Liputan6.com, Jakarta - Polusi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya memicu gangguan pernapasan. Paparan asap juga berpotensi mengganggu fungsi paru-paru dalam jangka panjang, meningkatkan risiko infeksi, hingga memengaruhi perkembangan paru anak.
Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Respirologi Indonesia (PB PERPARI), dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, Sp.PD, Subsp.PMK(K), KIC menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung berbagai polutan berbahaya, mulai dari partikel halus hingga gas iritan yang dapat merusak saluran pernapasan.
Advertisement
Salah satu polutan yang perlu diwaspadai adalah particulate matter 2,5 (PM2,5), yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat menembus hingga bagian terdalam paru-paru, yaitu alveolus.
"Partikel ini halus sehingga kemudian dia bisa menerobos masuk sampai ke saluran napas paling jauh yang namanya bronkiolus dan alveolus," ujar Ceva.
Selain PM2,5, asap karhutla juga mengandung partikel berukuran lebih besar, seperti PM10, serta berbagai senyawa kimia. Beberapa di antaranya adalah karbon monoksida, polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), dan akrolein.
Partikel yang lebih besar cenderung mengendap di saluran pernapasan atas dan dapat menyebabkan iritasi hidung serta tenggorokan. Sementara itu, partikel halus dapat masuk lebih dalam dan memicu peradangan pada jaringan paru-paru.
Asap Karhutla Bisa Memperburuk Asma dan PPOK
Menurut Ceva, ketika PM2,5 mencapai alveolus, partikel tersebut akan ditangkap oleh makrofag, yaitu sel yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh. Proses ini dapat memicu pelepasan zat peradangan dan meningkatkan pembentukan reactive oxygen species (ROS), yang berpotensi merusak sel.
Paparan asap juga dapat mengganggu fungsi silia atau rambut-rambut halus di saluran pernapasan. Padahal, silia membantu mengeluarkan partikel asing dan kuman dari saluran napas.
"Dalam 30 menit inhalasi saja, kita bisa lumpuh saluran silia atau bulu getar itu 2–3 hari, sehingga risiko infeksi akan muncul pada 5–10 hari berikutnya," ujarnya.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami batuk, tenggorokan nyeri, mata perih, hingga sesak napas. Pada orang dengan riwayat asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), paparan asap dapat memperburuk gejala dan memicu kekambuhan.
Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk poliklinik, rumah sakit, dan instalasi gawat darurat.
Anak dan Ibu Hamil Termasuk Kelompok Rentan
Ceva menekankan bahwa anak-anak membutuhkan perlindungan khusus karena paru-paru mereka masih berkembang. Paparan asap berulang berpotensi mengganggu perkembangan tersebut sehingga kapasitas paru-paru saat dewasa tidak optimal.
"Bukan tidak mungkin orangnya akan normal-normal saja, sehat, beraktivitas, tetapi kapasitas maksimalnya tidak akan optimal," ujarnya.
Ibu hamil juga perlu mendapat perhatian. Paparan karbon monoksida dapat mengganggu kemampuan darah membawa oksigen sehingga berpotensi mengurangi pasokan oksigen kepada janin.
Selain anak-anak dan ibu hamil, lansia serta orang dengan penyakit paru sebelumnya juga lebih rentan mengalami dampak kesehatan akibat asap karhutla.
Cara Mengurangi Risiko Paparan Asap Karhutla
Untuk mengurangi dampak polusi asap karhutla, Ceva mengimbau masyarakat memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat dapat menggunakan masker N95 yang terpasang dengan benar. Namun, masker tersebut menyaring partikel, bukan gas berbahaya.
Masyarakat juga dianjurkan mengoptimalkan penyaringan udara di dalam rumah jika memungkinkan. Bagi penderita asma dan PPOK, obat yang telah diresepkan dokter perlu tetap digunakan sesuai anjuran.
Apabila mengalami batuk berkepanjangan atau sesak napas, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
Menurut Ceva, upaya perlindungan juga perlu dilakukan melalui kesiapsiagaan masyarakat, edukasi rutin, pelatihan tenaga kesehatan, serta penyediaan sarana dan anggaran untuk menghadapi karhutla.