Anak Suka Menyentuh Area Genital, Apa yang Orang Tua Harus Lakukan?

Perilaku anak yang kerap menyentuh area genital tubuhnya tak selalu menjadi hal yang perlu dikhawatirkan.

Diterbitkan 02 Oktober 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Orang tua mungkin merasa bingung atau khawatir ketika melihat anak kecil berulang kali menyentuh atau menggesek area genitalnya. Pada usia dini, anak belum memahami tubuh dan perilaku seksual dengan konteks seperti orang dewasa, sehingga perlu diberi pemahaman awal.

Psikolog anak dan keluarga Saskhya Aulia Prima, menjelaskan bahwa perilaku tersebut dapat muncul karena anak menemukan sensasi tertentu yang terasa nyaman, kemudian mengulanginya.

“Sebenarnya di umur segitu nggak ada kepikiran terlalu jauh, seperti yang mungkin dikhawatirkan. Biasanya karena ada satu kejadian tertentu, kebetulan mungkin dia menemukan kenyamanan di situ,” katanya di dalam konferensi pers Parentalk Festival 2026, di Tangerang Selatan, Rabu (30/9/2026).

Pada usia dini, anak masih berada dalam tahap mengenali tubuhnya dan belum tentu memahami perilaku tersebut dalam konteks seksual.

“Semuanya, jalannya ke sensory seeking. Jadi, ada sesuatu yang menyenangkan, kemudian dilakukan berulang,” tambah Saskhya.

Mulai Kenalkan Sex Education Awal tentang Tubuhnya

Alih-alih memarahi atau mempermalukan anak, orang tua dapat mulai mengarahkan perhatian anak pada aktivitas lain ketika perilaku tersebut muncul.

Kemunculan perilaku tersebut juga dapat menjadi momentum bagi orang tua untuk mulai memberikan edukasi seks yang sesuai dengan usia anak.

Edukasi seks pada anak tidak harus dimulai dengan pembahasan yang kompleks. Pada tahap awal, orang tua dapat mengenalkan nama dan bagian tubuh, termasuk bagian tubuh yang bersifat pribadi.

Anak juga perlu mengetahui siapa saja yang boleh menyentuh bagian tubuh tertentu dan kapan mereka perlu mengatakan tidak.

Saskhya mengatakan, edukasi tersebut dapat mulai diberikan ketika anak sudah memiliki kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi.

"Apalagi sekarang usia-usianya sebenarnya dia udah kepikiran ngomong. Jadi mulai tuh orang tua bisa ngajarin tentang sex education-nya, bagian tubuhnya, mana yang boleh dipegang oleh siapa, dan yang mana yang nggak boleh," jelas Saskhya.

Dengan mengenalkan batas tubuh sejak dini, anak tidak hanya belajar mengenai bagian tubuhnya sendiri, tetapi juga memahami bahwa dirinya memiliki hak untuk menentukan batasan terhadap sentuhan dari orang lain.

Anak Mengerti Kapan dan kepada Siapa Harus Bercerita

Selain mengenalkan bagian tubuh dan batas sentuhan, edukasi seks pada anak juga dapat mencakup situasi ketika mereka perlu mencari bantuan.

Anak perlu mengetahui kepada siapa mereka dapat bercerita jika merasa tidak nyaman dengan suatu sentuhan atau mengalami sesuatu yang membuat mereka bingung.

"Jadi coba dilihat lagi ke sex education awal. Berarti kalau mau melakukan sesuatu, bilangnya sama siapa, dan tempatnya di mana," kata Saskhya.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa edukasi seks tidak hanya berkaitan dengan mengenalkan bagian tubuh, tetapi juga membantu anak memahami konteks, privasi, serta orang yang dapat dipercaya untuk menjadi tempat bercerita.

Selain itu, ketika perilaku menggesek atau menyentuh area genital muncul, respons orang tua menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Anak perlu diarahkan secara perlahan tanpa dibuat merasa malu terhadap tubuhnya sendiri.

Saskhya menekankan bahwa perilaku tersebut berkaitan dengan sensorik dan tak serta merta menjadi hal yang mengkhawatirkan, mengingat anak pada usia tersebut pun belum memahami konteks seperti orang dewasa.

"Jadi sederhana-nya kalau kita gatal di satu bagian badan terus kita garuk dan merasa enak, jadi pengen menggaruk terus," pungkas Saskhya.