Cychlorphine Jadi Ancaman Baru, Kenali Efeknya bagi Kesehatan Tubuh

Cychlorphine menjadi ancaman narkoba baru di AS. Kenali efek, risiko, dan bahayanya bagi kesehatan tubuh.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 02 November 2026, 14:40 WIB
Cychlorphine adalah opioid sintetis baru yang dikaitkan dengan sedikitnya 122 kematian di Amerika Serikat sejak Juli 2025. Zat ini berpotensi menyebabkan depresi pernapasan hingga overdosis yang fatal. (dok. Romina Farías/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Kemunculan cychlorphine, opioid sintetis jenis baru, mulai menjadi perhatian para ahli kesehatan di Amerika Serikat (AS). Zat ini dikaitkan dengan sedikitnya 122 kematian sejak Juli 2025.

Pada April 2026, Kantor Kebijakan Pengendalian Narkoba Nasional AS (Office of National Drug Control Policy) menetapkan cychlorphine sebagai salah satu ancaman narkoba baru yang perlu diwaspadai.

Kekhawatiran tersebut semakin meningkat setelah Badan Penegakan Narkoba AS (Drug Enforcement Administration/DEA) menetapkan cychlorphine untuk sementara sebagai narkoba Golongan I (Schedule I) pada Agustus 2026. Penetapan ini membuat peredaran dan penggunaannya ilegal di Amerika Serikat.

Meski demikian, para ahli memperkirakan cychlorphine tidak akan menyebar seluas atau menjadi ancaman sebesar jenis opioid ilegal lainnya. Namun, potensi bahayanya bagi kesehatan tetap perlu diwaspadai.

Lantas, apa itu cychlorphine dan bagaimana efeknya bagi tubuh?

Mengenal Cychlorphine, Opioid Sintetis Baru

Ilmuwan yang meneliti narkoba ilegal di University of North Carolina at Chapel Hill, Dr. Nabarun Dasgupta, menjelaskan, cychlorphine termasuk dalam kelompok opioid baru bernama orphine. Kelompok obat ini sebelumnya belum pernah digunakan untuk keperluan medis.

Menurut Dasgupta, kasus cychlorphine di Amerika Serikat masih tergolong sporadis atau jarang ditemukan. Jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan fentanyl, dikutip dari CNN pada Senin, 2 November 2026.

Para peneliti University of North Carolina pertama kali mendeteksi cychlorphine di AS pada Agustus 2024. Sementara itu, peneliti di Eropa telah menemukan kelompok obat orphine sejak 2019.

Kemunculan cychlorphine juga berkaitan dengan pelarangan berbagai analog fentanyl di sejumlah negara. Kondisi tersebut mendorong pasar narkoba ilegal mengembangkan zat baru yang tidak berkaitan dengan fentanyl, tetapi memiliki efek serupa.

"Jadi, kemunculannya sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan," kata Dasgupta.

Direktur Toksikologi dan Kimia di Center for Forensic Science Research and Education, Dr. Alex Krotulski, mengatakan cychlorphine telah ditemukan di sekitar 25 negara bagian di AS.

Zat ini ditemukan dalam bentuk bubuk maupun pil. Di sejumlah wilayah, cychlorphine juga dicampurkan dengan fentanyl dan heroin.

Efek Cychlorphine bagi Kesehatan Tubuh

Krotulski menjelaskan, hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa cychlorphine memiliki potensi lebih kuat dibandingkan fentanyl. Temuan tersebut juga sejalan dengan efek yang diamati peneliti pada manusia.

Dengan potensi tersebut, paparan dalam jumlah kecil saja dapat menimbulkan efek yang besar pada tubuh.

Direktur Layanan Penanganan Nyeri Komprehensif di Vanderbilt University, Dr. Shravani Durbhakula, menjelaskan, cychlorphine bekerja pada reseptor opioid di dalam tubuh.

Salah satu dampak paling berbahaya adalah depresi pernapasan. Kondisi ini terjadi ketika pernapasan seseorang melambat, bahkan dapat berhenti sepenuhnya.

Selain itu, paparan cychlorphine dapat menyebabkan:

  • Sedasi atau penurunan kesadaran.
  • Euforia atau perasaan senang berlebihan.
  • Penurunan respons terhadap lingkungan sekitar.
  • Tidak merespons rangsangan.

Gejala overdosis opioid akibat cychlorphine dapat ditangani menggunakan nalokson, obat yang berfungsi membalikkan efek overdosis opioid dan dikenal dengan nama Narcan.

Durbhakula mengatakan, dalam sejumlah kasus yang ditemuinya, cychlorphine sering dicampurkan dengan zat lain. Bahkan, zat ini ditemukan dalam obat palsu yang menyerupai Xanax dan OxyContin.

"Zat ini juga ditemukan dalam bentuk tunggal, sehingga bukan berarti selalu dicampurkan dengan zat lain. Namun, tentu saja, jika dikombinasikan dengan zat lain, risikonya bisa menjadi jauh lebih mematikan," kata Durbhakula.

Cychlorphine Sulit Dideteksi melalui Tes Narkoba Biasa

Selain efeknya yang kuat, cychlorphine juga sulit dideteksi melalui pemeriksaan narkoba standar.

Profesor madya kedokteran darurat di Washington University, Dr. David Liss, mengatakan alat tes fentanyl berbentuk strip tidak dapat mendeteksi cychlorphine karena keduanya merupakan zat yang berbeda.

Cychlorphine juga belum termasuk dalam pemeriksaan narkoba rutin di rumah sakit. Karena itu, fasilitas kesehatan mungkin membutuhkan tes khusus untuk memastikan keberadaan zat tersebut.

"Saya rasa belum ada metode pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendeteksi zat ini secara individual," ujar Liss.

Dia juga memperkirakan jumlah kasus yang berkaitan dengan cychlorphine sebenarnya lebih banyak daripada yang tercatat. Hal ini karena rumah sakit belum dapat mengidentifikasi kelompok obat orphine secara rutin.

Selain itu, belum diketahui apakah laboratorium lain sudah melakukan pemeriksaan khusus terhadap zat tersebut.

Apakah Cychlorphine Akan Terus Menjadi Ancaman?

Krotulski memperkirakan jumlah kasus cychlorphine akan segera menurun setelah DEA menetapkannya sebagai narkoba Golongan I. Kebijakan serupa di China, yang menjadi salah satu sumber berbagai jenis opioid baru, juga diperkirakan memengaruhi peredarannya.

Meski demikian, dia mengingatkan bahwa cychlorphine bukan satu-satunya opioid baru yang perlu diwaspadai.

Dalam satu dekade terakhir, Krotulski telah menemukan sedikitnya 100 jenis opioid berbeda. Ia memperkirakan jenis opioid baru masih akan terus bermunculan.

"Sebagai contoh, Oktober tahun depan kita mungkin tidak lagi membicarakan cychlorphine. Kita justru akan membahas jenis opioid terbaru yang muncul, dan mungkin ada tiga atau empat jenis baru hingga saat itu," ujar Krotulski.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya