Mengenal Pes, Penyakit Lama yang Masih Perlu Diwaspadai

Guru Besar UGM ingatkan meski puluhan tahun tidak ditemukan laporan penyakit pes pada manusia di Indonesia, kewaspadaan tetap penting.

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa minggu terakhir sempat ramai soal peneliti Rusia meninggal diduga berkaitan dengan kebocoran di lab, memicu kekhawatiran terkait penyakit pes. Meski begitu, pemerintah Rusia menyebut bahwa kematian tersebut disebabkan oleh pneumonia yang belum dapat dipastikan penyebabnya.

Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK(K), mengingatkan masyarakat agar berhati-hati menyikapi informasi tersebut dan tidak berspekulasi sebelum penyebabnya dipastikan.

“Hingga saat ini belum jelas apa yang terjadi di Rusia, apakah merupakan penyakit pes ataukah bentuk penyakit yang lainnya. Sehingga tidak dapat berspekulasi untuk penyebaran dan mekanisme penularannya di Indonesia,” kata Tri.

Meski begitu, Tri mengingatkan kewaspadaan terhadap penyakit pes tetap diperlukan mengingat bakteri Y. pestis masih ditemukan pada hewan pengerat liar. Hewan pengerat seperti tikus dapat menjadi perantara penyebaran penyakit tersebut.

“Dengan demikian, selalu ada potensi untuk muncul penyakit pes pada manusia setiap saat, meskipun sudah puluhan tahun tidak ditemukan laporan penyakit pes pada manusia di Indonesia,” jelas Tri mengutip laman UGM, Kamis (15/10/2026).

Tentang Penyakit Pes

Penyakit pes atau sampar adalah penyakit infeksi, yang terutama ditularkan melalui gigitan pinjal yang terinfeksi, khususnya pinjal pada tikus.

Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau jaringan hewan yang terinfeksi, serta melalui droplet yang mengandung bakteri.

Saat seseorang terinfeksi bakteri pes, ada beberapa bentuk manifestasi penyakit pes. Salah satu yang paling serius ialah pneumonic plague atau pes pneumonik, yakni infeksi yang menyerang jaringan paru-paru.

“Jenis ini dapat menular dari hewan ke manusia maupun antarmanusia melalui droplet,” sambungnya.

Cegah Penularan Pes

Demi mengantisipasi kemungkinan kemunculan penyakit pes, Tri mengingatkan penguatan surveilans secara berkesinambungan terhadap keberadaan bakteri Y. pestis pada vektor, terutama tikus.

Salah satunya dengan pengendalian populasi tikus karena hewan pengerat tersebut merupakan bagian dari lingkungan yang dekat dengan kehidupan manusia.

Lalu, kesiapan sistem pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan dalam mengenali penyakit pes juga perlu diperkuat. Hal ini penting mengingat penyakit tersebut sudah lama tidak ditemukan pada manusia di Indonesia, sehingga kemampuan mengenali gejala dan memberikan penanganan yang tepat menjadi krusial.

“Terapi antibiotik yang cepat dan tepat menjadi kunci dari penanganan penyakit ini,” tutup Tri.