Liputan6.com, Jakarta - Hantavirus diduga jadi penyebab tiga orang tewas dan tiga lainnya jatuh sakit di sebuah kapal pesiar bernama MV Hondius yang berlayar diantara Argentina dan Cape Verde.World Health Organization (WHO) menyebut setidaknya satu kasus telah dikonfirmasi terinfeksi hantavirus.
"Penyelidikan rinci sedang berlangsung, termasuk pengujian laboratorium lanjutan dan investigasi epidemiologi. Perawatan medis dan dukungan sedang diberikan kepada penumpang dan awak kapal," begitu kata WHO dalam pernyataan ke The Associated Press.
Advertisement
Tak banyak orang tahu tentang hantavirus. Kemungkinan masyarakat mendengar kasus terkait hantavirus saat istri dari aktor Gene Hackman, Betsy Arakawa, meninggal akibat infeksi hantavirus di New Mexico tahun lalu.
Berikut fakta tentang hantavirus:
1. Virus yang Ditemukan pada Hewan Pengerat seperti Tikus
Orthohantavirus, lebih dikenal sebagai hantavirus, adalah sekelompok virus yang terutama ditemukan pada hewan pengerat yang dapat menginfeksi manusia. Menurut Profesor Adam Taylor dari Faculty of Health and Medicine (FHM) Lancaster University, Inggris, hewan pengerat seperti tikus, mencit, dan tikus sawah merupakan reservoir alami virus itu.
Hantavirus bisa menginfeksi manusia tapi 'sangat jarang menginfeksi manusia' seperti disampaikan peneliti dari University of Queensland, Yomani Sarathkumara mengutip Guardian, Selasa, 5 Mei 2026.
2. Cara Penularan Hantavirus
Hantavirus menyebar ke manusia melalui inhalasi atau kontak dengan kotoran, urine, dan air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Bisa juga terinfeksi melalui gigitan dan cakaran dari hewan yang terkontaminasi tapi ini sangat jarang.
"Masyarakat yang bertani sangat rentan terkena hantavirus," kata Sarathkumara.
Virus ini tidak mudah menyebar atau menular dari orang ke orang seperti halnya flu atau COVID-10 seperti disampaikan Profesor Madya Vinod Balasubramaniam, seorang ahli virologi molekuler dari Monash University Malaysia.
3. Efek Terinfeksi Hantavirus
Hantavirus memiliki dua kelompok utama, yakni lama dan baru. Hantavirus lama banyak ditemukan di Eropa dan Asia, seperti puumala hantavirus, virus Hantaan, dan virus Seoul.
Pada manusia, jenis ini umumnya menyebabkan haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) yang dapat memicu gejala seperti sakit kepala hebat, nyeri punggung dan perut, demam, hingga gangguan pada ginjal.
Sementara itu, hantavirus baru tersebar di kawasan Amerika dan lebih sering menimbulkan sindrom paru hantavirus. Salah satu yang paling umum di Amerika Selatan adalah virus Andes, yang ditularkan oleh tikus beras berekor panjang.
"Hantavirus dunai baru dapat menyebabkan gangguan paru yang berkembang sangat cepat hingga berujung pada gagal napas. Pada tahap awal, gejalanya kerap menyerupai flu, seperti demam, kelelahan, dan nyeri otot, sehingga membuat diagnosis dini menjadi tidak mudah," kata Balasubramaniam.
Lalu, ia mengatakan bahwa hantavirus dapat memiliki masa inkubasi yang panjang – antara satu hingga delapan minggu.
4. Kemungkinan Penyebab Wabah Hantavirus Muncul di Atas Kapal Pesiar
Balasubramaniam mengatakan ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan kasus hantavirus ada di kapal pesiar
Pertama, kehadiran tikus terinfeksi hantavirus di atas kapal. "Hal ini bisa terjadi jika tikus yang terinfeksi bersembunyi di akses penyimpanan, kabin dan ruang tertutup," kata Balasubramaniam.
Kemungkinan kedua, seperti disampaikan di awal masa inkubasi hantavirus panjang bisa sampai 8 minggu.
"Jadi, mungkin penumpang atau awal kapal sudah terpapar selama melakukan aktivitas di darat."Kemungkinan ketiga tapi amat kecil kemungkinannya yakni penularan dari orang ke orang. "Secara teori mungkin tapi tampaknya sangat kecil kemungkianna,” kata Balasubramaniam.
5. Angka Kematian Hantavirus
Tingkat kematian akibat haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) akibat hintavirus lama diperkirakan antara 1% dan 15%.Sementara itu, hantirus baru bisa menyebabkan gejala lebih parah dan kemungkinan kematiannya jauh lebih tinggi seperti disampaikan Balasubramaniam.
"Sindrom paru hantavirus memiliki tingkat kematian sekitar 40% di Amerika," katanya.
Mengenai pengobatan, saat ini belum ada obat antivirus spesifiki yang benar-benar efektif. Balasubramaniam mengungkapkan pengobatan pada kasus infeksi biasanya diobati dengan manajemen suportif.
Untuk sindrom paru hantavirus, perawatan suportif meliputi oksigen, manajemen cairan, dukungan tekanan darah, dan ventilasi bisa dilakukan.