Healing Forest Bisa Redakan Stres hingga Tingkatkan Imunitas

Untuk mendapatkan manfaat dari healing forest, pakar IPB sebutkan beberapa syarat yang harus dipenuhi.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 30 Juni 2026, 17:00 WIB
Jalan-jalan di hutan untuk meredakan stres Foto: (Ade Nasihudin/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Manfaat jalan-jalan di hutan tidak bisa dianggap remeh. Guru Besar IPB University, Prof Siti Badriyah Rushayati mengatakan hutan berkontribusi langsung terhadap kesehatan manusia melalui konsep healing forest atau terapi hutan.

“Paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas natural killer cells yang berperan melawan infeksi dan sel kanker. Selain itu, terapi hutan juga terbukti mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesehatan mental,” ungkapnya saat Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (27/6/2026).

Manfaat tersebut tidak terlepas dari keberadaan phytoncide, yakni senyawa volatil alami yang dihasilkan tumbuhan sebagai mekanisme pertahanan terhadap mikroorganisme, serangga, maupun tekanan lingkungan. Bagi manusia, senyawa ini memiliki berbagai manfaat kesehatan.

Phytoncide memiliki sifat antioksidan yang dapat melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Paparan senyawa ini secara teratur juga dapat membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan mental,” jelasnya.

Healing forest tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Prof Siti mengungkapkan lokasi terapi harus memenuhi sejumlah persyaratan, seperti tingkat kebisingan yang rendah, kualitas udara yang baik, kondisi medan yang aman, serta suasana yang mampu memberikan ketenangan bagi pengunjung.

“Dalam healing forest, seluruh panca indera harus dapat menyatu dengan alam. Jika tingkat kebisingan terlalu tinggi, proses relaksasi tidak akan berjalan optimal,” katanya mengutip laman IPB University, Selasa (30/6/2026).

 

Potensi Wisata Lewat Healing Forest

Prof Siti juga melihat healing forest juga memiliki potensi ekonomi yang besar melalui pengembangan wisata berbasis jasa lingkungan. Salah satu contohnya telah diterapkan di Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, yang menawarkan paket wisata healing forest lengkap dengan jalur khusus, aktivitas terapi alam, dan pendampingan pemandu terlatih.

“Ini bisa menjadi sumber ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga hutan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa upaya menghadapi triple planetary crisis memerlukan pendekatan berbasis lanskap, konservasi dan restorasi ekosistem, pembangunan hutan kota, peningkatan penyerapan polutan oleh vegetasi, pemanfaatan teknologi, serta pelibatan berbagai pemangku kepentingan.

“Ketahanan iklim, ketahanan ekosistem, dan kesehatan masyarakat hanya dapat tercapai apabila pembangunan berjalan selaras dengan fungsi jasa lingkungan hutan,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya