Liputan6.com, Jakarta - Kabut asap tidak hanya mengganggu pernapasan, tapi juga dapat berdampak pada kesehatan kulit. Paparan polusi udara berpotensi membuat kulit kering, kemerahan, iritasi, hingga memperburuk jerawat dan eksim. Salah satu bagian kulit yang terdampak adalah skin barrier atau lapisan pelindung kulit.
Dokter estetika sekaligus pendiri The Skin Longevity Clinic, Dr. Rachel Ho, menjelaskan bahwa partikel halus di udara, seperti PM2.5 dan PM10, dapat membawa bahan kimia yang memicu reaksi pada sel kulit.
Advertisement
"Ketika partikel-partikel ini menempel pada kulit, mereka berinteraksi dengan sel kulit dan mengaktifkan reseptor seluler yang disebut aryl hydrocarbon receptor (AhR)," kata Ho dikutip dari Channel News Asia pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Interaksi tersebut dapat memicu stres oksidatif, yaitu kondisi ketika molekul tidak stabil melebihi kemampuan pertahanan antioksidan alami kulit. Dalam jangka panjang, paparan polusi juga dapat merusak kolagen dan elastin serta melemahkan skin barrier.
Akibatnya, kulit lebih mudah kehilangan kelembapan sehingga terasa kering, kencang, kemerahan, dan sensitif.
Cara Melindungi Skin Barrier Saat Kabut Asap
Menurut Ho, salah satu cara menjaga kesehatan kulit saat kabut asap adalah menyederhanakan rutinitas perawatan kulit (skincare). Fokuslah pada pembersihan yang lembut, menjaga kelembapan, dan memperkuat skin barrier.
Gunakan pembersih wajah yang lembut dan pelembap sesuai kondisi kulit. Ceramide dapat membantu memperkuat lapisan pelindung kulit, sedangkan asam hialuronat (hyaluronic acid) membantu menjaga kelembapan.
Niacinamide, salah satu bentuk vitamin B3, juga dapat mendukung fungsi skin barrier dan membantu meredakan peradangan. Namun, efektivitasnya dalam mencegah kerusakan kulit akibat kabut asap pada manusia masih belum dapat dipastikan.
Jangan lupa menggunakan tabir surya pada siang hari. Meski tidak secara langsung melindungi kulit dari polutan udara, tabir surya dapat membantu mengurangi pembentukan molekul pemicu stres oksidatif akibat paparan sinar ultraviolet (UV).
Ho juga mengingatkan agar tidak mencuci wajah secara berlebihan. Bagi kebanyakan orang, membersihkan wajah dua kali sehari dan setelah berkeringat banyak sudah cukup. Terlalu sering mencuci wajah dapat menghilangkan minyak alami kulit dan memperburuk iritasi.
Hindari Eksfoliasi Berlebihan
Saat kulit sensitif akibat kabut asap, penggunaan produk eksfoliasi secara berlebihan justru dapat memperburuk kondisi skin barrier.
"Eksfoliasi berlebihan dapat merusak lapisan pelindung kulit secara fisik jika Anda menggunakan produk scrub, asam berkonsentrasi tinggi, atau spicule," ujar Ho.
Oleh sebab itu, hindari penggunaan produk eksfoliasi yang keras ketika kulit sedang iritasi. Jika produk berbahan aktif menimbulkan rasa perih atau kemerahan, pertimbangkan untuk menghentikan sementara penggunaannya.
Namun, jika menggunakan obat yang diresepkan dokter, konsultasikan terlebih dahulu sebelum mengubah pengobatan.
Kurangi Paparan Polusi Udara
Perlindungan kulit tidak cukup hanya mengandalkan skincare. Mengurangi paparan polusi udara juga penting untuk menjaga kesehatan kulit.
Ho menyarankan penggunaan alat pemurni udara (air purifier) dengan filter HEPA jika memungkinkan. Membersihkan lantai dengan mengepel dan mengelap permukaan perabot menggunakan kain lembap juga dapat membantu mengurangi debu yang beterbangan kembali.
Jika kulit terus terasa kering, gatal, atau mengelupas, segera konsultasikan dengan dokter. Hal yang sama berlaku jika jerawat atau eksim semakin parah.
Meski kabut asap tidak selalu dapat dihindari, menjaga rutinitas perawatan kulit tetap sederhana, mempertahankan kelembapan, dan memperkuat skin barrier dapat membantu mengurangi risiko iritasi akibat paparan polusi udara.