Liputan6.com, Jakarta - Dalam sebuah forum ilmiah psikiatri, saya mengikuti paparan menarik tentang persoalan yang semakin relevan bagi orang tua, guru, dan tenaga kesehatan: mengapa sebagian anak menunjukkan perilaku menentang, agresif, bahkan destruktif, sementara sebagian lainnya mampu mengendalikan diri ketika menghadapi situasi yang sama?
Pertanyaan ini dibahas dalam Regional Scientific Meeting PDSKJI wilayah Jakarta dan Banten melalui presentasi Dr. dr. Gst. Ayu Maharathih, Sp.KJ, Subsp. A.R(K), M.Kes., berjudul Conduct Problem and Disruptive Behavior: What Predicts Escalation?
Advertisement
Satu hal penting yang saya tangkap dari pemaparan tersebut adalah bahwa perilaku agresif tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan anak nakal atau kurang disiplin. Ada interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosial yang memengaruhi cara seorang anak bereaksi terhadap lingkungannya.
Bukan Sekadar Anak Nakal
Ketika seorang anak mudah marah, melawan orang tua, menyakiti teman, atau berulang kali melanggar aturan, respons yang sering muncul adalah memarahinya, menghukumnya, atau memberinya label negatif.
Padahal, sebelum menentukan cara penanganan, kita perlu memahami faktor yang mendasari perilaku tersebut.
Dalam pendekatan biopsikososial, terdapat tiga kelompok faktor yang perlu diperhatikan.
Pertama, faktor biologis, termasuk perkembangan sistem saraf, kemampuan mengendalikan impuls, karakteristik temperamen, dan kerentanan genetik.
Kedua, faktor psikologis, seperti kemampuan mengatur emosi, mengendalikan kemarahan, memahami situasi sosial, serta mempertimbangkan konsekuensi sebelum bertindak.
Ketiga, faktor sosial, meliputi pola pengasuhan, hubungan dalam keluarga, pengaruh teman sebaya, lingkungan sekolah, dan kondisi sosial ekonomi.
Ketiga faktor ini tidak bekerja secara terpisah. Anak yang mengalami kesulitan mengendalikan impuls, misalnya, mungkin lebih rentan menunjukkan perilaku agresif ketika menghadapi perundungan, konflik keluarga, atau lingkungan yang penuh tekanan.
Namun, kerentanan bukanlah kepastian. Tidak semua anak dengan faktor risiko biologis atau pengalaman buruk akan berkembang menjadi agresif.
Dua Karakteristik Perilaku Agresif yang Perlu Dibedakan
Salah satu poin menarik dalam presentasi tersebut adalah perbedaan dua karakteristik yang dapat ditemukan pada anak dengan masalah perilaku.
Pertama, karakteristik callous-unemotional.
Anak dengan karakteristik ini dapat menunjukkan empati yang rendah, kurang peduli terhadap perasaan orang lain, dan respons yang relatif rendah terhadap hukuman.
Dalam kondisi tertentu, karakteristik tersebut berkaitan dengan risiko perilaku antisosial yang lebih menetap dan agresi yang direncanakan.
Anak mungkin memahami bahwa tindakannya menyakiti orang lain, tetapi tidak menunjukkan respons emosional atau rasa bersalah sebagaimana yang diharapkan.
Tentu saja, karakteristik ini tidak boleh dijadikan dasar untuk langsung memberikan label kepada anak. Penilaian klinis perlu mempertimbangkan usia, tahap perkembangan, pola perilaku dalam jangka waktu tertentu, dan konteks kehidupannya.
Kedua, karakteristik iritabel atau reaktif.
Pada kelompok ini, agresi lebih sering muncul sebagai reaksi terhadap kemarahan, frustrasi, atau perasaan terancam.
Contohnya sederhana. Seorang anak tidak sengaja tersenggol oleh temannya. Anak lain mungkin menganggapnya sebagai kejadian biasa. Namun, anak yang cenderung menafsirkan situasi sosial secara negatif dapat menganggap tindakan tersebut sebagai penghinaan yang disengaja.
Ia kemudian marah, merasa diserang, dan membalas dengan kekerasan.
Dalam psikologi, kecenderungan menafsirkan tindakan yang ambigu sebagai sesuatu yang bermusuhan dikenal sebagai hostile attribution bias.
