lebih dari 100, itu masuk dalam kategori prediabetes. 100 sampai 125 kita sebut sebagai prediabetes. Nanti kalau sudah masuk ke 126, nah itu yang kita sebut sebagai kelompok diabetes.”

“Jadi, ada kelompok normal dengan gula darah di bawah 100, terus kalau lebih dari 100-125 itu sudah masuk prediabetes, kalau dia sudah tembus 126 atau lebih, itu yang kita sebut grup diabetes,” jelasnya.

Sementara, pemeriksaan gula darah dua jam setelah makan memiliki rentang angka yang berbeda. Yakni, jika kadarnya 200 atau lebih, maka ini termasuk kelompok diabetes.

“Kelompok diabetes ini bisa menjadi masalah karena penyakitnya bisa menjadi kronis, penyakit seumur hidup, mesti dikelola dengan baik,” katanya.