IDAI: Hak Anak atas Kesehatan dan Perlindungan Harus Terpenuhi Saat Terdampak Karhutla

Bayi, balita, anak dengan asma, penyakit jantung atau paru kronis, anak dengan disabilitas termasuk kelompok yang lebih rentan terdampak asap karhutla.

Liputan6.com, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta seluruh pihak melakukan perlindungan maksimal terhadap anak-anak yang terdampak dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap kabut asap.

"Bayi, balita, anak dengan asma, penyakit jantung atau paru kronik, anak dengan disabilitas, serta anak yang bergantung pada oksigen dan alat medis memiliki risiko yang jauh lebih tinggi. Mereka tidak bisa melindungi diri sendiri," kata Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA Subsp Kardio (K).

Piprim menegaskan bahwa tugas orang dewasa dan negara untuk memastikan mereka terlindungi.

"IDAI menegaskan bahwa hak hidup, hak kesehatan, hak perlindungan, dan hak tumbuh kembang anak harus tetap terpenuhi bahkan di tengah situasi darurat," ujar Piprim.

Mengapa Anak Lebih Rentan Terhadap Asap Karhutla?

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr Fifi Sofiah, SpA, Subsp Respi(K), menjelaskan bahwa organ pernapasan anak-anak menjadi sasaran utama dari asap karhutla karena anatomis dan fisiologisnya masih berkembang.

Partikel kasar (PM10) yang terdapat pada kabut asap bisa mengiritasi saluran napas atas. Sedangkan PM2.5 yang bersifat ultrafine bisa menimbulkan gangguan pada saluran napas bawah.

Fifi menjelaskan aldehida, salah satu senyawa dalam asap, dilaporkan dapat melumpuhkan silia di saluran napas. Sementara karbon monoksida dan nitrogen oksida mengganggu fungsi hemoglobin.

Belum lagi ozon dan polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH) mengganggu integritas sel.  "Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menimbulkan penyakit paru kronik dan menurunkan kualitas hidup anak hingga dewasa," kata Fifi.

Faktor lain yang bikin anak lebih rentan alami masalah kesehatan karena terdampak asap karhutla adalah sistem imunnya belum sempurna. Lalu, diameter jalan napasnya kecil membuat mereka bernapas lebih cepat, dan lebih sering bernapas melalui mulut.

Fifi menjelaskan vayi dapat bernapas hingga sekitar 60 kali per menit, sedangkan anak usia 1–2 tahun bernapas kurang dari 50 kali per menit dan anak usia 1–5 tahun sekitar 40 kali per menit.

"Semakin sering anak bernapas, semakin besar pula potensi paparan polutan yang masuk ke saluran pernapasan," kata Fifi.

Kondisi ini membuat dosis paparan yang mereka terima jauh lebih besar dibandingkan orang dewasa.

 

Cara Mengurangi Paparan Asap Karhutla

Sekretaris Satgas Siaga Bencana IDAI, Dr. Dimas Dwi Saputro, Sp.A, Subsp. Respi(K), memaparkan sejumlah langkah yang dapat dilakukan keluarga untuk mengurangi paparan asap karhutla.

Orangtua dianjurkan mengurangi aktivitas anak di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Keluarga juga perlu memantau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sebagai salah satu dasar untuk menentukan langkah perlindungan.

Saat asap masuk ke lingkungan rumah, keluarga perlu mengupayakan ruang dengan udara yang lebih bersih. Penggunaan kipas atau exhaust fan perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan arah masuknya polutan agar tidak justru menarik udara tercemar ke dalam rumah.

Jika anak terpaksa keluar rumah, orangtua perlu mempertimbangkan perlindungan pernapasan yang sesuai dengan usia dan kondisi anak. Keluarga juga dianjurkan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci buah serta sayuran sebelum dikonsumsi, dan menyiapkan kebutuhan penting untuk keadaan darurat.

IDAI turut mendorong keluarga menyiapkan tas siaga bencana, memahami jalur evakuasi dan titik kumpul, serta memiliki rencana kesiapsiagaan apabila kebakaran meluas atau kondisi lingkungan tidak lagi aman.