Liputan6.com, Moskow - Apa itu pes? Penyakit ini kembali menjadi perhatian setelah muncul laporan mengenai meninggalnya seorang staf perempuan di Institut Penelitian Anti-Wabah Irkutsk, Rusia. Perempuan bernama Darya Shipilova tersebut dilaporkan meninggal setelah mengalami pneumonia berat.
Namun, otoritas kesehatan Rusia hingga kini belum secara resmi mengonfirmasi bahwa pes menjadi penyebab kematiannya. Rospotrebnadzor menyebut perempuan tersebut mengalami “pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui” dan menegaskan situasi kesehatan di wilayah Irkutsk masih stabil.
Meski demikian, laporan mengenai dugaan paparan bakteri Yersinia pestis di laboratorium memicu kekhawatiran masyarakat. Sekitar 200 orang disebut ditempatkan dalam pemantauan medis sebagai langkah pencegahan.
Advertisement
Penyakit pes atau plague dikenal sebagai penyakit yang pernah menyebabkan wabah besar dan menewaskan jutaan orang. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang umumnya ditemukan pada mamalia kecil dan kutunya.
Dilansir dari Cleveland Clinic, Senin (5/10/2026), pes kini lebih jarang terjadi dan lebih mudah diobati. Namun, penyakit ini tetap dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
Secara global, sekitar 1.000 hingga 2.000 kasus pes didiagnosis setiap tahun.
Pes paling sering menular melalui gigitan kutu yang membawa bakteri Y. pestis. Penularan juga dapat terjadi melalui hewan maupun manusia yang terinfeksi.
Pes Memiliki Beberapa Bentuk
Jenis pes yang dialami seseorang bergantung pada bagian tubuh yang terinfeksi bakteri Y. pestis.
Pes bubonik merupakan bentuk yang paling umum. Infeksi menyebar ke kelenjar getah bening setelah seseorang digigit kutu yang terinfeksi. Kondisi ini menyebabkan kelenjar getah bening membengkak dan terasa nyeri. Pembengkakan tersebut disebut bubo.
Pes septikemik terjadi ketika bakteri menginfeksi aliran darah. Kondisi ini dapat merusak jaringan tubuh dan menyebabkan kegagalan organ.
Sementara itu, pes pneumonik terjadi ketika bakteri menginfeksi paru-paru. Kondisi ini dapat terjadi akibat penularan antarmanusia maupun ketika infeksi dari bagian tubuh lain menyebar ke paru-paru. Pes pneumonik merupakan bentuk yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan pneumonia berat.
Ada pula pes faringeal, bentuk yang jarang terjadi. Kondisi ini dapat muncul setelah seseorang mengonsumsi daging hewan yang terinfeksi dalam kondisi mentah atau kurang matang.
Gejala Pes Bisa Berbeda-beda
Beberapa gejala dapat muncul pada berbagai bentuk pes, antara lain:
- Demam dan menggigil.
- Sakit kepala dan nyeri tubuh.
- Lemas.
- Kelelahan.
- Pusing.
- Mual dan muntah.
- Diare.
Pada pes bubonik, gejala khasnya berupa pembengkakan kelenjar getah bening yang terasa nyeri.
Pes septikemik dapat menyebabkan sakit perut serta perdarahan dari hidung, mulut, atau di bawah kulit.
Sementara pada pes pneumonik, gejalanya dapat berupa sesak napas, nyeri dada, batuk, serta keluarnya lendir yang berair atau berdarah.
Bagaimana Pes Menular?
Kutu menjadi salah satu jalur utama penularan pes. Kutu dapat menggigit tikus atau mamalia lain yang terinfeksi Y. pestis, kemudian menularkan bakteri tersebut saat menggigit manusia.
Penularan juga dapat terjadi ketika seseorang menyentuh cairan tubuh atau jaringan hewan yang terinfeksi. Risiko juga dapat muncul setelah mengonsumsi daging hewan yang terinfeksi dan tidak dimasak hingga matang.
Khusus pes pneumonik, penularan dapat terjadi dari orang ke orang melalui percikan saat penderita batuk atau bersin. Bakteri dari paru-paru penderita kemudian dapat berpindah kepada orang lain.
Menurut WHO, penyakit pes secara historis berkaitan dengan pandemi besar yang menyebabkan angka kematian tinggi. Pada abad ke-14, penyakit ini dikenal sebagai Black Death dan menyebabkan lebih dari 50 juta kematian di Eropa.
Pengobatan Pes dengan Antibiotik
Pes membutuhkan penanganan medis segera. Penyakit ini dapat diobati dengan antibiotik yang diberikan melalui pembuluh darah maupun dalam bentuk obat minum.
Pada kondisi tertentu, pengobatan antibiotik bahkan dapat dimulai sebelum hasil pemeriksaan keluar.
Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari gigitan kutu dan menggunakan obat antiserangga yang mengandung DEET. Sarung tangan juga sebaiknya digunakan ketika harus menangani hewan yang berpotensi terinfeksi.
Pemilik hewan peliharaan juga dianjurkan mencegah hewan berkeliaran bebas di luar rumah serta berkonsultasi dengan dokter hewan mengenai upaya pencegahan kutu.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365296/original/064675400_1791170200-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-05T101528.852.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365046/original/083732600_1791097921-cek_fakta_sapi_bebek.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5360863/original/067393500_1758767787-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-09-25T090726.096.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343958/original/032352600_1788928394-HOAX__14_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4683906/original/049963500_1702391810-kelly-sikkema-lgWqGhqSr0g-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8133451/original/029203800_1780985455-AC71B8A2-01A6-456E-8CDA-FBE01AEEC42A.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3292260/original/011894500_1604992713-davide-ragusa-g32g_IBprFA-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353604/original/047107400_1789970916-000_C8UW6NV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335808/original/056990900_1788066258-uk1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353604/original/047107400_1789970916-000_C8UW6NV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335808/original/056990900_1788066258-uk1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292544/original/017588400_1783605639-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325134/original/097765900_1786815789-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5526647/original/078160700_1773129182-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362761/original/096120200_1790829710-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361019/original/030184900_1790674140-bijesh-regmi-SjDIOAWtpfQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5369206/original/047420200_1759458941-Untitled.jpg)