Kolom Pakar: 5 Hal tentang Penyakit Pes di Rusia

Wabah PES Rusia menjadi perhatian. Kenali lima hal penting tentang penyakit pes dan bahayanya bagi manusia.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Prof Tjandra merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran UI juga Direktur Program Pasca Sarjana Universitas YARSI Jakarta.

Liputan6.com, Jakarta - The Moscow Times pada 2 Oktober 2026 menurunkan berita berjudul 'Nearly 200 People Under Observation After Irkutsk Lab Worker Dies From Plague'. Berita tentang wabah PES Rusia dan kematian seorang pekerja laboratorium yang berhubungan dengan “plaque”, yang kita kenal sebagai Pes, kemudian banyak ditulis pula oleh berbagai media massa nasional.

Memang, bagaimana persisnya kejadiannya masih membutuhkan data dan informasi yang lebih jelas dan perlu konfirmasi resmi pula, tapi baik kalau kita mengenal setidaknya lima aspek tentang penyakit pes ini.

Pertama, penyakit pes dikenal sebagai penyebab 'Black Death' (Wabah Hitam) yang terjadi pada abad ke-14 (1346–1353) dan menewaskan sekitar puluhan sampai ratusan juta orang di Eropa, Asia, serta Afrika. Jadi, ini salah satu pengalaman buruk pandemi dunia.

Bahkan, laman BRIN 12 April 2026 beberapa bulan yang lalu menuliskan bahwa kita pernah mengalami wabah pes pada awal abad ke-20, terutama di Pulau Jawa.

Kedua, laman WHO 29 September 2026 beberapa hari yang lalu menuliskan bahwa penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis.

Ini adalah penyakit zoonotik, menular dari hewan ke manusia, yang kemudian mungkin saja dapat menular antarmanusia dengan kontak langsung dengan bagian tubuh yang terinfeksi dan juga dapat lewat partikel yang terhirup waktu bernapas.

Karena mudah menular, maka jelas penyakit pes perlu perhatian khusus, dan ini pula sebabnya di Rusia kini dilakukan pengawasan ketat pada sekitar 200 orang yang kontak dengan kasus.

Ketiga, kita kenal ada jenis pes yang bentuknya benjolan kelenjar getah bening, yang disebut “Bubonic plague”. Juga ada yang menyebar melalui sirkulasi darah (septikemia).

Lalu, ada yang menyerang paru, menyebabkan radang paru (pneumonia) yang dikenal sebagai “pneumonic plague”. Kasus di Rusia diberitakan juga mengalami pneumonia, hanya belum dijelaskan secara pasti bagaimana manifestasinya.

Keempat, pes memang dapat saja menjadi berat dan bahkan menimbulkan kematian. Angka kematian “Bubonic plague” adalah antara 30 persen sampai 60 persen, sementara “pneumonic plague” amatlah ganas dan pasien akan meninggal kalau terlambat diobati.

Kelima, laman BRIN 12 April 2026 menyebutkan bahwa meskipun dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pada manusia, peneliti BRIN mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum membuktikan Indonesia sepenuhnya bebas dari pes.

Disebutkan adanya fenomena “silent period”, yaitu masa ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama namun masih berpotensi muncul kembali. Peneliti BRIN menyampaikan bahwa temuan bahwa bakteri penyebab pes, serta vektor dan reservoirnya seperti pinjal dan tikus, di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.

Kita perlu pantau dengan ketat tentang apa yang terjadi di Rusia ini, dan kita juga harus terus berhati-hati tentang kemungkinan pes di negara kita.

Prof Tjandra Yoga Aditama

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia

Mantan DirJen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dan Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan, serta

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara