Kabut Asap Tak Hanya Intai Pernapasan, Kesehatan Mata Juga Terancam

Selain ganggu pernapasa, polusi udara dan kabut asap juga mengintai kesehatan mata. Ini kondisi yang mungkin terjadi dan cara menanganinya.

Diterbitkan 05 November 2026, 09:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kabut asap dan polusi udara tidak hanya berdampak pada kesehatan paru-paru. Mata juga menjadi organ yang rentan karena permukaannya bersentuhan langsung dengan lingkungan luar.

Mengutip Columbia Asia, Rabu (4/11/2026), paparan partikel dan zat kimia di udara dapat memicu iritasi hingga gangguan kesehatan mata apabila terjadi berulang atau dalam waktu lama.

Dokter spesialis mata Columbia Asia, Dr. Siva Kumar Sundralingam, menjelaskan bahwa kabut asap terbentuk ketika konsentrasi partikel halus dan kasar, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, ozon, serta senyawa organik beracun menumpuk di udara yang stagnan.

Sumber polutan tersebut antara lain kebakaran hutan, pembakaran lahan pertanian, emisi kendaraan, dan aktivitas industri.

Polusi Udara Bisa Memicu Mata Merah hingga Penglihatan Kabur

Kornea dan konjungtiva mata hanya dilindungi lapisan tipis kelembapan yang disebut lapisan air mata (tear film). Bahan kimia di udara dapat larut ke dalam lapisan pelindung tersebut, sementara partikel halus bisa menempel pada permukaan mata.

Kondisi ini dapat memicu respons peradangan dan mengganggu keseimbangan lapisan air mata. Dampaknya, paparan kabut asap dalam jangka pendek dapat menimbulkan beberapa gangguan.

Salah satunya adalah konjungtivitis alergi dan kimia. Zat beracun di udara dapat mengiritasi konjungtiva, yakni selaput bening yang menutupi bagian putih mata.

Gejalanya meliputi mata merah, terasa terbakar, gatal, berair berlebihan, hingga sensasi seperti ada pasir di balik kelopak mata.

Polusi juga dapat mengganggu kestabilan lapisan air mata dan memicu mata kering. Partikel pencemar bisa merusak lapisan lipid atau minyak yang berfungsi memperlambat penguapan air mata.

Akibatnya, permukaan kornea menjadi lebih sensitif dan menimbulkan rasa perih serta penglihatan kabur sementara.

Selain itu, partikel halus dapat masuk ke bawah kelopak mata. Jika mata terus digosok, partikel tersebut berisiko menggores kornea dan meningkatkan kemungkinan terjadinya luka serta infeksi mikroba.

Paparan Jangka Panjang Berisiko Kronis

Dampak polusi udara tidak selalu berhenti pada iritasi sementara. Paparan berat yang berulang atau berlangsung lama juga dapat berkontribusi terhadap gangguan mata jangka panjang.

Beberapa kondisi yang disebutkan Siva antara lain penyakit mata kering kronis (dry eye disease), keratitis toksik, serta pterigium dan pinguekula.

Pada mata kering kronis, paparan polutan dapat memicu peradangan dan memengaruhi kelenjar meibom yang menghasilkan minyak untuk mencegah air mata menguap terlalu cepat.

Sementara itu, keratitis toksik dapat terjadi ketika paparan bahan kimia merusak sel epitel kornea, sehingga berpotensi menimbulkan jaringan parut dan menurunkan kejernihan penglihatan.

Satu hal lainnya, pterigium dan pinguekula merupakan pertumbuhan jaringan jinak pada konjungtiva.

Paparan iritan lingkungan dalam jangka panjang, terutama jika disertai paparan sinar ultraviolet, dapat berkontribusi terhadap kemunculannya. Pada kondisi tertentu, pterigium dapat meluas ke kornea dan mengganggu penglihatan.

Cara Melindungi Mata dari Kabut Asap

Untuk mengurangi risiko, masyarakat disarankan memantau indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI).

Ketika polusi mencapai tingkat tidak sehat, sebaiknya batasi aktivitas di luar ruangan, tutup pintu dan jendela, gunakan pembersih udara dengan sistem filtrasi yang sesuai, serta gunakan pelindung mata ketika berada di luar ruangan.

Seiring dengan yang disampaikan Kementerian Kesehatan melalui Instagram resminya, seseorang dapat melakukan sejumlah upaya ini jika berada di wilayah dengan asap atau polusi.

  1. Gunakan kacamata untuk melindungi mata dari paparan debu atau partikel.
  2. Bilas mata dengan air bersih mengalir.
  3. Gunakan tetes mata jika terasa kering untuk bantu mengembalikan kelembapan.
  4. Hindari paparan asap dan berpindah ke tempat yang udaranya lebih bersih.

Jika kondisi mata sudah mencapai tingkat kronis yang perlu penanganan serius, jangan tunda untuk periksa ke fasilitas kesehatan.