Liputan6.com, Jakarta - Membeli makanan dan minuman kemasan tidak cukup hanya dengan melihat klaim yang tercantum di bagian depan kemasan. Konsumen juga perlu membaca informasi nilai gizi untuk mengetahui kandungan kalori, gula, karbohidrat, lemak, hingga protein dalam produk yang akan dikonsumsi.
Dokter spesialis gizi klinik, Diana Sunardi mengingatkan masyarakat agar tidak hanya berpatokan pada klaim yang tertera di bagian depan kemasan. Menurutnya, informasi nilai gizi di bagian belakang justru perlu diperhatikan untuk mengetahui kandungan makanan secara lebih lengkap.
Advertisement
“Penting untuk cerdas memilih produk makanan. Jangan cuma membaca klaim 'Tinggi Gizi' di bagian depan kemasan. Baca label di belakangnya: ada berapa kalorinya, lemaknya, karbohidratnya, gulanya, dan proteinnya,” ujar Diana dalam seminar edukatif peringatan Hari Pangan Sedunia 2026 yang digelar Danone Indonesia bersama Universitas Pelita Harapan (UPH) di Tangerang, Kamis (15/10/2026).
Salah satu informasi yang sering terlewat saat membaca label makanan adalah takaran saji (serving size). Informasi ini menunjukkan jumlah makanan atau minuman yang menjadi acuan dalam perhitungan kandungan gizi pada kemasan.
Diana mencontohkan, produk minuman berukuran 1 liter bisa memiliki takaran saji hanya untuk 250 mililiter. Artinya, satu botol tersebut terdiri dari empat sajian.
Jika konsumen menghabiskan seluruh isi botol, jumlah kalori yang dikonsumsi juga perlu dihitung berdasarkan empat sajian, bukan hanya satu sajian.
“Kalau kita tidak hati-hati membacanya dan berpikir, 'Oh, ini cuma 250 kalori,' lalu kita minum habis satu botol, berarti kita sudah memasukkan 1.000 kalori,” kata Diana.
Karena itu, konsumen perlu memeriksa takaran saji dan volume produk sebelum mengonsumsinya. Dengan begitu, jumlah kalori dan gula yang masuk ke tubuh dapat diperkirakan dengan lebih tepat.
Jangan Hanya Melihat Total Kalori
Selain takaran saji, jumlah kalori juga perlu diperhatikan ketika memilih makanan dan minuman kemasan. Namun, menurut Diana, konsumen tidak cukup hanya melihat angka kalori tanpa memperhatikan kandungan zat gizi lainnya.
Informasi mengenai karbohidrat, gula, lemak, dan protein dapat membantu konsumen mengetahui komposisi gizi dalam suatu produk.
“Hubungan kalori total, karbohidrat, dan gula bisa dilihat pada kemasan. Kita harus perhatikan, dari total kalori tersebut, berapa persen karbohidrat dan gulanya” ujarnya.
Diana mengatakan, kelebihan berat badan tidak hanya disebabkan oleh konsumsi gula. Total asupan energi dari berbagai makanan juga perlu diperhitungkan.
“Berat badan berlebih tidak melulu dari gula. Total kalori keseluruhan, termasuk lemak, sering kali terlupakan,” tuturnya.
Karena itu, konsumen perlu melihat informasi nilai gizi secara menyeluruh. Selain memperhatikan jumlah kalori, kandungan zat gizi lainnya juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.
Periksa Kandungan Gula dalam Kemasan
Hal lain yang tidak kalah penting adalah kandungan gula, terutama pada produk seperti minuman manis, soda, dan makanan dengan tambahan gula.
Konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan asupan energi dan berkontribusi terhadap masalah kesehatan, termasuk obesitas dan gigi berlubang.
Gula sendiri merupakan bagian dari karbohidrat, yang berfungsi sebagai salah satu sumber energi bagi tubuh. Karena itu, menurut Diana, masyarakat tidak perlu menghindari seluruh jenis karbohidrat, tetapi perlu memperhatikan jenis dan jumlah yang dikonsumsi, terutama gula tambahan.
“Apakah kemudian kita harus menghindari karbohidrat sederhana? Itu juga tidak. Jadi, batasannya atau takarannya yang penting,” jelasnya.
Untuk membatasi konsumsi gula, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan asupan gula bebas kurang dari 10 persen dari total energi harian. Jumlah tersebut disarankan ditekan hingga di bawah 5 persen untuk memperoleh manfaat kesehatan tambahan.
Dengan memperhatikan kandungan gula pada label, konsumen dapat memperkirakan jumlah gula yang dikonsumsi dari satu sajian. Perhitungan tersebut juga perlu mempertimbangkan makanan dan minuman lain yang dikonsumsi sepanjang hari.