Liputan6.com, Jakarta - Burnout akan pekerjaan bisa dialami pekerja. Ada sejumlah ciri-ciri yang bisa jadi tanda Anda tengah mengalami burnout seperti disampaikamm psikolog klinis Kasandra Putranto.
Ciri-ciri burnout berdasarkan kategori yakni dari segi fisik, psikologis dan perilaku kerja. Kondisi burnout berupa kondisi kelelahan emosional, fisik, dan mental akibat stres kronis di tempat kerja.
Advertisement
“Burnout fisik (ditandai) kelelahan menerus, gangguan tidur, mudah sakit. Dari sisi psikologis kehilangan motivasi, merasa tidak dihargai, mudah marah, sedangkan secara perilaku kerja mengalami penurunan produktivitas, sinisme terhadap pekerjaan, sering absen,” kata Kasandra.
Kasandra juga menyampaikan terdapat tanda psikologis yang kerap diabaikan oleh pekerja yang sangat produktif, seperti kelelahan emosional yang tidak kunjung hilang meski sudah beristirahat.
Kondisi kelelahan emosional itu disertai perasaan datar atau kehilangan minat pada hal-hal yang dulu “dianggap” menyenangkan, kemudian mulai lebih mudah gelisah, sulit fokus, dan mengalami overthinking terutama terkait pekerjaan.
“Dalam banyak kasus, muncul pula dorongan untuk terus bekerja meski tubuh sudah lelah, karena merasa ‘tidak enak berhenti’ atau takut ketinggalan,” imbuh dia.
Jika gejala di atas Anda rasakan, Kasandra menyarankan untuk mengakses layanan kesehatan mental seperti ke psikolog atau psikiater. Pemulihan burnout dinilainya tidak selalu instan dan bergantung pada tingkat keparahan, dukungan lingkungan, dan keterlibatan individu dalam proses pemulihan.
“Burnout sindrom yang dapat dipulihkan melalui intervensi yang tepat,” tutur dia.
Cara Pulih dari Burnout
Cara pemulihan burnout bisa dengan konseling psikologis, terapi perilaku kognitif (CBT), atau dukungan psikiatri dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk memahami sumber stres hingga mengembalikan fungsi psikologis dan produktivitas kerja.
Tentu saja hal itu tidak bisa sendiri. Perlu juga melakukan kesehatan dasar sebagai fondasi, di mana mencakup aktivitas seperti tidur yang cukup dan berkualitas, pola makan seimbang dan hidrasi yang memadai.
Kemudian menghindari konsumsi alkohol, kafein, dan zat adiktif lainnya secara berlebihan hingga meluangkan waktu pribadi untuk istirahat, rekreasi, hingga olahraga ringan di sela waktu kerja untuk menjaga sirkulasi dan konsentrasi.
Kasandra juga mengingatkan para pekerja agar menyisihkan waktu istirahat yang “bebas” dari pekerjaan, serta pertahankan aktivitas non-produktif yang memberi energi, seperti berinteraksi sosial atau menjalani hobi tanpa target.
“Intinya produktivitas tetap penting, tetapi tanpa pemulihan dan keseimbangan, kinerja justru akan menurun dan biaya psikologisnya jauh lebih besar dalam jangka panjang,” tuturnya.