Anak Balita Belum Bisa Kenali Bahaya, Orangtua Jangan Lengah

Orangtua mesti mengetahui potensi bahaya yang bakal terjadi. Baik saat di dalam rumah atau ketika di luar.

Liputan6.com, Jakarta - Kasus anak terjatuh dari balkon hotel di Samarinda hingga meninggal dunia dan balita yang ditemukan menangis sendirian di tenda saat pendakian Gunung Prau menjadi pengingat pentingnya pengawasan orangtua.

Anak, terutama yang berusia di bawah tujuh tahun, belum sepenuhnya mampu mengenali bahaya di sekitarnya sehingga membutuhkan pendampingan orang dewasa untuk menjaga keselamatannya.

Dokter spesialis anak subspesialis neurologi RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Prof. Dr. dr. R.A. Setyo Handryastuti, Sp.A, Subsp.Neuro, mengingatkan orang tua untuk mengawasi anak berusia di bawah tujuh tahun secara ketat karena mereka belum sepenuhnya mampu mengenali bahaya di lingkungan sekitar.

“Anak di bawah tujuh tahun itu belum paham betul bahaya, apalagi anak balita. Mana bahaya, mana tidak itu kan belum paham. Jadi harus selalu dalam pengawasan orang tua,” kata Prof Handry saat ditemui di RSCM Kiara pada Senin (19/10/2026).

Guru Besar Bidang Neurologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjelaskan, anak usia balita juga belum sepenuhnya mampu mengungkapkan perasaan, ketakutan, maupun hal yang sedang dipikirkannya. Maka dari itu, orangtua perlu peka terhadap kondisi anak dan tidak melepaskan pengawasan sepenuhnya.

Kebutuhan pengawasan juga perlu disesuaikan dengan lingkungan tempat anak berada. Bila di rumah, orangtua perlu memastikan lingkungan aman bagi anak, sedangkan di luar rumah mereka harus lebih cermat menilai potensi bahaya.

“Kalau di luar rumah kita kan tidak tahu aman atau tidak, kita harus lihat dulu lingkungan ini aman atau tidak. Kalau tidak, ya memang kita harus menjaga, betul-betul harus, tidak boleh lengah,” ujarnya mengutip Antara.

Bila Orangtua Ingin Me Time

Prof Handry mengatakan orangtua yang membutuhkan waktu untuk beristirahat atau menjalankan aktivitas pribadi dapat mengatur pengasuhan dengan meminta bantuan anggota keluarga yang dipercaya, seperti kakek, nenek, kerabat atau tenaga profesional seperti daycare.

“Ketika orang tuanya ingin me time, ingin beristirahat, ya harus ada yang menjaga,” katanya.

Orangtua perlu memastikan anak berada dalam pengawasan orang dewasa yang mampu menjaga keselamatannya, terutama ketika anak belum dapat mengenali risiko secara mandiri.