Trauma Lintas Generasi: Bagaimana Pola Asuh Mewariskan Luka Emosional

Trauma lintas generasi dapat memengaruhi pola asuh dan emosi anak. Kenali dampak serta cara memutusnya.

Liputan6.com, Jakarta - Pengalaman traumatis yang belum pulih dapat memengaruhi cara seseorang menjalin hubungan, mengelola emosi, hingga membesarkan anak. Dampaknya bahkan bisa berlanjut ke generasi berikutnya melalui pola asuh yang terus berulang. Fenomena ini dikenal sebagai trauma lintas generasi atau transgenerational trauma.

Peneliti epigenetik dari Monash University di Melbourne, Dr. Tara-Lyn Camilleri, menjelaskan bahwa dampak trauma dapat berlanjut ke generasi berikutnya melalui berbagai jalur, mulai dari biologis, psikologis, sosial, hingga budaya.

Secara psikologis, trauma dapat memengaruhi cara seseorang mengasuh anak, mengelola emosi, dan menciptakan lingkungan yang aman. Pengalaman tersebut kemudian dapat memengaruhi perkembangan anak.

Trauma juga dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan budaya, bahasa, sejarah, dan tanah leluhurnya. Menurut Camilleri, dampak ini dapat terus berlanjut jika tidak ada proses pemulihan yang membantu individu maupun komunitas membangun kembali hubungan tersebut, seperti dikutip dari RNZ.

Pengaruh Cara Merespons dan Pola Asuh

Psikolog Linda Maysha, M. Psi., menjelaskan bahwa dampak trauma dapat berlanjut melalui cara seseorang merespons situasi tertentu dan pola pengasuhan yang diwariskan dari orang tua kepada anak.

Pengalaman traumatis dapat membuat seseorang lebih mudah menganggap situasi tertentu sebagai ancaman. Respons seperti menghindar, berteriak, atau menutup telinga dan kepala dapat terbentuk sebagai mekanisme bertahan hidup.

Namun, bukan berarti anak akan mewarisi ketakutan yang sama persis dengan orang tuanya. Dampak trauma dapat muncul dalam bentuk respons yang berbeda. Selain faktor biologis yang masih perlu dipahami lebih lanjut, pola asuh juga dapat membuat dampak trauma terus berulang.

“Jadi buat teman-teman yang berencana punya anak, pulihkan dulu traumamu,” tutur Linda dalam siniar di platform YouTube QNA Projects.

Salah satu contohnya dapat dilihat pada keluarga yang memiliki pengalaman hidup dalam situasi perang. Seseorang yang tumbuh dalam kondisi penuh ancaman mungkin terbiasa menganggap bahwa mengekspresikan emosi adalah sesuatu yang berbahaya atau tidak memiliki tempat.

Jika pengalaman tersebut tidak dipulihkan, pola pikir itu dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara seseorang membesarkan anak. Ia mungkin melarang anak menunjukkan emosi, menyampaikan keinginan, atau mengekspresikan diri karena menganggap perilaku tersebut tidak aman.

Akibatnya, anak dapat tumbuh dengan rasa takut untuk menyampaikan pendapat atau menunjukkan kemampuannya. Pola serupa pun berpotensi berlanjut ketika anak tersebut kelak membesarkan generasi berikutnya.

“Itulah kenapa rantai trauma itu harus diputus,” tambah Linda.

Ia menekankan pentingnya pemulihan agar pola pengasuhan yang merugikan tidak terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Mengajarkan Anak Mengenali dan Mengelola Emosi

Salah satu cara mencegah pola pengasuhan yang tidak sehat adalah mengajarkan anak mengenali dan mengekspresikan emosi sejak dini.

Menurut Linda, mengekspresikan emosi bukanlah sesuatu yang harus dilarang. Anak perlu dibimbing untuk memahami perasaannya dan menemukan cara yang tepat untuk mengungkapkannya.

Pada usia dini, kemampuan anak mengatur emosi masih berkembang. Karena itu, mereka membutuhkan pendampingan orang dewasa melalui proses emotional co-regulation, yaitu membantu anak mengenali dan mengelola perasaannya.

Misalnya, ketika anak mengalami tantrum karena kelelahan setelah bermain, orang tua dapat membantu mengenali penyebabnya dan menawarkan waktu istirahat.

Jika anak merasa kewalahan dan ingin menangis, orang tua dapat mendampinginya tanpa memaksa anak segera berhenti. Apabila anak merasa lebih nyaman menyendiri sejenak, orang tua bisa memberikan ruang sambil memastikan anak tetap merasa aman.

Linda menegaskan bahwa cara mendampingi anak perlu disesuaikan dengan kebutuhannya. Anak tidak cukup hanya diminta untuk tenang, tetapi juga perlu dibimbing memahami perasaannya dan belajar cara menenangkan diri.