Kelembapan Tinggi Bikin Cuaca Panas di Indonesia Bisa Lebih Bahaya dari Eropa

Cuaca panas ekstrem di Indonesia bisa lebih bahaya ketimbang Eropa, ahli jelaskan alasannya.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 06 Juli 2026, 11:45 WIB
Kelembapan Tinggi Bikin Cuaca Panas di Indonesia Bisa Lebih Bahaya dari Eropa. Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia memiliki kelembapan tinggi yang dapat memicu bahaya jika terjadi suhu panas ekstrem.

“Indonesia mungkin tidak akan mengalami suhu 45 derajat Celsius seperti yang terjadi di Spanyol atau Prancis, tapi kita menghadapi tantangan lain yaitu kelembapan yang sangat tinggi,” kata ahli kesehatan lingkungan dokter Dicky Budiman, Ph.D kepada Kesehatan Liputan6.com lewat pesan suara pada Senin (6/7/2026).

Dicky mengatakan Indonesia saat ini mengalami dampak perubahan iklim berupa peningkatan suhu rata-rata atau heat index (suhu yang dirasakan tubuh). Hal yang perlu diketahui, sambungnya, panas di Indonesia justru bisa terasa lebih berbahaya dibandingkan di beberapa wilayah Eropa akibat kelembapannya.

“Saat kelembapan tinggi, keringat itu sulit menguap sehingga mekanisme pendinginan alami tubuh jadi kurang efektif akibatnya risiko heat stroke, dehidrasi, hingga gangguan jantung, dapat meningkat lebih tinggi dibanding Eropa meski suhu di kita mungkin hanya di kisaran 34-36 derajat celcius,” paparnya.

Selain kelembapan tinggi Indonesia juga memiliki urban heat island (panas perkotaan) seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar ditambah polusi udara yang memperberat dampak panas. Indonesia juga sering dilanda suhu malam yang tetap panas.

“Namanya hot night, sehingga tubuh tidak memiliki waktu cukup untuk memulihkan diri. Ini yang berbahaya, karena kombinasi faktor itu bisa meningkatkan angka kesakitan dan kematian terutama pada kelompok rentan seperti lansia (lanjut usia), anak-anak, ibu hamil, pekerja luar ruangan, dan pengidap penyakit jantung, paru, diabetes, dan ginjal,” jelasnya.

Panas Ekstrem di Eropa

Seperti diketahui, cuaca panas ekstrem di Eropa memicu kerusakan infrastruktur bahkan kematian. Menurut Dicky, Eropa adalah benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Sekitar dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global.

Lantas, apakah panas ekstrem di Eropa bisa dirasakan sampai ke Indonesia? “Jawaban singkatnya, tidak dalam bentuk yang sama tapi Indonesia tetap memiliki risiko panas ekstrem yang meningkat,” kata Dicky.

“Gelombang panas yang terjadi di Eropa ini merupakan fenomena regional, jadi tidak berpindah ke Indonesia,” tambahnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya