Liputan6.com, Makkah - Plt. Kepala Pusat Kesehatan Haji (Kapuskeshaj) RI, dr. Dani Pramudya mengatakan bahwa penanganan disorientasi pada jemaah lansia membutuhkan pendekatan bertahap, mulai dari pemulihan fisik hingga pemulihan orientasi lingkungan. Istirahat cukup menjadi langkah awal yang harus dipenuhi jemaah yang mengalami kebingungan.
Selain itu, asupan makanan dan cairan juga harus dijaga untuk mempercepat proses pemulihan. "Recovery-nya (sekitar) 24 jam atau bisa juga 48 jam," ujarnya pada tim Media Center Haji di Makkah pada Kamis, 14 Mei 2026.
Advertisement
Setelah kondisi fisik membaik, petugas mendorong jemaah melakukan aktivitas ringan secara bertahap. Aktivitas itu dimulai dengan keluar dari hotel, mengenali lingkungan sekitar, lalu berjalan santai di area pemondokan.
Petugas juga mengarahkan jemaah kembali melakukan ibadah secara bertahap, termasuk kunjungan ke Masjidil Haram. Langkah itu dilakukan setelah kondisi jemaah stabil dan mampu beradaptasi dengan lingkungan.
"Dengan banyak minum, jemaah bisa kembali recovery untuk mulai orientasi lingkungan," kata Dani.
Pendampingan keluarga atau ketua rombongan menjadi faktor penting dalam proses pemulihan. Petugas meminta agar jemaah tidak ditinggalkan sendirian selama mengalami disorientasi.
Menurut dia, keberadaan pendamping membantu jemaah mengenali kembali identitas diri, lokasi, dan tujuan aktivitas mereka. Pendamping juga berperan menjaga kestabilan psikologis selama masa pemulihan.
"Yang pertama, jangan ditinggal. Harus ada di samping untuk mengingatkan dia berada di mana dan siapa yang mendampingi," ujarnya.
Dani menyebut bahwa proses reorientasi dapat berlangsung lebih cepat jika dilakukan secara konsisten. Kelompok lansia menjadi kategori paling rentan mengalami disorientasi.
Risiko pada Jemaah Haji dengan Riwayat Pikun
Risiko meningkat pada jemaah yang memiliki riwayat penurunan daya ingat atau gejala pikun ringan sebelum keberangkatan. Petugas juga mencatat penyakit penyerta, seperti diabetes dan hipertensi, memperbesar kemungkinan terjadinya kebingungan akut.
Kondisi itu semakin dipicu oleh dehidrasi dan kelelahan fisik selama ibadah. Selain itu, petugas mengingatkan bahwa pengelolaan penyakit kronis yang tidak stabil dapat memperburuk kondisi jemaah saat berada di Tanah Suci.
Oleh sebab itu, pemantauan kesehatan dilakukan secara berlapis sejak jemaah tiba di Arab Saudi. Tim kesehatan haji menerapkan sistem pendampingan dari tingkat kloter hingga sektor untuk memastikan setiap kasus disorientasi tertangani dengan cepat.
Koordinasi juga dilakukan dengan dokter spesialis jika kondisi membutuhkan penanganan lanjutan. Dia menegaskan seluruh proses penanganan tidak hanya berfokus pada aspek medis, tapi juga pendekatan sosial dan psikologis.
Edukasi kepada keluarga dan pendamping menjadi bagian penting dalam pencegahan kasus berulang. "Kalau sudah ditangani dengan baik, InsyaAllah jemaah bisa pulih dan kembali beribadah dengan normal," ujarnya.
Dia mengimbau jemaah menghindari aktivitas berlebihan selama masa adaptasi di Tanah Suci. Ibadah sunah yang terlalu padat dinilai dapat memicu kelelahan yang berujung pada disorientasi.