[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Ebola Kegawatan Internasional

WHO tetapkan Ebola sebagai kedaruratan global, ini alasan wabah di Afrika kini bikin dunia kembali waspada.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 19 Mei 2026, 06:00 WIB
Prof Tjandra Yoga Aditama ungkap alasan WHO tetapkan Ebola sebagai darurat global yang kini mengkhawatirkan dunia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Sejak kemarin dan hari ini, media massa nasional dan internasional ramai memberitakan Ebola yang pada 17 Mei kemarin dinyatakan WHO sebagai 'public health emergency of international concern (PHEIC)'. Istilah ini, ketika saya menjadi Direktur Jenderal P2PL Kementerian Kesehatan, saya terjemahkan sebagai 'Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD)'. Setidaknya ada tiga alasan kenapa WHO menyatakan Ebola sebagai PHEIC kali ini.

Pertama, ini memang kejadian “extraordinary”, atau luar biasa. Sampai 16 Mei 2026, ada 8 kasus konfirm Ebola, 246 suspek di Republik Demokratik Kongo, dan tragisnya ada 80 “suspected deaths”. Juga ada kluster penyakit dengan gejala yang sesuai dengan Ebola karena virus Bundibugyo “Bundibugyo virus disease (BVD)” pada beberapa daerah, yang bahkan juga ada dugaan kematian pada kluster 4 petugas kesehatan.

Juga ditemukan tingginya angka kepositifan (8 terkonfirmasi dari 13 yang diperiksa) dan terus berdatangan laporan kasus dan kematian menunjukkan bahwa wabah kali ini berpotensi lebih besar dari data yang resmi terlaporkan.

Kedua, sudah ada penularan di luar Kongo, yaitu di Uganda, dengan 2 kasus terkonfirmasi dan salah satunya meninggal dunia. Jadi, sudah ada penularan antarnegara, makanya disebut “internasional”. Ketiga, karena pola penularannya maka memang perlu kerja sama dan koordinasi internasional, dalam hal surveilans, pencegahan, dan respons.

Ketiga alasan di ataslah yang membuat WHO menyatakan Ebola sebagai 'Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia'. Berikut disampaikan tiga hal lain.

Kesatu, ada tiga jenis Ebola yang utama, yaitu Ebola virus karena virus Zaire, Sudan virus, dan Bundibugyo virus yang sekarang terjadi. Sejauh ini, untuk Ebola karena Bundibugyo virus memang belum ada obat dan vaksin yang disetujui WHO.

Kedua, angka kematian akibat Ebola berkisar antara 25 s.d 90 persen, jadi tinggi sekali. Ketiga, sejauh ini kasus Ebola utamanya ada di Afrika dan pernah dilaporkan kasus di Eropa dan Amerika, dan belum pernah dilaporkan di Asia.

Prof Tjandra Yoga Aditama

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit, serta Kepala Balitbangkes

Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 - PERSI, dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya