Liputan6.com, Jakarta - Orang tua mungkin khawatir ketika melihat anak lebih sering bermain sendiri daripada bergabung dengan teman-temannya. Namun, kebiasaan ini tidak selalu berarti anak kesepian atau kesulitan bersosialisasi.
Studi peneliti dari University of Georgia, Amerika Serikat, menemukan bahwa sebagian anak yang memilih bermain sendiri tetap merasa puas dengan hubungan pertemanan dan posisi mereka dalam kelompok sosial. Salah satu faktor yang berperan adalah apakah anak merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompok tersebut.
Advertisement
Melansir Euronews, Rabu (21/10/2026), penelitian ini melibatkan 473 siswa berusia 9–11 tahun dari sejumlah sekolah dasar. Peneliti meminta anak-anak mengidentifikasi teman sekelas yang cenderung bermain sendiri meskipun mampu bergaul dengan orang lain.
Anak-anak juga diminta menjelaskan seberapa penting bagi mereka untuk merasa menjadi bagian dari kelompok serta seberapa puas mereka terhadap hubungan pertemanan dan posisi sosial di kelas.
Anak Perlu Merasa Diterima
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang senang menghabiskan waktu sendiri dapat memiliki pengalaman sosial yang berbeda. Ada anak yang tetap ingin merasa diterima oleh kelompoknya, sementara yang lain menganggap keanggotaan dalam kelompok sosial tidak terlalu penting.
Anak yang tetap ingin merasa diterima umumnya merasa puas dengan hubungan pertemanan dan interaksi mereka dengan teman sekelas. Mereka bisa memilih bermain sendiri ketika menginginkannya, tetapi tetap memiliki hubungan sosial yang membuat mereka merasa diterima.
Psikolog sekolah dasar sekaligus penulis korespondensi penelitian, Rachael Pfanz, menjelaskan bahwa anak-anak ini memang lebih suka melakukan kegiatan sendiri daripada bermain bersama teman sebaya. Meski demikian, mereka tetap mampu menjalin hubungan baik dengan orang lain.
“Mereka lebih suka menyendiri dan melakukan hal-hal mereka sendiri daripada bermain dengan teman sebaya, tetapi mereka juga memiliki sisi lain yaitu bergaul dengan baik dengan orang lain,” ujar Pfanz.
Sebaliknya, anak yang tidak menganggap penting perasaan menjadi bagian dari kelompok cenderung menunjukkan pola hubungan sosial yang berbeda. Mereka dapat merasa kurang puas dengan hubungan bersama teman dekat maupun teman sekelas lainnya.
Peneliti menduga, anak yang berulang kali menolak ajakan bermain berpotensi semakin jarang diajak atau dilibatkan oleh teman-temannya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat mereka semakin terisolasi dan tidak puas dengan kehidupan sosialnya.
Profesor psikologi pendidikan di University of Georgia, Michele Lease, juga menekankan pentingnya interaksi sosial. Ia mengibaratkan interaksi sosial seperti olahraga yang perlu terus dilatih. Karena itu, menghindari situasi sosial dengan terus-menerus menolak ajakan dapat membawa dampak yang kurang baik.
Tak Perlu Langsung Memaksa Anak Bergabung
Temuan ini menjadi pengingat bagi orang tua agar tidak langsung menganggap anak yang bermain sendiri perlu didorong untuk bergabung dengan kelompok yang lebih besar atau ramai.
Pfanz menyarankan pendekatan yang lebih bertahap. Alih-alih langsung meminta anak bergabung dalam permainan di sekolah, orang tua dapat memperkenalkan mereka kepada kelompok kecil yang memiliki kegemaran atau kebiasaan serupa.
Menurut tim peneliti, ketika kelompok pertemanan semakin terbentuk, anak juga dapat belajar membedakan teman yang memang memilih menyendiri dan teman yang sebenarnya tersisih dari kelompok.
Dengan demikian, kebiasaan bermain sendiri perlu dipahami sesuai konteksnya. Orang tua dapat memperhatikan apakah anak tetap merasa diterima, memiliki hubungan pertemanan yang baik, dan nyaman dengan pilihannya.
Sebab, menyukai waktu sendiri tidak selalu berarti anak mengalami masalah sosial. Hal yang tak kalah penting adalah memastikan anak memiliki kesempatan membangun hubungan yang sehat dan merasa diterima ketika ingin terhubung dengan orang lain.