Hari Kesehatan Mental Sedunia, Musik Bantu Kita Merasa Dipahami

Hari Kesehatan Mental Sedunia, simak penjelasan psikolog tentang peran musik dalam memahami emosi.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 11 Oktober 2026, 12:00 WIB
Musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga dapat membantu seseorang mengenali emosi, mengekspresikan perasaan, dan merasa dipahami. Psikolog mengingatkan, musik bukan pengganti bantuan profesional. (Photo by Tobias Tullius on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia setiap 10 Oktober menjadi momentum untuk memahami pentingnya kesehatan mental, termasuk melalui hal sederhana seperti mendengarkan musik.

Sebuah lagu terkadang mampu mewakili perasaan yang sulit diungkapkan, menemani saat menghadapi tekanan, hingga membuat seseorang merasa tidak sendirian. Musik pun dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk mengenali emosi dan merasa dipahami.

Tahun ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengangkat tema “Lived experiences heard: real voices, real change”, yang menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman nyata orang-orang yang hidup dengan kondisi kesehatan mental dan memberikan ruang bagi suara mereka untuk didengar.

WHO juga menyebutkan bahwa aktivitas seni dapat membantu seseorang memahami dan mengomunikasikan emosi, memproses pengalaman sulit, serta mendukung kesejahteraan secara keseluruhan.

Lalu, bagaimana musik dapat berperan dalam kesehatan mental? Psikolog Klinis Dewasa Larasati Margaretha Soetrisno, M.Psi., Psikolog, menjelaskan sejumlah peran musik dalam membantu seseorang memahami dan mengekspresikan perasaannya.

1. Musik Membantu Mengenali Perasaan

Tidak semua orang mudah mengenali atau menjelaskan emosi yang sedang dirasakan. Dalam situasi tertentu, sebuah lagu justru bisa membantu seseorang menemukan gambaran dari perasaan yang sebelumnya sulit diungkapkan melalui kata-kata.

Lirik, nada, hingga instrumen musik dapat terasa dekat dengan pengalaman pribadi seseorang. Ketika menemukan lagu yang sesuai dengan suasana hati, seseorang bisa lebih memahami apa yang sedang dirasakannya.

"Tidak semua orang bisa mengenali dan menjelaskan emosinya, sehingga ketika mendengar lagu tertentu, lirik, nada, atau instrumennya dapat merepresentasikan apa yang sedang dirasakan. Musik membantu seseorang menemukan bentuk dari perasaan yang sebelumnya sulit dijelaskan," kata Larasati.

2. Musik Menjadi Sarana Mengekspresikan Emosi

Setelah mengenali perasaan, seseorang juga membutuhkan cara untuk mengekspresikannya. Musik dapat menjadi salah satu pilihan, baik melalui kegiatan mendengarkan, bernyanyi, memainkan alat musik, maupun menulis lagu.

Larasati menjelaskan bahwa mendengarkan musik dapat membuat seseorang merasa terwakili. Sementara itu, bernyanyi, memainkan alat musik, atau menulis lagu bisa menjadi sarana untuk mengekspresikan emosi dan melepaskan stres.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychology of Music pada 2024 juga mengulas dampak aktivitas bermusik terhadap regulasi emosi. Meski demikian, manfaat yang dirasakan setiap orang dapat berbeda.

3. Lagu Bisa Membuat Kita Merasa Dipahami

Musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga dapat membantu seseorang mengenali emosi, mengekspresikan perasaan, dan merasa dipahami. Psikolog mengingatkan, musik bukan pengganti bantuan profesional. (Photo by Bruno Gomiero on Unsplash)

Pernah mendengarkan sebuah lagu dan merasa liriknya menggambarkan pengalaman pribadi? Perasaan tersebut dapat menciptakan koneksi emosional, terutama ketika seseorang merasa kesulitan menemukan orang yang memahami kondisinya.

Menurut Larasati, musik dapat menjadi alternatif ketika seseorang merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita. Hal ini bukan berarti musik menggantikan hubungan dengan orang lain, tetapi lagu bisa menjadi teman ketika seseorang sedang menghadapi perasaan yang sulit.

"Ketika pada suatu situasi tidak ada orang yang bisa mendengarkan atau memahami kita, musik dapat menjadi salah satu alternatif yang membuat seseorang merasa tidak sendirian," ujar Larasati.

4. Musik Bisa Menjadi Strategi Menghadapi Stres

Selain membantu mengenali dan mengekspresikan emosi, musik juga dapat menjadi bagian dari coping strategy, yaitu cara seseorang menghadapi tekanan atau situasi yang terasa berat.

Mendengarkan lagu yang menenangkan, misalnya, dapat membantu seseorang merasa lebih nyaman untuk sementara waktu. Namun, Larasati mengingatkan bahwa musik tidak selalu menyelesaikan masalah yang mendasari tekanan emosional tersebut.

"Musik dapat menjadi bagian dari coping, tetapi sifatnya sementara. Musik bisa membantu kita bertahan pada saat itu, tetapi masalah yang mendasarinya belum tentu selesai. Jika memang membutuhkan bantuan profesional, tetap penting untuk mencarinya," katanya.

5. Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga dapat membantu seseorang mengenali emosi, mengekspresikan perasaan, dan merasa dipahami. Psikolog mengingatkan, musik bukan pengganti bantuan profesional. (Photo by Claude Gabriel on Unsplash)

Musik dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga kesejahteraan emosional. Namun, penting untuk mengenali kapan tekanan yang dialami mulai membutuhkan perhatian lebih.

Seseorang perlu mempertimbangkan bantuan profesional ketika tekanan emosional terasa berat atau berkepanjangan, aktivitas sehari-hari mulai terganggu, atau muncul pikiran dan perilaku yang berisiko membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Konsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat membantu seseorang memahami kondisi yang dialami dan memperoleh dukungan yang sesuai.

Larasati juga mengingatkan agar rasa malu, takut, atau ragu tidak menjadi penghalang untuk mencari pertolongan.

“Rasa malu, takut, atau ragu untuk datang ke psikolog itu wajar. Namun, jangan sampai hal tersebut menghalangi seseorang mendapatkan bantuan yang memang dibutuhkan. Mengenali bahwa kita membutuhkan dukungan merupakan bagian dari upaya menjaga diri,” tutup Larasati.

Musik sebagai Ruang untuk Bercerita

 

Hubungan musik dengan pengalaman emosional terlihat dalam karya YE, yang sebelumnya dikenal sebagai Kanye West. Lagu-lagunya mengeksplorasi kerentanan, pergulatan emosional, hingga harapan untuk bangkit dari masa sulit.

Dalam Ghost Town dari album ye (2018), YE mengangkat pergulatan emosional dan keinginan untuk menemukan kebebasan. Sementara itu, Reborn, kolaborasinya dengan Kid Cudi dalam album KIDS SEE GHOSTS (2018), bercerita tentang menghadapi masa sulit dan menemukan kembali harapan.

Kedua lagu tersebut menunjukkan bagaimana musik dapat menjadi medium untuk mengungkapkan pengalaman emosional. Bagi pendengar, lagu juga bisa menjadi ruang untuk merefleksikan perasaan dan merasa dipahami.

Pengalaman tersebut dapat dirasakan melalui “YE Live in Jakarta” yang akan digelar di Gelora Bung Karno pada 24 Oktober 2026. Konser ini menghadirkan Globe Stage dengan panggung 360 derajat, didukung tata cahaya, audio, dan efek piroteknik yang menyatukan musik dan visual dalam pengalaman pertunjukan yang imersif.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya