Jangan Asal Pakai Nebulizer, Dokter Ingatkan Efek Samping

Terapi inhalasi dengan nebulizer diperuntukkan untuk saluran pernapasan. Pastikan cara penggunaan tepat.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 03 Juli 2026, 13:30 WIB
Dokter spesialis anak subspesialis respirologi dr. Wahyuni Indawati, Sp.A., Subsp. Respi(K) mengingatkan bahwa terapi inhalasi dengan nebulizer perlu tepat.

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis anak subspesialis respirologi dr. Wahyuni Indawati, Sp.A., Subsp. Respi(K) mengingatkan bahwa terapi inhalasi dengan nebulizer perlu dilakukan dengan cara yang benar. Misalnya penggunaan masker harus tepat di area hidung bukan sampai mata. 

Salah satu obat yang perlu mendapat perhatian adalah golongan steroid. Menurut Wahyuni, penggunaan steroid inhalasi jika digunakan tidak tepat dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko katarak.

"Salah satunya adalah obat yang mengandung steroid. Steroid, terutama bila digunakan dalam jangka waktu yang lama, harus diwaspadai karena bisa menyebabkan katarak," ujarnya.

Selain itu, obat golongan antikolinergik juga perlu digunakan secara hati-hati. Obat ini dapat meningkatkan tekanan intraokular atau tekanan di dalam bola mata sehingga berisiko memicu glaukoma pada orang yang rentan.

Karena itu, Wahyuni menekankan pentingnya menggunakan nebulizer dengan teknik yang benar dan alat yang berkualitas agar obat tersalurkan secara optimal serta meminimalkan sisa obat (residu) yang dapat mengganggu organ lain.

"Jadi melakukan nebulisasi bukan berarti tanpa kewaspadaan. Alatnya harus baik, cara penggunaannya juga harus benar," katanya.

 

Terapi Inhalasi Harus Sesuai Rekomendasi Dokter

Wahyuni juga menyoroti praktik di masyarakat yang kerap menjadikan nebulizer sebagai pilihan “apapun penyakitnya, semuanya diberikan terapi inhalasi”.

Dalam hal ini, pentingnya meningkatkan edukasi mengenai indikasi penggunaan terapi inhalasi yang tepat. Jika terjadi masalah pernapasan segera berkonsultasi dengan dokter.

Ia mengatakan bahwa nebulisasi pada dasarnya diperuntukkan bagi penyakit saluran pernapasan, terutama asma. “Penyakit infeksi ada yang namanya croup laringitis, bronkiolitis yang bunyinya ngik-ngik juga napasnya. Itu kita bisa menggunakan terapi inhalasi. Karena obat yang diberikan melalui terapi inhalasi itu memang obat dengan mekanisme kerja di sistem pernapasan untuk penyakit-penyakit tertentu,” ujar dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya