Populasi Lansia Indonesia Tinggi, Bappenas Lihat Potensi Silver Economy

Bertambahnya jumlah lansia membuka peluang pengembangan silver economy di Indonesia.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 01 Juli 2026, 16:00 WIB
Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan, Kementerian PPN/Bappenas, Maliki dan anggota komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Hj. Selly Andriany Gantina soal lansia, Jakarta (1/7/2026). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) berupaya mendorong pembangunan silver economy di Indonesia. Silver economy adalah segala bentuk aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan populasi lanjut usia (lansia).

“Lansia Indonesia itu jumlahnya cukup besar, misalnya 10 persen dari 280 juta kan udah 28 juta. Selama ini, kebutuhan lansia yang sangat spesifik adalah diapers (popok) dan makanan khusus. Diapers sekarang masih bisa kita produksi, tapi biasanya diapers yang paling bagus tuh yang tipis dan bisa menyerap lebih banyak itu harus impor,” kata Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan, Kementerian PPN/Bappenas, Maliki kepada Kesehatan Liputan6.com saat ditemui di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

“Nah, kami harapkan dengan banyak kebutuhan seperti itu harusnya kita bisa produksi sendiri. Jadi kalau produksi sendiri, punya pabrik sendiri berarti kan kesempatan kerja lebih banyak, penciptaan lapangan kerja lebih banyak. Ini bisa jadi sumber pertumbuhan ekonomi baru,” tambahnya.

Tidak hanya popok, makanan lansia dengan kandungan kalsium dan kolagen sebetulnya bisa diproduksi di Indonesia karena bahan-bahannya tersedia.

“Tapi mungkin teknologinya yang harus segera kita kembangkan. Jadi kita bisa produksi mandiri dan menciptakan lapangan pekerjaan sehingga pertumbuhan ekonomi pasti bisa lebih bagus lagi.”

“Jadi yang namanya silver economy adalah bagaimana kita memenuhi kebutuhan lansia yang cukup besar,” ujarnya.

Penciptaan Ruang Baru bagi Lansia

Dalam kesempatan yang sama, anggota komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Hj. Selly Andriany Gantina menambahkan, silver economy juga bisa mencakup ruang baru khusus lansia.

“Lingkungan ramah lansia, ada lansia yang sendiri dan lansia yang hidup dengan keluarga. Otomatis kita akan menciptakan satu ruang baru, kelembagaan baru. Pada saat ada kelembagaan baru, maka kan akan menciptakan suatu potensi lapangan ekonomi baru,” kata Selly.

“Misalnya rumah jompo baru, penitipan, otomatis kan akan menciptakan satu ruang baru, kerjaan baru. Kalau dikelola dengan baik, tentu ini akan menciptakan lapangan kerja baru untuk susternya, nersnya, segala macam yang ramah terhadap lansia,” imbuhnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya