Liputan6.com, Jakarta - Kabut asap yang menyelimuti Singapura dalam beberapa waktu terakhir mengubah rutinitas warga, mulai dari kegiatan keluarga hingga olahraga. Memburuknya kualitas udara membuat sejumlah pelari beralih ke pusat kebugaran, sementara orang tua memilih taman bermain dalam ruangan demi menjaga kesehatan anak-anak mereka.
Melansir The Straits Times, Kamis (22/10/2026), Singapura mengalami periode kualitas udara buruk terpanjang sejak krisis kabut asap pada 2015. Hingga 17 Oktober, indeks standar polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) berada dalam kategori tidak sehat selama 13 hari berturut-turut.
Advertisement
Pelari Beralih ke Olahraga dalam Ruangan
Salah satu warga yang mengubah rutinitasnya adalah Elmer Loy Suan Sheng. Biasanya, ia berlari di luar ruangan hingga enam kali seminggu. Namun, sejak 9 Oktober, ia terpaksa menghentikan latihan di luar ruangan akibat memburuknya kualitas udara dan beralih menggunakan treadmill.
Pada 17 Oktober pagi, Loy mengikuti kegiatan lari dalam ruangan yang diselenggarakan X-Run Singapore di pusat perbelanjaan Marina Square. Menurutnya, berlari di dalam mal menjadi alternatif yang lebih menyenangkan dibandingkan hanya menggunakan treadmill.
“Lebih baik daripada berlari di treadmill,” kata Loy.
Sekitar 15 pelari mengikuti kegiatan tersebut dengan berlari mengelilingi lantai dua dan tiga mal. Mereka menempuh jarak antara 9 hingga 21 kilometer.
Pemimpin lari X-Run Singapore, Joseph Estrella, mengatakan kegiatan tersebut menjadi alternatif bagi pelari untuk melanjutkan persiapan maraton tanpa mengabaikan kesehatan.
Sementara itu, Singapore Runners Club membatalkan sejumlah sesi latihan sejak awal Oktober akibat kabut asap yang semakin memburuk.
Pendiri klub, Eugene Beh, mengatakan pihaknya memantau kadar PM2.5 setiap jam sebelum memutuskan apakah latihan tetap dilaksanakan. Ia menyarankan anggota klub untuk berolahraga di pusat kebugaran atau berlatih di rumah melalui yoga, peregangan, hingga latihan naik-turun tangga.
Kabut asap juga berdampak pada berbagai acara olahraga. Great Eastern Women's Run 2026, Singapore Half Marathon 2026, kegiatan lari Institute of Singapore Chartered Accountants, dan Garmin Run 2026 termasuk dalam sejumlah acara yang dibatalkan akibat memburuknya kualitas udara.
Orang Tua Khawatir terhadap Kesehatan Anak
Perubahan rutinitas juga dialami keluarga yang biasanya menghabiskan waktu di taman bermain atau kolam renang terbuka.
George, seorang ayah berusia 58 tahun, kini lebih sering membawa putranya yang berusia tujuh tahun ke taman bermain dalam ruangan. Ia khawatir kabut asap dapat memengaruhi kesehatan anaknya yang memiliki hidung sensitif.
“Saya bersyukur ada pilihan taman bermain dalam ruangan ini karena kabut asap sudah sangat buruk selama beberapa minggu terakhir,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa dirasakan Felicia Lim, 38 tahun. Ia membatasi aktivitas luar ruangan putrinya yang berusia delapan tahun karena anak tersebut memiliki asma dan berisiko mengalami sesak napas jika terlalu lama terpapar kabut asap.
“Putri saya bisa mengalami sesak napas jika terlalu lama berada di luar saat kabut asap, jadi sekarang kami memilih taman bermain dalam ruangan agar dia tetap bisa bermain,” kata Lim.
Pada 17 Oktober, seluruh fasilitas olahraga ActiveSG kembali beroperasi seiring sedikit membaiknya kondisi kabut asap.
Sport Singapore menjelaskan bahwa perkiraan PSI digunakan untuk merencanakan kegiatan pada hari berikutnya. Sementara itu, pengukuran PM2.5 setiap jam menjadi acuan untuk menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kualitas udara setempat.
Kondisi ini menunjukkan bagaimana kabut asap dapat mengganggu rutinitas sehari-hari, terutama olahraga luar ruangan dan aktivitas anak-anak. Pemantauan kualitas udara pun menjadi penting untuk menentukan apakah kegiatan di luar ruangan masih aman dilakukan atau perlu dialihkan ke dalam ruangan.