Ebola di Kenya: Perempuan 65 Tahun Jadi Korban Meninggal Kedua

Ebola di Kenya menewaskan perempuan 65 tahun, korban kedua dalam wabah pertama yang melanda negara itu.

Diterbitkan 25 Oktober 2026, 10:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Nairobi - Kenya mencatat kematian kedua akibat Ebola di tengah wabah pertama penyakit tersebut di negara itu. Korban adalah seorang perempuan berusia 65 tahun yang meninggal dunia setelah mengalami gejala saat menjalani karantina, dikutip dari BBC pada Minggu, 25 Oktober 2026.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Kenya, Dr. Patrick Amoth, menyebut, perempuan tersebut merupakan anggota keluarga dekat pasien pertama yang meninggal akibat Ebola. Dia mulai mengalami gejala pada 13 Oktober 2026 saat masih menjalani karantina.

Meski telah mendapatkan perawatan suportif, nyawanya tidak tertolong. "Dengan berat hati, kami mengumumkan bahwa ia meninggal akibat penyakit tersebut pada awal malam ini," kata Amoth dikutip dari Nation Africa.

Kematian ini menambah jumlah korban meninggal akibat Ebola di Kenya menjadi dua orang. Sementara itu, tujuh pasien lainnya masih menjalani perawatan di dua fasilitas isolasi.

Seluruh kasus yang dikonfirmasi sejauh ini berada dalam satu klaster. Kementerian Kesehatan Kenya menyatakan belum menemukan bukti penularan di masyarakat luas.

Pasien Pertama Datang dari Republik Demokratik Kongo

Kasus Ebola pertama di Kenya melibatkan seorang pria yang melakukan perjalanan dari Republik Demokratik Kongo (DR Kongo) ke Nairobi, ibu kota Kenya.

Pria tersebut mulai sakit pada September 2026 dan sempat menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di DR Kongo. Setelah tiba di Nairobi, kondisinya memburuk hingga meninggal dunia pada 5 Oktober 2026.

Setelah kematian pertama dilaporkan, otoritas kesehatan Kenya melakukan pelacakan kontak untuk mengidentifikasi orang-orang yang berpotensi terpapar virus.

Tujuh pasien yang masih dirawat terdiri atas tiga anggota keluarga korban pertama, tiga tenaga kesehatan, dan seorang petugas kebersihan rumah sakit.

Pemantauan terhadap kontak erat menjadi langkah penting untuk mendeteksi kasus baru dan mencegah penularan lebih luas.

Kenya Perketat Pemeriksaan untuk Cegah Penyebaran Ebola

Pemerintah Kenya meningkatkan pengawasan kesehatan, termasuk pemeriksaan terhadap pelaku perjalanan yang datang dari negara-negara berisiko tinggi. Langkah ini dilakukan untuk mencegah masuknya kasus Ebola dari luar negeri.

Pelaku perjalanan dari negara yang masuk dalam daftar berisiko diwajibkan mengisi formulir pemantauan kesehatan digital sebelum naik pesawat. Setibanya di Kenya, mereka harus menunjukkan kode QR kepada petugas kesehatan.

Ebola merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan dapat menular melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi. Penularan juga dapat terjadi melalui benda yang terkontaminasi cairan tubuh tersebut.

"Ebola merupakan penyakit serius yang dapat berakibat fatal. Kondisi pasien juga dapat berubah secara tiba-tiba tanpa peringatan," ujar Amoth.

Gejala Ebola dapat berupa demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Pada tahap berikutnya, pasien dapat mengalami muntah dan diare. Dalam kasus berat, penyakit ini dapat menyebabkan kegagalan organ dan perdarahan.

Belum Ada Vaksin yang Disetujui untuk Varian Bundibugyo

Wabah yang terjadi di kawasan tersebut berkaitan dengan virus Ebola spesies Bundibugyo. Varian ini relatif jarang ditemukan dan hingga kini belum memiliki vaksin atau pengobatan khusus yang disetujui secara resmi. Sejumlah uji klinis masih berlangsung.

Meski demikian, perawatan suportif dapat diberikan untuk membantu menjaga kondisi pasien dan menangani gejala yang muncul.

Masyarakat diimbau menghindari kontak dengan darah atau cairan tubuh orang yang diduga terinfeksi Ebola.

Jika mengalami gejala yang mencurigakan, terutama setelah melakukan perjalanan ke wilayah terdampak atau berkontak dengan pasien, segera cari pertolongan medis dan informasikan riwayat paparan kepada petugas kesehatan.

Pemerintah Kenya terus melakukan pelacakan kontak, pemantauan kesehatan, dan perawatan pasien untuk membatasi penyebaran Ebola.