Kemenkes Catat 277.075 Kasus ISPA di 7 Provinsi Terdampak Asap Karhutla

Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lain yang dapat memicu ISPA dan penyakit saluran napas lainnya.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 14 Oktober 2026, 10:35 WIB
Warga mengendarai sepeda motor menerobos kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Sabtu (10/10/2026). (MUDA SAGALA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan ada 277.075 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) per 12 Oktober 2026. Dari angka itu, 62.400 kasus ISPA terjadi pada anak usia nol hingga 5 tahun.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu gangguan pernapasan. Sehingga bukan cuma ISPA tapi juga masalah pernapasan lain. 

"Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu ISPA, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma," kata Aji dalam keterangan tertulis diterima Rabu (14/10/2026).

Ia mengingatkan orangtua agar segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas, napas cepat, atau kesulitan menyusu maupun minum. Penggunaan nebulizer harus berdasarkan indikasi dan petunjuk tenaga medis. Sehingga bukan dilakukan secara mandiri tanpa arahan tenaga kesehatan.

Batasi Aktivitas di Luar Rumah

Untuk mengurangi paparan kabut asap, masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk.

Jika pun harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat disarankan menggunakan respirator N95 atau KN95 yang terpasang rapat untuk membantu menyaring partikel halus.

Apabila masker jenis tersebut tidak tersedia, masyarakat dapat menggunakan masker medis atau masker kain secara berlapis untuk membantu menyaring udara.

Namun, Aji menekankan bayi dan balita sebaiknya dilindungi dengan mengurangi paparan asap, bukan mengandalkan masker.

 

 

 

Kabut Asap Berkepanjangan Bisa Ganggu Kesehatan Mental Anak

Paparan kabut asap berkepanjangan tidak hanya berdampak pada kesehatan pernapasan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan mental akibat aktivitas sehari-hari yang terhambat. Dampak ini juga dapat dialami anak-anak.

Aji mengingatkan orangtua untuk menjaga rutinitas anak dan mengupayakan agar mereka tetap beraktivitas di dalam ruangan dengan kualitas udara yang lebih bersih. Jika ayah dan ibu mendapati ada perubahan perilaku anak, termasuk gangguan tidur dan perubahan pola makan sebaiknya dikonsultasikan. 

"Jika keluhan menetap dan mengganggu keseharian, segera konsultasikan dengan tenaga medis/kesehatan, jangan tunggu memburuk," kata Aji.

Di sisi penanganan, Aji mengatakan bahwa Kemenkes telah memperkuat pemantauan penyakit, pelayanan kesehatan, kesiapan fasilitas kesehatan, serta distribusi logistik bagi masyarakat terdampak.

Per 12 Oktober 2026, laporan mencatat mobilisasi 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan. Pemerintah pusat dan daerah juga telah mendistribusikan lebih dari 2,8 juta masker dari berbagai sumber.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya