Liputan6.com, Jakarta - Kadar hemoglobin (Hb) yang terlalu rendah menjadi salah satu penyebab calon pendonor tidak dapat melanjutkan proses donor darah. Masyarakat perlu memastikan kondisi tubuh dan kadar Hb memenuhi syarat sebelum mendonorkan darah.
Dokter spesialis patologi klinik Titien Budhiaty, mengatakan orang yang hendak melakukan donor darah harus dalam kondisi sehat secara umum, memiliki berat badan minimal 50 kilogram, serta kadar hemoglobin di atas 12,5.
“Pendonor juga harus berusia 17 hingga 60 tahun, dan apabila sudah rutin mendonor, tetap diperkenankan setelah usia 60,” ungkap Titien.
Advertisement
Selain memenuhi persyaratan tersebut, kondisi tubuh sebelum donor juga perlu diperhatikan. Titien menganjurkan calon pendonor makan dan minum cukup sekitar satu jam sebelum proses donor untuk mengurangi risiko pingsan.
Menurut dia, pendonor yang mengalami pingsan umumnya dipengaruhi beberapa faktor, seperti kurang istirahat, baru pertama kali mendonorkan darah, atau tidak cukup minum. Karena itu, calon pendonor tidak dianjurkan datang dalam kondisi lapar atau dehidrasi.
“Puasa saat donor memang tidak dianjurkan. Kami menyarankan pendonor memastikan kondisi tubuh bugar dan asupan gizi tercukupi sebelum melakukan donor darah,” jelasnya mengutip laman UGM.
Perhatikan Asupan Zat Besi
Titien mengatakan kadar Hb yang rendah cukup sering menjadi alasan calon pendonor gagal melewati skrining. Untuk membantu menjaga kadar Hb, masyarakat dapat memperhatikan asupan makanan yang kaya zat besi, seperti daging, sayuran, dan buah.
Ia juga mengingatkan kebiasaan minum teh setelah makan dapat menghambat penyerapan zat besi. Sebagai alternatif, masyarakat dapat mengonsumsi jus jeruk atau buah lain yang kaya vitamin C untuk membantu proses penyerapan zat besi.
“Kalau asupan makanan kurang, suplemen zat besi juga bisa menjadi pilihan,” terang Titien.
Advertisement
Tidak Semua Penyakit Menghalangi Donor
Selain kadar Hb, kondisi medis tertentu juga dapat memengaruhi kelayakan seseorang untuk mendonorkan darah. Titien menjelaskan, orang dengan hipertensi atau diabetes masih dapat menjadi pendonor selama penyakitnya terkontrol. Namun, pasien diabetes yang menggunakan insulin tidak diperkenankan mendonor.
Riwayat penyakit jantung dan stroke juga menjadi pertimbangan dalam skrining. Begitu pula dengan kondisi atau riwayat kesehatan tertentu yang berpotensi memengaruhi keamanan darah.
“Kami melarang donor darah pada kondisi yang berpotensi membahayakan kesehatan pendonor maupun penerima darah,” ujarnya.
Penggunaan obat-obatan tertentu juga perlu diperhatikan. Orang yang mengonsumsi obat antikoagulan, psikotropika jangka panjang, atau obat tertentu yang dapat memengaruhi kualitas darah tidak diperkenankan mendonor.
Skrining juga mencakup pertanyaan mengenai riwayat vaksinasi, malaria, hingga perjalanan ke daerah endemis penyakit tertentu. Menurut Titien, seluruh informasi tersebut diperlukan untuk memastikan darah yang didonorkan aman bagi penerima.
“Pertanyaan dalam formulir skrining dirancang agar donor dan produk darah tetap aman,” katanya.
Kejujuran Pendonor Penting
Titien menekankan pentingnya kejujuran saat calon pendonor mengisi formulir skrining. Setiap pertanyaan perlu dijawab sesuai kondisi sebenarnya, termasuk ketika calon pendonor merasa memiliki faktor risiko tertentu.
Menurut dia, hasil pemeriksaan laboratorium tidak selalu dapat langsung menunjukkan adanya infeksi. Karena itu, informasi dari pendonor menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan darah.
“Kejujuran pendonor menjadi bagian dari tanggung jawab moral dalam menyelamatkan nyawa orang lain,” tuturnya.
Ia menambahkan, pola hidup sehat juga membantu seseorang mempertahankan kondisi tubuh agar dapat menjadi pendonor secara rutin. Pola makan bergizi, tidur cukup, dan olahraga teratur perlu dijaga, sementara kebiasaan begadang dan pola makan tidak teratur dapat memengaruhi kondisi tubuh saat akan donor.
Bagi sebagian pendonor rutin, donor darah bahkan telah menjadi kebiasaan yang dilakukan secara berkala. Titien mengatakan ketersediaan darah dari pendonor sukarela sangat penting karena dapat membantu pasien yang membutuhkan transfusi.
“Donor darah adalah amal kebaikan yang benar-benar bisa menyelamatkan nyawa,” pungkasnya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302730/original/042892700_1784605254-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-21T103804.683.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9262464/original/038832300_1783158897-1001427620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334946/original/033690300_1787906817-cek_fakta_bank_mandiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5371798/original/091008600_1759721976-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__84_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3328421/original/094799900_1608379349-WhatsApp_Image_2020-12-19_at_15.30.50__1_.jpeg)