Liputan6.com, Jakarta - Tren olahraga lari semakin ramai diminati. Berbagai ajang lari dengan kategori 5K, 10K, hingga maraton 42K bermunculan dan menarik banyak peserta. Namun, di balik antusiasme tersebut, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yakni kemampuan tubuh setiap orang dalam beradaptasi dengan aktivitas fisik.
Keinginan mengikuti tren atau fear of missing out (FOMO) terkadang membuat seseorang terburu-buru meningkatkan jarak lari. Tidak sedikit pula yang langsung memasang target mengikuti maraton tanpa terlebih dahulu membangun kebiasaan olahraga secara konsisten.
Advertisement
Race Director JEKATE Running 2026 dari Mesa Race, Reza Puspo mengingatkan bahwa lari seharusnya dilakukan dengan program yang sesuai kemampuan tubuh, terutama bagi mereka yang baru memulai olahraga.
Menurut Reza, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan aktivitas fisik. Proses membangun kebiasaan olahraga tidak bisa dilakukan secara instan.
"Untuk membuat badan menjadi suatu kebiasaan, menjadi habit, menjadi rutin, itu paling tidak perlu minimum 90 hari, 3 bulan, untuk membiasakan dahulu," ujar Reza saat berbincang dengan Kesehatan Liputan6.com, Minggu, 8 November 2026.
Jangan Terburu-buru Mengejar Jarak Maraton
Reza menyarankan pelari pemula untuk memulai dari jarak 5K sebelum meningkatkan target ke 10K, half marathon, hingga maraton 42K.
Tahapan tersebut penting agar tubuh memiliki kesempatan beradaptasi dengan peningkatan intensitas dan jarak latihan. Pelari juga dapat mengevaluasi kemampuan fisiknya sebelum menentukan target berikutnya.
Dia, menilai, mengikuti maraton hanya karena terlihat keren atau ingin mengikuti pencapaian orang lain bukanlah alasan yang tepat untuk memaksakan diri.
"Kalau mau sehat itu sebenarnya enggak harus lari 42 kilo pun, asal rutin itu sudah sehat, loh," tambahnya.
Menurut Reza, program latihan perlu disusun, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Bahkan, target mengikuti maraton bisa direncanakan dalam kurun waktu sekitar tiga tahun dengan terlebih dahulu membangun kemampuan melalui jarak yang lebih pendek.
Mendengarkan Sinyal Tubuh dan Memahami Data
Selain menjalankan program latihan, pelari juga perlu memahami kondisi tubuhnya sendiri. Reza mengingatkan agar seseorang tidak sekadar mengikuti kemampuan teman atau pelari lain.
Data seperti heart rate (detak jantung), jarak, dan intensitas latihan dapat membantu seseorang mengenali batas kemampuan fisiknya.
"Jadi, don't be FOMO. Kalau lari bersama teman memang enak, gitu ya. Tapi, again, baca datanya, lihat datanya, baik dari heart rate-nya, dari jaraknya, dan semuanya," ujar Reza.
Dia juga menegaskan bahwa berjalan kaki saat mengikuti lomba lari bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Sebab, kemampuan setiap peserta berbeda dan tidak semua orang harus berlari penuh sepanjang perlombaan.
Namun, pelari juga perlu memahami aturan cut-off time (COT) atau batas waktu penyelesaian lomba. Terlebih, kata Reza, penyelenggaraan maraton yang membutuhkan penutupan jalan dalam waktu cukup lama berkaitan dengan kepentingan masyarakat umum.
Jika belum mampu menyelesaikan lomba sesuai batas waktu, peserta dapat menjadikannya bahan evaluasi untuk latihan berikutnya.
Usia Bukan Satu-satunya Penentu Kemampuan Lari
Reza yang kini berusia 55 tahun mengaku masih aktif berolahraga dan mampu menyelesaikan maraton dalam waktu sekitar empat jam.
Menurutnya, tidak ada batas usia yang bisa dijadikan patokan mutlak untuk menentukan kemampuan seseorang dalam berlari. Kondisi fisik dan kesiapan masing-masing individu jauh lebih penting untuk diperhatikan.
"Again, itu namanya listen to your body, gitu loh," katanya.
Untuk menjaga kebugaran, Reza mengombinasikan berbagai aktivitas fisik, mulai dari lari, bersepeda, berenang, hingga latihan di pusat kebugaran atau strength conditioning.
Dia juga memperhatikan pola makan dengan mengonsumsi protein dan sayuran serta mengatur asupan kalori harian sekitar 1.800–2.000 kalori.
Sensasi Lari di Jalan Layang Antasari
JEKATE Running 2026 menghadirkan pengalaman berbeda bagi pencinta olahraga lari di Jakarta. Ajang ini menawarkan kesempatan kepada peserta untuk berlari di Jalan Layang Antasari, Jakarta Selatan, dengan jalur yang disterilkan 100 persen dari kendaraan bermotor.
Reza mengatakan inovasi ini menjadi upaya memperluas pilihan lokasi berlari di tengah meningkatnya jumlah kompetisi lari di Indonesia.
"Kalau kita ngomongin tentang Jakarta, saya tuh sudah dari tahun 2009. Saat itu, lomba lari bisa dihitung mungkin di Jakarta, ya, di Indonesia. Mungkin cuma 10 per tahun," ujar Reza.
Pada 2025, tambah Reza, jumlah lomba lari di Indonesia disebut telah mencapai sekitar 600 ajang.
JEKATE Running 2026 menyediakan kategori 5K dan 10K dengan titik kumpul di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Prapanca.
Penyelenggara juga menyiapkan water station setiap 2,5 kilometer yang dilengkapi air mineral, minuman isotonik, dan pisang. Area race village turut dihadirkan dengan hiburan dan UMKM.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerataan olahraga lari di seluruh wilayah Jakarta.
"Kami berharap komunitas lari dapat tumbuh di mana saja, sehingga makin banyak warga menikmati ruang publik Jakarta melalui kegiatan yang sehat dan inklusif," ujar Pramono.
Sementara itu, Direktur Utama PAM JAYA, Arief Nasrudin, menegaskan dukungan perusahaan bertujuan mendorong gaya hidup sehat dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan serta kualitas hidup.
"Bagi kami, kegiatan ini bukan hanya tentang olahraga, tetapi juga tentang membangun kesadaran bersama akan pentingnya kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik," pungkasnya.