Liputan6.com, Jakarta - Mendapatkan diagnosis kanker payudara bukanlah hal yang mudah bagi pasien. Selain harus menerima kondisi dan mempersiapkan pengobatan, pasien juga bisa menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar.
Pengalaman tersebut dirasakan penyintas kanker payudara (breast cancer survivor), Flavia Sungkit. Ia mengaku kondisi emosionalnya sempat naik turun setelah menerima diagnosis, terutama karena tidak pernah menyangka akan mengalami penyakit tersebut.
Advertisement
“Jadi, di awal proses diagnosis itu benar-benar sangat berat sih, karena tidak menyangka,” tutur Flavia dalam acara Talkshow Bulan Kesadaran Kanker Payudara yang digelar MRCCC Siloam Semanggi di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Menurut Flavia, kanker bukan hanya menjadi tantangan bagi kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental pasien. Karena itu, penanganan medis perlu dipercayakan kepada dokter dan tenaga kesehatan yang kompeten, sementara pasien juga membutuhkan dukungan untuk menjaga kesiapan mental selama menjalani pengobatan.
Tantangan lainnya muncul ketika orang-orang di sekitar pasien memberikan penilaian berdasarkan gaya hidup atau pola makan tanpa memahami kondisi medisnya secara menyeluruh.
“Karena up and down, dan di awal rasanya orang-orang semua jadi (kayak) dokter, ‘kamu pasti gaya hidupmu ini deh, pasti kamu makan A, pasti kamu makan B’ dan itu rasanya berisik banget,” ungkap Flavia.
Ia menilai, komentar semacam itu justru dapat membuat pasien merasa dihakimi ketika sedang berusaha menerima diagnosis. Padahal, pasien membutuhkan ketenangan dan dukungan untuk menghadapi proses pengobatan.
Menurut Flavia, penjelasan dokter yang menenangkan dan memberikan pemahaman mengenai pilihan penanganan dapat membantu pasien menghadapi situasi tersebut dengan lebih baik.
Dukungan Sesama Penyintas Kanker Beri Perspektif Berbeda
Selain dukungan keluarga dan teman, komunitas sesama penyintas kanker juga dapat menjadi sumber dukungan emosional bagi pasien.
Flavia mengatakan, orang-orang yang pernah atau sedang menjalani pengalaman serupa memiliki pemahaman berbeda ketika mendengarkan kekhawatiran pasien. Pengalaman bersama membuat mereka lebih memahami tantangan yang dihadapi selama proses pengobatan.
“Support keluarga itu penting, support teman itu penting. Tapi memang rasanya beda sih ketika kita dapat support dari sesama survivor. Karena mereka mengalami journey yang sama, mereka lebih paham,” tuturnya.
Mengelola Ketakutan saat Menjalani Pengobatan
Flavia juga menekankan pentingnya mengelola pikiran dan membangun ketahanan mental setelah menerima diagnosis kanker payudara.
Menurutnya, perkembangan teknologi medis telah menyediakan beragam pilihan penanganan. Namun, pasien tetap perlu menghadapi ketakutan untuk memulai pengobatan.
“Kalau di awal tuh saya sugesti diri saya, bahwa saya lebih takut ketika itu tidak tertangani, dan takutnya menyebar ke mana-mana daripada pengobatan itu sendiri,” ujarnya.
Flavia mengakui, menjalani rangkaian pengobatan selama hampir satu tahun bukanlah pengalaman yang mudah. Meski demikian, setelah melewati proses tersebut, ia menyadari bahwa fase paling berat baginya justru ketika pertama kali menerima diagnosis kanker payudara.
Karena itu, penyintas yang juga seorang ibu ini menekankan pentingnya membekali diri dengan informasi yang tepat setelah menerima diagnosis kanker.
Pasien perlu menyikapi beragam informasi dan saran pengobatan secara bijak, serta berkonsultasi dengan tenaga medis yang kompeten sebelum menentukan langkah penanganan. Dengan begitu, keputusan yang diambil dapat disesuaikan dengan kondisi medis dan kebutuhan masing-masing pasien.