Belanja Rokok Bisa Mengurangi Gizi Anak

Peneliti menemukan rumah tangga dengan anggota yang konsumsi rokok cenderung mengalokasikan pengeluaran lebih sedikit untuk pangan bergizi.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 05 Juni 2026, 15:00 WIB
Diseminasi penelitian Perilaku Merokok dalam Rumah Tangga Anak Penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Belanja rokok dapat mengurangi alokasi keluarga untuk pangan bergizi, kesehatan, dan pendidikan anak. Hal ini diungkap dalam penelitian terbaru Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) yang bertajuk Perilaku Merokok dalam Rumah Tangga Anak Penerima Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di tengah besarnya investasi pemerintah melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tingginya konsumsi rokok di rumah tangga penerima manfaat menjadi tantangan yang dapat mengurangi dampak program terhadap kesejahteraan anak.

Peneliti menemukan bahwa sebagian besar anak penerima MBG berasal dari rumah tangga perokok. Rumah tangga ini cenderung mengalokasikan pengeluaran lebih sedikit untuk pangan bergizi dan lebih banyak untuk makanan kurang sehat.

Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan intervensi perubahan perilaku dalam program MBG, termasuk pengendalian perilaku merokok. Selain itu, kebijakan kenaikan harga rokok dinilai penting untuk menekan konsumsi rokok agar manfaat program dapat tercapai lebih optimal.

“Pemerintah telah mengalokasikan anggaran besar untuk Program MBG guna meningkatkan kualitas gizi dan masa depan anak Indonesia. Namun, manfaat program ini berisiko tidak optimal apabila konsumsi rokok di tingkat rumah tangga tetap tinggi,” kata peneliti sekaligus Ketua PKJS-UI, Aryana Satrya di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Di tengah upaya menurunkan stunting dan memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM), data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan bahwa sekitar 28,99 persen rumah tangga di Indonesia masih mengkonsumsi rokok. Rata-rata pengeluaran mereka mencapai sekitar 11 persen dari total pengeluaran rumah tangga.

MBG Perlu Didukung Lingkungan Rumah yang Sehat

Aryana menegaskan, penelitian ini tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan Program MBG dengan kebijakan lain. Sebaliknya, hasil penelitian menunjukkan bahwa program gizi memerlukan dukungan lingkungan rumah tangga yang sehat agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.

"Program gizi seperti MBG memerlukan dukungan lingkungan rumah tangga yang sehat, termasuk pengendalian perilaku merokok dan alokasi pengeluaran keluarga yang lebih berpihak pada kebutuhan anak," ujarnya.

Peneliti PKJS-UI, Santoso, MSE., menjelaskan bahwa keberhasilan program seperti MBG tidak dapat dipahami semata-mata dari sisi penyediaan makanan. Menurutnya, perilaku konsumsi dan kondisi rumah tangga tempat anak tumbuh juga memiliki pengaruh besar terhadap hasil yang dicapai.

"MBG memiliki potensi mengurangi pengeluaran rokok rumah tangga, tetapi dampaknya belum signifikan sehingga memerlukan intervensi lanjutan yang lebih komprehensif," kata Santoso.

MBG Bukan Sekadar Program Pemberian Makan

Dewan Pakar Gizi Badan Gizi Nasional (BGN), Prof. Ikeu Tanziha menegaskan bahwa Program MBG tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai program pemberian makanan, Jakarta (4/6/2026). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Menanggapi hasil penelitian ini, Dewan Pakar Gizi Badan Gizi Nasional (BGN), Prof. Ikeu Tanziha menegaskan bahwa Program MBG tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai program pemberian makanan, melainkan sebagai bagian dari transformasi perilaku hidup sehat.

Menurutnya, setiap menu MBG juga merupakan sarana edukasi gizi bagi anak. Karena itu, berbagai pihak, termasuk BGN, Kementerian Kesehatan, dan UNICEF, terus mendorong peningkatan kapasitas kader dan guru untuk memperkuat edukasi gizi di masyarakat. Namun, keberhasilan MBG juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang lebih luas, termasuk akses terhadap pangan bergizi dan paparan rokok.

Ia menilai perlunya memahami lebih dalam faktor sosial dan budaya yang membuat perilaku merokok tetap bertahan dan dianggap normal di masyarakat sehingga dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan pengendalian rokok yang lebih efektif.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya ditentukan oleh penyediaan makanan bergizi, tetapi juga oleh lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang.

Intervensi gizi perlu berjalan beriringan dengan upaya pengendalian konsumsi rokok, penguatan promosi kesehatan keluarga, serta dukungan kebijakan lintas sektor yang konsisten.

Tanpa pendekatan yang terintegrasi, manfaat investasi negara dalam pembangunan sumber daya manusia berisiko tidak tercapai secara optimal. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya