Cuaca Panas Bisa Bikin Anak Bad Mood, Orang Tua Bisa Hadirkan Kesejukan Psikologis

Orang tua punya peran penting ciptakan kesejukan psikologis untuk anak di tengah cuaca panas

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 24 April 2026, 13:00 WIB
Ciptakan Kesejukan Psikologis untuk Anak di Tengah Ramainya Isu El Nino Godzilla. Foto dibuat oleh AI.

Liputan6.com, Jakarta - Orang tua perlu menciptakan kesejukan psikologis bagi anak di tengah cuaca panas. Terlebih, isu El Nino Godzilla tengah jadi perbincangan. Ini merujuk pada fenomena peningkatan suhu yang diprediksi memicu cuaca panas ekstrem pada April hingga Oktober 2026.

Menurut psikolog anak dan keluarga, Irma Gustiana, cuaca panas bisa memengaruhi mood atau suasana hati anak. Maka, orang tua berperan menciptakan kesejukan.

“Suasana itu harus diciptakan, jadi kalau di luar sana 35, 36 derajat Celsius segala macam, maka di dalam rumah bisa dibuat sejuk. Sejuknya itu secara psikologis dan secara suasana juga, itu akan membantu anak agar mood-nya lebih baik,” kata Irma kepada Health Liputan6.com saat ditemui di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Belakangan, cuaca memang terasa mulai panas terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Bagi orang dewasa, cuaca panas bisa membuat gerah dan memengaruhi aktivitas sehari-hari, apalagi bagi anak.

“Lingkungan memberi pengaruh cukup besar pada anak, moodiness (perubahan suasana hati). Jangankan anak-anak, orang dewasa juga sama. Jadi kalau dia dalam kondisi fisik dia panas, atau lingkungannya panas itu sudah pasti mood-nya akan terganggu,” kata Irma.

Mengingat hal tersebut, Irma mengimbau orang tua untuk menyiapkan dan memitigasi. Orang tua juga perlu menghindari desakan-desakan atau perintah di situasi yang tidak kondusif. Misalnya, dalam situasi panas anak dipaksa belajar, maka anak bisa tantrum.

Kata Kemenkes Soal El Nino Godzilla

Kehadiran El Nino Godzilla dapat membuat Indonesia mengalami peningkatan suhu 1,5 hingga 2 derajat Celsius. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya proses rain washing, sehingga polutan udara tidak tersapu hujan dan cenderung terakumulasi akibat udara stagnan, lapisan inversi, serta angin lemah.

Bahkan, diperparah risiko kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap seperti disampaikan Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman.

Lalu, peningkatan suhu dan perubahan lingkungan juga dapat memicu penyakit tular vektor seperti dengue dan malaria akibat genangan air sebagai tempat berkembang biak nyamuk.

"Serta memperburuk kualitas air dan sanitasi yang berpotensi meningkatkan kasus diare, tifoid, kolera, dan leptospirosis," kata Aji dalam pesan tertulis beberapa waktu lalu.

Imbauan Kemenkes

Aji pun memberikan edukasi dampak El Nino dengan menerapkan protokol kesehatan untuk perlindungan diri sebagai berikut:

  • Memeriksa kualitas udara melalui aplikasi atau website;
  • Mengurangi aktivitas luar ruangan dan menutup ventilasi rumah/kantor/sekolah/tempat umum saat polusi udara tinggi;
  • Menggunakan penjernih udara dalam ruangan;
  • Menghindari sumber polusi dan asap rokok;
  • Menggunakan masker saat polusi udara tinggi;
  • Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk menjaga daya tahan tubuh agar tetap fit.

“Melakukan konsultasi daring/luring dengan tenaga medis/kesehatan jika muncul keluhan kesehatan khususnya masalah pernapasan,” saran Aji.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya