[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Harapan untuk Ebola

Di tengah perjuangan Kongo menghadapi Ebola, ada beberapa aspek yang cukup menjanjikan terkait penanganan penyakit ini.

Diterbitkan 04 Juni 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Prof Tjandra merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran UI juga Direktur Program Pasca Sarjana Universitas YARSI Jakarta.

Liputan6.com, Jakarta - Pada 1 Juni 2026  layanan berita dan informasi resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) United Nation News memberitakan aspek yang cukup menjanjikan tentang penanganan Ebola. Setidaknya ada lima kabar baik terkait penanganan Ebola.

Pertama, empat orang perawat di Republik Demokratik Kongo yang tadinya dirawat dengan Ebola yang tipe ini virus Bundibugyo maka berhasil diobati dengan baik dan sudah keluar rumah sakit.

Data sampai 31 Mei 2026 menunjukkan di Kongo ada 210 kasus terkonfirmasi Ebola dengan 17 kematian. Lalu, diberitakan ada 16 petugas kesehatan yang tertular Ebola. Selain itu ada hampir 350 kasus suspek di negara itu.

Kedua, sudah ada beberapa kemajuan tentang upaya menemukan obat dan vaksin, walaupun penelitian masih terus berjalan. Untuk kasus terkonfirmasi maka ada tiga obat yang diprioritaskan dalam uji klinik, yaitu antibodi monoklonal MBP 134, maftivimab, dan antiviral remdesivir.

Ketiga, untuk pencegahan maka prioritas uji klinik sekarang ini adalah obat antiviral obeldesivir, yang sedang diteliti dampaknya sebagai post-exposure measure untuk diberikan pada mereka yang kontak dengan kasus terkonfirmasi.

Keempat, menurut WHO maka kini evaluasi sedang dilakukan pada dua kandidat vaksin untuk Ebola Bundibugyo ini.

Kelima, pernyataan Direktur Jenderal WHO jelas menyebutkan bahwa kalau Ebola Bundibugyo ditangani segera maka hasilnya dapat lebih baik, dan tegasnya DirJen WHO menyatakan “It is not without hope”, atau “bukan tanpa harapan”, walaupun memang angka kematiannya tinggi.

 

** Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes Kemenkes RI