Perbedaan kedua karakteristik ini penting karena pendekatan penanganannya tidak selalu sama. Anak yang bereaksi impulsif akibat kesulitan mengendalikan emosi membutuhkan pendekatan yang berbeda dari anak yang menunjukkan pola agresi terencana dan kurang peduli terhadap penderitaan orang lain.
Apa yang Terjadi di Dalam Otak Anak?
Perkembangan otak turut memengaruhi kemampuan anak dalam mengendalikan perilaku.
Korteks prefrontal, bagian otak yang berperan dalam fungsi eksekutif, membantu seseorang mempertimbangkan konsekuensi, menghambat respons impulsif, merencanakan tindakan, dan mengatur perilaku.
Sementara itu, amigdala merupakan bagian dari sistem saraf yang terlibat dalam pemrosesan emosi, termasuk respons terhadap ancaman.
Keduanya bekerja bersama dalam jaringan otak yang membantu seseorang mengenali situasi, mengatur respons emosional, dan menentukan tindakan yang sesuai.
Pada sebagian anak dengan masalah perilaku, penelitian menemukan perbedaan fungsi atau konektivitas pada jaringan tersebut. Perbedaan ini dapat berkaitan dengan kesulitan mengendalikan impuls, mengatur emosi, atau menilai ancaman sosial.
Akan tetapi, kita perlu berhati-hati dalam menafsirkannya. Tidak ada satu gambaran struktur otak yang dapat digunakan untuk memastikan bahwa seorang anak akan menjadi agresif.
Demikian pula, pembahasan mengenai serotonin, dopamin, kortisol, dan sistem respons stres tidak berarti bahwa perilaku agresif semata-mata disebabkan oleh ketidakseimbangan satu zat kimia di otak.
Perilaku manusia merupakan hasil interaksi berbagai sistem biologis dengan pengalaman psikologis dan lingkungan sosial.
Dengan kata lain, ilmu saraf membantu kita memahami kerentanan, tetapi tidak dapat digunakan untuk meramalkan masa depan seorang anak secara pasti.
Ketika Lingkungan Memperburuk Keadaan
Faktor lingkungan dapat memperbesar atau mengurangi risiko munculnya masalah perilaku.
Pengalaman buruk pada masa kanak-kanak, kekerasan, perundungan, pola pengasuhan yang keras, dan konflik keluarga yang berulang dapat memengaruhi perkembangan kemampuan anak dalam mengatur emosi.
Bayangkan seorang anak yang setiap kali melakukan kesalahan langsung dimarahi, dipermalukan, atau dipukul. Anak tersebut mungkin belajar bahwa konflik diselesaikan melalui ancaman dan kekuatan, bukan melalui komunikasi.
Di sekolah, perundungan juga dapat menciptakan lingkaran masalah. Anak yang merasa terus-menerus terancam mungkin menjadi semakin waspada terhadap lingkungan, mudah tersinggung, dan lebih cepat bereaksi secara agresif.
Dalam situasi tertentu, perilaku agresif kemudian memicu penolakan dari teman sebaya, hukuman berulang, dan konflik yang semakin besar.
Lingkaran tersebut dapat terus berlanjut jika tidak ada intervensi yang tepat.
Namun, pengalaman buruk tidak otomatis membuat anak menjadi agresif. Hubungan dengan orang dewasa yang suportif, lingkungan sekolah yang aman, dan intervensi psikologis yang sesuai dapat menjadi faktor pelindung.
Bisakah Eskalasi Perilaku Dicegah?
Jawabannya, banyak kasus dapat ditangani melalui intervensi yang tepat, terutama jika masalah dikenali sejak dini.
Dalam presentasi tersebut, pendekatan pencegahan dijelaskan melalui tiga tingkatan.
1. Intervensi universal
Pendekatan ini ditujukan kepada semua anak, bukan hanya mereka yang sudah menunjukkan masalah perilaku.
Contohnya adalah menciptakan lingkungan sekolah yang positif, membangun komunikasi yang sehat, mengajarkan keterampilan sosial, serta menerapkan disiplin tanpa kekerasan.
Orang tua juga perlu memberikan batasan yang jelas dan konsisten tanpa mempermalukan atau menyakiti anak.
2. Intervensi terarah
Pendekatan ini diberikan kepada anak yang mulai menunjukkan kesulitan mengendalikan emosi, perilaku menentang yang menetap, atau masalah dalam hubungan dengan keluarga dan teman sebaya.
Salah satu pendekatannya adalah Parent Management Training (PMT), yaitu pelatihan bagi orang tua untuk mengelola perilaku anak secara lebih efektif.
Ada pula Parent-Child Interaction Therapy (PCIT), yaitu pendekatan terapi yang membantu memperbaiki interaksi antara orang tua dan anak.
Jika ditemukan kondisi penyerta, seperti ADHD atau gangguan kesehatan mental lainnya, kondisi tersebut perlu dinilai dan ditangani secara tepat.
3. Intervensi intensif
Anak yang menunjukkan perilaku agresif berat, kekerasan berulang, atau risiko keselamatan yang nyata membutuhkan penilaian lebih mendalam.
Penanganannya dapat melibatkan psikiater anak dan remaja, psikolog klinis, keluarga, sekolah, serta tenaga profesional lain sesuai kebutuhan.
Dalam situasi dengan risiko kekerasan yang signifikan, rencana keselamatan perlu disusun dan risiko dievaluasi secara berkala.
Pendekatan komprehensif menjadi penting karena masalah perilaku berat jarang dapat diselesaikan hanya dengan satu jenis intervensi.
Orang Tua dan Guru Perlu Mengubah Pertanyaan
Menurut saya, salah satu pesan terpenting dari diskusi ilmiah ini adalah perlunya mengubah cara kita memandang anak dengan masalah perilaku.
Daripada hanya bertanya, “Mengapa anak ini nakal sekali?”, kita perlu mulai bertanya, “Apa yang membuat anak ini bereaksi seperti itu, dan bantuan apa yang dibutuhkannya?”
Perubahan cara pandang tersebut bukan berarti membenarkan kekerasan atau membiarkan anak melanggar aturan.
Anak tetap membutuhkan batasan, konsekuensi yang masuk akal, dan tanggung jawab atas perilakunya. Namun, disiplin harus disertai pemahaman mengenai tahap perkembangan, kemampuan mengatur emosi, serta kondisi psikologis anak.
Kita juga perlu memperhatikan tanda-tanda yang patut dievaluasi lebih lanjut, seperti agresi yang semakin sering atau berat, kekerasan berulang, kesulitan mengendalikan impuls, perilaku menyakiti orang lain, serta gangguan fungsi di rumah atau sekolah.
Semakin dini masalah dikenali, semakin besar kesempatan untuk memberikan bantuan yang sesuai sebelum pola perilaku menjadi semakin menetap.
Memahami Anak Sebelum Terlambat
Presentasi Dr. Ayu Maharathih mengingatkan kita bahwa perilaku destruktif pada anak dan remaja merupakan persoalan yang perlu ditangani secara serius, tetapi bukan dengan stigma.
Tidak semua anak yang melawan orang tua akan berkembang menjadi antisosial. Tidak semua anak yang pernah melakukan kekerasan akan menjadi pelaku kekerasan ketika dewasa.
Sebaliknya, kita juga tidak boleh mengabaikan perilaku agresif yang terus berulang dengan anggapan bahwa anak akan berubah sendiri seiring bertambahnya usia.
Yang diperlukan adalah kemampuan mengenali pola perilaku, memahami faktor risikonya, mengidentifikasi faktor pelindung, dan memberikan intervensi berdasarkan kebutuhan individual.
Sebagai psikiater, saya melihat bahwa pendekatan biopsikososial memberikan kerangka yang berguna untuk memahami persoalan ini. Otak, emosi, keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial saling berinteraksi dalam perkembangan seorang anak.
Anak yang menunjukkan perilaku bermasalah tidak selalu membutuhkan hukuman yang lebih keras. Sebagian dari mereka membutuhkan orang dewasa yang mampu memahami masalahnya, menetapkan batasan secara konsisten, dan membantu mereka belajar mengendalikan diri.
Pada akhirnya, mencegah eskalasi perilaku bukan hanya tentang menghentikan tindakan agresif hari ini. Upaya ini juga bertujuan membantu anak mengembangkan kemampuan mengelola emosi, membangun hubungan yang sehat, dan mengambil keputusan yang lebih baik ketika menghadapi konflik di masa depan.
Catatan dari Regional Scientific Meeting PDSKJI Jakarta–Banten
Oleh: dr. Andri, Sp.KJ, FAPM