Liputan6.com, Jakarta - Menjaga kemampuan bergerak menjadi salah satu hal penting bagi kelompok lanjut usia (lansia). Aktivitas fisik yang tepat dapat membantu mempertahankan kekuatan otot dan kelenturan tubuh, sehingga lansia tetap bisa menjalani kegiatan sehari-hari dengan lebih nyaman.
Latihan fisik bagi lansia juga perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. Pendampingan fisioterapis menjadi salah satu cara untuk memastikan gerakan yang dilakukan sesuai kebutuhan, terutama bagi lansia yang mengalami gangguan sendi atau keterbatasan gerak.
Advertisement
Trainer WM Center, Windy Mayang, mengatakan salah satu kondisi yang kerap ditangani pada lansia adalah osteoarthritis (OA) atau pengapuran sendi, terutama pada lutut. Kondisi tersebut membutuhkan latihan yang terukur untuk membantu menjaga kemampuan gerak.
"Kalau lansia, berarti harus di-strengthening dulu. Strengthening-nya secara berkala, kemudian stretching dibanyakin, karena pasti hamstring-nya juga tight," kata Windy di WM Center Sunter, Jakarta.
Strengthening merupakan latihan penguatan otot, sedangkan stretching adalah peregangan. Keduanya menjadi bagian dari pendekatan latihan yang disesuaikan dengan kondisi lansia.
Latihan Berkelompok Bantu Lansia Tetap Aktif
Selain latihan individual, aktivitas fisik berkelompok dapat menjadi pilihan bagi lansia untuk tetap aktif sekaligus berinteraksi dengan orang lain. Berolahraga bersama memberikan kesempatan bagi peserta untuk membangun hubungan sosial dan mengurangi kejenuhan selama menjalani program latihan.
Pendekatan tersebut diterapkan melalui WM Class, program latihan berkelompok dengan pendampingan fisioterapis. Dalam pelaksanaannya, satu fisioterapis mendampingi tiga pasien lansia.
"Layanan khusus yang tadi kita launching adalah WM Class, di mana perform rata-rata untuk lansia. Karena berkelompok, nanti akan secara berkelompok. Jadi, tiga pasien lansia, satu fisioterapi," ujar Windy
Menurut Windy, keberadaan kelompok juga diharapkan membuat peserta lebih bersemangat menjalani aktivitas fisik. Mereka tidak hanya mengikuti latihan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berinteraksi selama proses pemulihan.
"Mereka memiliki komunitas di mana mungkin tidak akan mengalami kejenuhan," katanya.
Manfaat olahraga bersama tidak terbatas pada kebugaran tubuh. Aktivitas fisik dalam kelompok juga dapat membuka kesempatan bagi lansia untuk menjalin pertemanan dan membangun hubungan sosial. Interaksi tersebut dapat membuat kegiatan olahraga terasa lebih menyenangkan sekaligus membantu mengurangi rasa kesepian.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), aktivitas fisik secara rutin membantu lansia menjaga kekuatan otot, keseimbangan, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri. Aktivitas fisik juga dapat mendukung kesehatan mental.
Meski demikian, latihan bagi lansia tetap perlu memperhatikan kondisi fisik dan kemampuan masing-masing peserta. Jenis gerakan maupun intensitas latihan perlu disesuaikan agar tidak membebani tubuh.
Pendekatan Fisioterapi Perhatikan Kondisi Psikologis
Windy menekankan bahwa penanganan lansia tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Faktor psikologis dan komunikasi juga perlu diperhatikan agar pasien merasa nyaman selama menjalani terapi.
"Dengan pasien-pasien lansia ini, yang pertama kita harus mengedepankan psikis dari lansia tersebut. Kemudian yang ketiga, pasien lansia itu membutuhkan komunikasi yang lebih signifikan," ujarnya.
Selain osteoarthritis, latihan fisioterapi juga dapat ditujukan kepada pasien dengan masalah muskuloskeletal, seperti nyeri punggung bawah atau low back pain. Program latihan diarahkan untuk memperkuat otot inti dan meningkatkan kemampuan fisik secara bertahap.
Sementara itu, kebutuhan atlet berbeda karena latihan dapat berfokus pada pemulihan setelah operasi atau cedera olahraga, termasuk cedera anterior cruciate ligament (ACL) dan meniskus.
WM Center juga menangani atlet dari berbagai cabang olahraga, mulai dari sepak bola, voli, bulu tangkis, basket hingga lari.