Anak Mendadak Rewel di Keramaian, Bisa Jadi Terkena Overstimulasi

Anak mendadak rewel di keramaian? Kenali tanda overstimulasi, penyebab, dan cara tepat membantu anak.

Liputan6.com, Jakarta - Anak yang tiba-tiba menangis, rewel, atau tantrum saat berada di tempat umum dan keramaian belum tentu sedang mencari perhatian. Bisa jadi, anak mengalami overstimulasi, yaitu kondisi ketika tubuh menerima terlalu banyak rangsangan dari lingkungan sehingga kesulitan memprosesnya.

Menurut dokter spesialis anak Lyndsey Garbi, MD, seperti dikutip dari Parents, Rabu (14/10/2026), overstimulasi merupakan respons tubuh terhadap aktivitas atau rangsangan yang berlebihan. Kondisi ini umum terjadi pada anak kecil karena kemampuan mereka dalam menghadapi berbagai rangsangan masih berkembang.

Kenali Tanda Overstimulasi pada Anak

Tanda overstimulasi atau sensory overload dapat berbeda-beda, bergantung pada usia dan temperamen anak. Pada bayi, kondisi ini bisa ditandai dengan tangisan, gerakan tubuh yang tersentak, atau kebiasaan memalingkan wajah dari sumber rangsangan.

Sementara itu, balita dan anak prasekolah mungkin menjadi lebih rewel, mudah marah, menangis, hingga menjatuhkan diri ke lantai. Pada anak usia sekolah, overstimulasi dapat terlihat dari perilaku mudah tersinggung, kelelahan berlebihan, perilaku agresif, atau ledakan emosi.

Sebagian anak juga berusaha menghindari rangsangan dengan menunjukkan kegelisahan, sulit berkonsentrasi, atau melakukan gerakan berulang, seperti bergoyang, mondar-mandir, dan bersenandung untuk menenangkan diri.

Analis perilaku berlisensi Kerri Milyko, PhD, BCBA-D, LBA (NV), menjelaskan bahwa meltdown akibat overstimulasi berbeda dari tantrum yang bertujuan mendapatkan sesuatu.

“Meltdowns bisa kelihatan seperti tantrum, tapi bukan untuk mendapatkan sesuatu atau ketika anak diberi tahu ‘tidak’,” jelas Milyko.

Menurutnya, meltdown kerap terjadi sebagai respons yang tidak disengaja ketika rangsangan yang diterima sudah terlalu sulit untuk ditangani anak.

Apa yang Memicu Overstimulasi pada Anak?

Overstimulasi terjadi ketika rangsangan dari lingkungan melebihi kemampuan anak untuk memprosesnya. Pemicu yang umum meliputi suara televisi atau musik yang terlalu keras, keramaian di tempat umum, serta aktivitas di luar ruangan dengan banyak rangsangan sekaligus.

Kondisi fisik anak juga berpengaruh. Anak yang kurang tidur, sedang stres, lapar, atau membutuhkan istirahat cenderung lebih mudah kewalahan dibandingkan saat kebutuhan dasarnya terpenuhi.

Selain itu, anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD), gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), atau disabilitas intelektual dan perkembangan dapat memiliki sensitivitas terhadap rangsangan yang berbeda.

Pemicu lainnya bisa berupa label pakaian yang terasa mengganggu, lampu terlalu terang, suara gawai, hingga tekstur makanan tertentu. Karena sensitivitas setiap anak berbeda, orang tua perlu mengenali rangsangan yang membuat anak merasa tidak nyaman.

Cara Membantu Anak Mengatasi Overstimulasi

Ketika anak mulai kewalahan, orang tua disarankan mengurangi rangsangan dan membawanya ke tempat yang lebih tenang. Jika memungkinkan, pilih ruangan dengan suara dan aktivitas yang lebih sedikit.

Apabila belum bisa meninggalkan tempat tersebut, orang tua dapat mencoba mengurangi kebisingan atau mencari area yang lebih sepi. Pada bayi, menggendong atau membedong dapat membantu memberikan rasa nyaman. Sementara itu, balita bisa diajak melakukan kegiatan yang lebih tenang, seperti membaca buku atau menyanyikan lagu yang familier.

Milyko juga mengingatkan orang tua agar tidak mempermalukan anak atau mengharapkannya langsung mampu mengatasi situasi tersebut sendiri. Anak mungkin membutuhkan waktu, ruang untuk beristirahat, dan bantuan orang dewasa untuk kembali tenang.

Untuk mencegah overstimulasi, orang tua dapat mengenali pemicu yang membuat anak tidak nyaman, memberikan jeda istirahat, serta membatasi durasi kegiatan di tempat yang ramai.

Jika anak sering mengalami overstimulasi hingga mengganggu aktivitas sehari-hari atau menunjukkan reaksi yang sangat ekstrem, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penilaian dan pendampingan yang sesuai.