Vape Tidak Mengandung Tar tapi Tetap Bisa Picu Kanker

Guru Besar FKUI mengatakan vape tidak mengandung tar tapi tetap bisa memicu kanker usai pajanan lebih dari 15 tahun.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 03 Juni 2026, 17:00 WIB
Penasihat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Profesor Agus Dwi Susanto di Jakarta soal rokok elektrik soal vape Rabu (3/6/2026). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Rokok elektrik atau vape dianggap lebih aman ketimbang rokok konvensional karena tidak mengandung tar. Faktanya, meski tidak mengandung tar, rokok elektrik atau rokok elektronik juga bisa memicu kanker.

“Di dalam vape (rokok elektrik) memang tidak terdapat tar, tapi riset menunjukkan terdapat bahan karsinogenik non-tar. Dari mana? Dari cairannya (liquid) dan electricity mechanism (mekanisme elektrik),” kata Penasihat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Profesor dr Agus Dwi Susanto SpP(K), dalam peluncuran kampanye #SehatTanpaRokok bersama Kenvue dan Guardian di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

“Jadi, dari mekanisme elektrik itu akan dilepaskan logam-logam halus dan dihirup tiap hari oleh pengguna vape, kalau bertahun-tahun, itu bisa jadi kanker,” tambahnya.

Selain mengandung karsinogen, rokok elektrik dan rokok konvensional sama-sama mengandung partikel-partikel halus yang bersifat iritan dan toksik (racun). Partikel ini bisa mengiritasi saluran napas dan memicu berbagai penyakit seperti asma dan penyakit paru kronik.

“Kalau dia masuk ke pembuluh darah, menyebabkan iritasi di vaskuler dan jika terdistribusi ke seluruh tubuh bisa memicu berbagai gangguan organ,” ujar Guru Besar Bidang Pulmunologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu. 

Bahaya Rokok Elektronik

Agus menjelaskan, rokok elektronik baru digunakan di Indonesia sekitar 10 tahun belakangan. Berbeda dengan rokok konvensional yang ada sejak dulu.

Maka dari itu, dampak penyakit akibat rokok elektronik baru bisa terlihat dalam 25 tahun ke depan. Saat ini, yang baru terlihat adalah dampak-dampak jangka pendeknya.

“Yang kita temukan beberapa kasus di Indonesia misalnya meningkatkan gejala asma, meningkatkan pneumonia, meningkatkan terjadinya gejala-gejala batuk.”

“Tapi untuk penyakit jangka panjang seperti kanker itu belum terlihat di Indonesia maupun di dunia karena untuk sampai kanker itu butuh pajanan hingga 15 tahun,” ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya