Anak Ikut Lomba 17 Agustus, Perlukah Latihan? Ini Kata Psikolog

Bukan ayah atau ibu ambisius bila mengajak anak latihan sebelum mengikuti lomba 17 Agustus. Latihan bantu anak lebih percaya diri.

Diterbitkan 15 Agustus 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lomba 17 Agustus atau 17-an biasanya permainan sederhana yang seru. Seperti memasukkan pensil ke botol, memindahkan air menggunakan spons, makan kerupuk hingga lomba joget balon.

Meski terlihat mudah, ada juga orangtua (ortu) yang mengajak sang anak mencoba atau latihan sebelum lomba 17-an. Apakah ini termasuk ciri-ciri orangtua yang ambisius?

Terkait ini, orangtua boleh-boleh saja mengajak anak latihan serta memberikan saran atau tips untuk bisa melakukan permainan tersebut seperti disampaikan psikolog Jane Cindy Linardi dari RS Pondok Indah - Pondok Indah Jakarta.

"Terutama untuk anak yang kurang percaya diri atau pencemas. Latihan dapat membantu anak lebih percaya diri dan mengurangi kecemasan," tutur Jane lewat pesan tertulis.

Ketika hari H perlombaan anak menolak ikut serta, ayah atau ibu bisa memberikan penguatan terlebih dahulu. Misalnya bila orangtua boleh menemani maka bisa disampaikan nanti ayah atau ibu temani ya.

"Jika sudah diberikan penguatan oleh orangtua tetapi anak masih menolak untuk ikut lomba, maka tidak perlu dipaksa," kata Jane.

Lalu, beri apresiasi pada anak bahwa setidaknya ia sudah berani hadir ke acara lomba tersebut walaupun belum mau ikut.

Jane menyarankan ayah atau ibu untuk mendaftarkan anak untuk ikut lomba kecil dengan jumlah peserta sedikit.

"Lalu beri apresiasi saat anak mau ikut lomba. Bandingkan progres anak dengan dirinya sendiri, bukan dengan anak lain," sarannya.

Bila Anak Ikut Lomba 17 Agustus tapi Kalah

Anak sudah latihan tapi pada hari H lomba 17 Agustus kalah. Pada sebagian anak ada yang biasa saja menerima kekalahan tapi ada juga yang sedih. Menghadapi situasi ini orangtua bisa memvalidasi emosi anak.

"Jika anak sedih, maka orangtua dapat menyampaikan bahwa Ayah dan Ibu paham bahwa anak sedih karena mengalami kekalahan," katanya.

Kemudian, sampaikan apresiasi atas usaha maksimal yang ditampilkan anak. Misalnya dengan menyampaikan, 'Wah tadi adek sudah berusaha berlomba dengan baik, sudah berani juga. Keren.'