Bahaya Vape yang Sering Tak Disadari Anak Muda

Vape kerap dianggap lebih aman dari rokok konvensional. Faktanya, tetap berbahaya bagi tubuh terutama organ berikut.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 13 Mei 2026, 08:30 WIB
Vape ilustrasi (AFP Photo/Dante Diosina Jr)

Liputan6.com, Jakarta - Rokok elekrik atau vape sering dikira lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Faktanya, vape tetap memiliki risiko bagi kesehatan termasuk organ jantung.

"(Menurut) Studi, itu enggak jauh beda dengan rokok yang konvensional ya, jadi tetap risikonya tetap ada," kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis aritmia, Dony Yugo Hermanto.

Dony mengatakan uap yang dihirup dari vape sama-sama memiliki kandungan nikotin yang tidak berbeda jauh dari kandungan dalam rokok konvensional. Zat nikotin tersebut yang membuat asap menetap di paru-paru dan menyebabkan flek pada paru-paru perokok.

Dony mengatakan vape juga tidak bisa dijadikan sebagai cara untuk beralih dari rokok konvensional karena kandungan racunnya yang tidak jauh berbeda dan tetap berdampak pada kesehatan jangka panjang.

"Dua-duanya tetap berisiko, yang paling bagus ya setop, titik," tegasnya mengutip Antara.

Dony menegaskan beralih dari rokok konvensional ke vape bukan solusi untuk menghilangkan risiko kesehatan karena keduanya sama-sama tetap berbahaya bagi tubuh.

"Kalau beralih ke vape gak menyelesaikan masalah, tetap ada risikonya," tutur Dony.

Vape Tingkatkan Risiko Kena Kanker

Di kesempatan berbeda, Guru Besar dalam Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Profesor DR. Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K) mengungkapkan bahwa vape tetap bisa memicu kecanduan atau adiktif karena ada kandungan nikotin di dalamnya.

“Sekitar 79,5 persen pengguna vape mengalami adiksi karena kandungan nikotin,” katanya.

Ketergantungan tersebut juga mendorong pengguna beralih ke rokok konvensional. “Sekitar 40 sampai 50 persen pengguna menjadi dual user, menggunakan vape dan rokok konvensional,” ujar Agus.

Lalu, cairan vape mengandung bahan karsinogen atau zat pemicu kanker seperti formaldehida dan asetaldehida. Itu artinya, meski rokok elektronik tidak mengandung tar seperti rokok konvensional, berbagai zat kimia dalam vape tetap berpotensi memicu kanker.

Memang bukti pada manusia memang masih terbatas karena penggunaan vape relatif baru, namun studi laboratorium menunjukkan adanya risiko tersebut.

Ada Zat Toksik di Vape yang Picu Peradangan Paru

Agus juga memaparkan bahwa ada zat toksik yang dapat memicu peradangan di saluran pernapasan dan pembuluh darah. Paparan zat tersebut saat ngevape, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan akut, pneumonia, asma, hingga penyakit paru kronik.

Tak sekadar teori, dalam praktik klinis, ia kerap menemukan sejumlah kasus gangguan paru pada pengguna vape.

“Kasus yang sering ditemukan antara lain pneumonia, asma, hingga pneumotoraks atau paru-paru bocor,” kata dokter yang sehari-hari praktik di RSUP Persahabatan Jakarta Timur ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya