Kisah Musisi yang Berusaha Pulihkan Trauma Korban Gempa Kolombia

Di tengah reruntuhan gempa Kolombia, seorang musisi memilih cara tak biasa untuk membantu korban.

Diterbitkan 15 Agustus 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah reruntuhan bangunan akibat gempa dahsyat di Kolombia, seorang musisi memilih memberikan bantuan dengan cara sederhana yang menyentuh, yakni menawarkan pelukan gratis kepada siapa saja yang membutuhkannya.

Seperti dilaporkan France24 pada Jumat (14/8/2026), Andres Solomon, 46 tahun, menghabiskan waktunya di kawasan Capri, Kota Cali, salah satu wilayah yang terdampak parah oleh gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang mengguncang Kolombia pada Senin.

Kawasan Capri yang sebelumnya ramai kini berubah drastis. Puing-puing bangunan dan besi-besi yang melengkung berserakan di berbagai tempat. Di tengah suasana tersebut, Solomon berdiri di bawah pepohonan sambil membawa papan kardus bertuliskan 'HUGS HERE' atau 'Pelukan di Sini'.

Solomon mengatakan bahwa dia ingin membantu masyarakat yang tengah menghadapi trauma akibat bencana.

"Kami sedang mengalami trauma kolektif, dan saya pikir cara terbaik yang bisa saya lakukan untuk membantu adalah memberikan energi yang saya miliki dan vitalitas yang masih tersisa," kata Solomon kepada AFP dikutip dari Kanal Global Liputan6.com pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Menurut Solomon, bantuan bagi korban gempa tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik, seperti makanan, tempat tinggal, dan layanan medis. Dukungan emosional juga dibutuhkan untuk membantu para penyintas menghadapi kehilangan dan kesedihan yang mendalam.

Dia percaya bahwa mendengarkan cerita para korban, memeluk mereka, turut merasakan kesedihan yang dialami, hingga membantu mereka melepaskan rasa sakit merupakan bagian penting dari proses pemulihan.

Gagasan Solomon mendapat respons positif. Layanan pelukan gratis tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh para penyintas, tapi juga penyelamat, relawan, petugas logistik, tenaga kesehatan, dan pejabat setempat yang telah menghadapi situasi penuh tekanan selama beberapa hari.

Dukungan emosional ini diberikan setelah batas waktu kritis 72 jam pencarian korban yang masih hidup berakhir pada Kamis pagi.

"Ini adalah sebuah pelepasan," ujar Solomon.

Menurutnya, banyak orang berusaha menahan emosi karena merasa harus tetap kuat agar dapat membantu orang lain. "Penting untuk melepaskan semua rasa sakit yang kita rasakan saat ini," tambahnya.

Hal serupa dirasakan Lyda Arias, 72 tahun, Presiden Konfederasi Evangelikal Kolombia. Dia mengaku sangat terpukul melihat kondisi para korban.

"Melihat rasa sakit ini menyentuh saya hingga ke lubuk hati, membayangkan bahwa masih ada orang yang terkubur hidup-hidup," ujarnya.

Sementara itu, Oriana Ordonez, mahasiswa hukum berusia 21 tahun, mengatakan sejumlah temannya masih menghadapi masa yang sangat sulit setelah kehilangan tempat tinggal.

"Banyak dari mereka kehilangan rumah," katanya.

Menurut Ordonez, sebagian orang berusaha terlihat kuat di hadapan orang lain, meski sebenarnya menyimpan kesedihan yang mendalam.

Gempa tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 273 orang dan melukai ribuan lainnya. Hingga kini, ratusan orang masih dinyatakan hilang dan upaya pencarian terus dilakukan.