Istilah Psikopat Muncul dalam Kasus Dugaan Penyekapan di Bandung, Ini Kata Psikiater

Warganet menyebut istilah psikopat setelah mendengar berita terkait dugaan penyekapan perempuan di Bandung.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 23 Juni 2026, 19:00 WIB
Penampakan kamar indekos yang disewa Taufik Hidayat untuk menyekap YTR di Cileunyi, Kabupaten Bandung. (Liputan6.com/ Dok Ist)

Liputan6.com, Jakarta - Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan perempuan di Bandung, Jawa Barat tengah viral di media sosial. Korban berinisial YTT (29) ditemukan dalam kondisi memprihatinkan dengan sejumlah luka berat seperti mata rusak dan bibirnya digunting. Pelaku yang diduga pacar YTT kini tengah dicari pihak berwajib.

Kasus ini memicu berbagai spekulasi di masyarakat, termasuk dugaan bahwa terduga pelaku memiliki gangguan kepribadian. Istilah psikopat pun muncul.

Menanggapi hal tersebut, psikiater Lahargo Kembaren menegaskan bahwa penilaian seseorang sebagai psikopat tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan informasi yang beredar di publik.

Lahargo mengatakan untuk menentukan seseorang sebagai psikopat dibutuhkan pemeriksaan psikiatri yang lengkap yaitu wawancara klinis terstruktur, riwayat kehidupan dan tes kepribadian. Jika peristiwa penyekapan dan penyiksaan dalam waktu lama ini benar terjadi, maka telah terjadi perilaku kekerasan yang ekstrem.

Pelaku melakukannya tanpa rasa empati dan kontrol yang sangat dominan terhadap korban serta pelanggaran berat terhadap hak asasi korban tanpa memikirkan konsekuensinya.

“Karakteristik ini ditemukan pada orang dengan gangguan kepribadian antisosial dengan perilaku psikopatik. Kita perlu juga memahami bahwa tidak semua perilaku kekerasan dilakukan oleh seorang psikopat,” kata Lahargo dalam keterangan tertulis dikutip pada Selasa (23/6/2026).

Beberapa ciri yang bisa dilihat dari individu dengan kecenderungan psikopatik antara lain:

  • Kurang atau tidak memiliki empati terhadap penderitaan orang lain
  • Tidak merasa bersalah setelah menyakiti orang lain
  • Manipulatif dan pandai membangun citra baik di depan publik
  • Sering berbohong untuk keuntungan pribadi
  • Sangat ingin mengontrol pasangan atau orang di sekitar
  • Melihat orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan dirinya
  • Dapat tampak sangat menawan (charming) pada awal perkenalan.

Manis di Awal

Lahargo menyarankan pada awal hubungan mereka sering kali tidak terlihat menyeramkan. Justru banyak korban menggambarkan pelaku sebagai sosok yang:

  • Sangat perhatian dan romantis di awal
  • Cepat menciptakan kedekatan emosional yang intens
  • Terlihat protektif, tetapi kemudian berubah menjadi posesif
  • Mulai mengisolasi korban dari keluarga dan teman
  • Perlahan melakukan kontrol terhadap aktivitas, komunikasi, dan keputusan korban
  • Memunculkan siklus "menyakiti lalu meminta maaf", yang membuat korban sulit keluar dari hubungan tersebut.

“Karena itu, salah satu tanda peringatan yang sering muncul bukanlah kekerasan fisik sejak awal, melainkan kebutuhan mengontrol yang berlebihan, manipulasi emosional, dan hilangnya kebebasan korban secara bertahap,” jelasnya.

Dari perspektif psikologi kekerasan dalam hubungan, kasus seperti ini juga mengingatkan bahwa korban sering tidak bertahan karena "mau", tetapi bisa terjebak oleh kombinasi ketakutan, ancaman, ketergantungan emosional, trauma bonding, isolasi sosial, dan hilangnya rasa mampu untuk melarikan diri.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya