Waspadai Dampak Asap Karhutla, Ini Tanda Perlu Segera ke Dokter

Napas cepat hingga ujung jari kebiruan, kenali tanda bahaya akibat paparan asap karhutla.

Liputan6.com, Jakarta - Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengandung partikel halus (PM2.5), karbon monoksida, nitrogen oksida yang bisa membahayakan kesehatan. Saluran pernapasan, kulit, dan jantung bisa kena dampak dari paparan asap karhutla. 

Pakar kesehatan lingkungan yang juga epidemiolog, Dicky Budiman mengingatkan, sejumlah gejala yang perlu diwaspadai untuk segera mendapatkan pertolongan medis: 

  • sesak napas
  • napas cepat atau berbunyi mengi
  • napas terasa berat meski sedang beristirahat
  • nyeri atau rasa tertekan di dada
  • jantung berdebar tidak wajar
  • pusing hebat hingga pingsan
  • batuk terus-menerus yang semakin berat
  • batuk berdarah
  • demam tinggi
  • bibir dan ujung jari tampak kebiruan
  • penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kondisi yang tidak membaik meski sudah menggunakan obat yang biasa dikonsumsi juga perlu diwaspadai.

Sementara itu, pada bayi dan anak-anak, tanda perlu segera mendapat pertolongan medis diantaranya:

  • tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas
  • anak sulit minum dan makan
  • tampak lemas
  • terus mengantuk

“Kalau ada tanda-tanda tersebut, harus segera mendapatkan pertolongan,” ujar Dicky.

Kualitas Udara di Palembang dan Jambi Buruk

Kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia berada pada level tidak sehat hingga berbahaya pada Jumat (16/10/2026) pagi. Kondisi ini terjadi imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung di sejumlah provinsi, termasuk Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Berdasarkan pantauan IQAir dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang diakses pukul 06.00 WIB, Palembang dan Jambi mencatat kualitas udara terburuk. Palembang berada pada kategori berbahaya dengan indeks kualitas udara atau AQI US sebesar 699 mengutip News Liputan6.

Indeksnya diperkirakan turun menjelang siang, tetapi belum terlihat tanda kualitas udara akan membaik ke kategori yang lebih aman dalam sepekan ke depan.

Di Jambi, kualitas udara juga masuk kategori berbahaya. Konsentrasi polutannya tercatat mencapai 88,8 kali nilai panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi diperkirakan bertahan hingga siang sebelum turun menjadi tidak sehat sekitar pukul 14.00 WIB, lalu tetap berada pada kategori tersebut sepanjang hari.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memasukkan Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan sebagai provinsi prioritas penanganan karhutla.