Liputan6.com, Jakarta - Perimenopause dan menopause kerap dipandang sebagai fase yang menandai perubahan besar dalam kehidupan perempuan. Pada fase ini perempuan mengalami perubahan hormonal sehingga memengaruhi fisik, emosional, dan kepercayaan diri yang membuat perempuan merasa berbeda.
Namun, dengan informasi yang tepat dan dukungan yang memadai perempuan bisa melihat bahwa fase tersebut merupakan babak baru untuk terus bertumbuh. Jadi bukan akhir perjalanan seorang perempuan seperti disampaikan founder gerakan komunitas untuk perempuan yang menghadapi fase paruh baya, We Pause We Rise, Mia Lukmanto.
Advertisement
Menurut Mia, ketika seseorang memasuki usia 40-an tetap berhak untuk memiliki mimpi, keinginan dan tujuan hidup tertentu. Bukan malah menarik diri.
“We Pause We Rise ingin mengubah cara perempuan memandang perimenopause dan menopause. Fase ini bukanlah akhir dari perjalanan seorang perempuan, melainkan awal dari babak baru yang tetap penuh potensi, kekuatan, dan kesempatan untuk bertumbuh," tutur Mia.
Berdasarkan hal itu, We Pause We Rise menggelar acara Rise & Bloom untuk berbagi informasi mengenai fase perimenopause dan menopause dengan menghadirkan berbagai pakar bertepatan dengan Hari Menopause Sedunia 18 Oktober lalu. Pakar dan praktisi di bidangnya hadir dalam gelaran tersebut mulai daari dokter gizi, psikolog, seksolog hingga dokter obstetri dan ginekologi.
"Kami percaya bahwa ketika perempuan memiliki akses terhadap informasi yang tepat dan dukungan dari komunitasnya, mereka dapat menjalani perubahan saat perimenopause dan menopause ini dengan lebih percaya diri dan lebih berdaya," kata Mia di Hallf Patiunus, Jakarta.
Memahami Tubuh Saat Masuk Perimenopause dan Menopause
Pemahaman mengenai perubahan tubuh yang terjadi saat perimenopause dan menopause itu penting. Sehingga perempuan bisa tahu pilihan penanganannya.
Perimenopause merupakan masa transisi menuju menopause yang ditandai dengan perubahan hormonal. Pada fase tersebut, perempuan dapat mengalami berbagai perubahan fisik dan emosional yang berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari.
Setelah perimenopause perempuan mengalami menopause yang ditandai dengan siklus menstruasi yang secara permanen dan ditandai dengan tidak adanya haid selama 12 bulan berturut-turut. Pada fase ini juga perempuan yang membutuhkan pemahaman mengenai perubahan tubuh, gejala yang mungkin muncul, serta pilihan penanganan sesuai kondisi masing-masing.
"Mengenai pilihan penanganan, termasuk terapi penggantian hormon (Hormone Replacement Therapy atau HRT)," kata dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Dinda Derdmeisya yang juga Chief Medical Officer of Magnolia Collective Wellness Indonesia.