Manfaat Brotowali untuk Diabetes, Begini Cara Kerjanya di Tubuh

Begini cara kerja brotowali dalam membantu mengontrol gula darah pada pasien diabetes secara alami.

Diterbitkan 06 Juli 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Brotowali (Tinospora crispa) merupakan salah satu tanaman herbal yang telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional di Indonesia. Tanaman ini dikenal dengan berbagai nama daerah, seperti antawali, andawali, dan putrawali.

Brotowali tumbuh merambat secara liar di pekarangan, kebun, maupun lahan terbuka dengan panjang batang yang dapat mencapai sekitar 2,5 meter. Tanaman ini memiliki rasa yang sangat pahit, bahkan sering disamakan dengan pare.

Melansir laman Desa Putat, Kalurahan Putat, Gunung Kidul, Jumat (5/6/2026), rasa pahit tersebut membuat brotowali banyak dimanfaatkan sebagai bahan jamu dan ramuan herbal untuk membantu mengatasi berbagai masalah kesehatan.

Popularitas brotowali sebagai tanaman obat berasal dari kandungan senyawa aktif yang terdapat hampir di seluruh bagian tanamannya. Pada bagian akar, misalnya, terdapat senyawa alkaloid seperti berberin dan kolumbin yang diketahui memiliki aktivitas biologis.

Selain itu, brotowali juga mengandung glikosida, flavonoid, sterol, lignan, lakton, nukleosida, damar lunak, pati, pikroretosid, pikroretin, palmatin, dan kokulin. Berbagai kandungan tersebut dipercaya berkontribusi terhadap manfaat kesehatan brotowali, mulai dari membantu menjaga daya tahan tubuh hingga mendukung pengelolaan beberapa penyakit kronis.

Potensi Brotowali untuk Membantu Mengontrol Diabetes

Salah satu manfaat brotowali yang paling banyak diteliti adalah potensinya dalam membantu mengontrol kadar gula darah. Karena itu, tanaman ini kerap dimanfaatkan sebagai herbal pendamping bagi pengidap diabetes.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa senyawa aktif dalam brotowali berpotensi meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu metabolisme glukosa dalam tubuh.

Diabetes terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Kondisi tersebut menyebabkan glukosa menumpuk di dalam darah sehingga kadar gula darah meningkat.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa aktif dalam brotowali berpotensi merangsang kerja pankreas untuk menghasilkan insulin. Hormon ini berperan penting dalam membantu glukosa masuk ke dalam sel tubuh sebagai sumber energi.

Selain itu, brotowali juga dipercaya dapat meningkatkan penyerapan glukosa oleh jaringan tubuh, terutama otot. Dengan penyerapan glukosa yang lebih optimal, kadar gula darah dapat lebih terkontrol sehingga membantu menjaga kestabilannya.

Meski demikian, manfaat brotowali dalam membantu mengatasi diabetes masih memerlukan penelitian lebih lanjut, terutama pada manusia. Karena itu, brotowali tidak boleh digunakan sebagai pengganti obat diabetes yang diresepkan dokter, melainkan hanya sebagai pendamping setelah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Kandungan Antidiabetik pada Brotowali

Diabetes merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang. Walaupun belum dapat disembuhkan sepenuhnya, kadar gula darah dapat dikendalikan melalui pola hidup sehat, pengobatan yang tepat, serta dukungan dari bahan herbal tertentu.

Brotowali diketahui mengandung berbagai senyawa aktif yang memiliki potensi antidiabetik. Senyawa tersebut dipercaya membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil sekaligus mengurangi risiko lonjakan gula darah.

Bagian brotowali yang paling sering dimanfaatkan adalah batang dan akar karena mengandung berbagai zat aktif yang diyakini berperan dalam mendukung metabolisme glukosa dan membantu tubuh mengatur kadar gula darah.

Meski begitu, penggunaan brotowali tetap harus disertai pola makan sehat, aktivitas fisik yang cukup, pemantauan gula darah secara rutin, dan terapi medis sesuai anjuran dokter agar hasilnya lebih optimal.

Brotowali Berpotensi Membantu Penyembuhan Luka Diabetes

Salah satu komplikasi yang sering dialami penderita diabetes adalah luka yang sulit sembuh. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat mengganggu sirkulasi darah dan memperlambat regenerasi jaringan sehingga luka kecil sekalipun berisiko berkembang menjadi infeksi serius.

Dalam pengobatan tradisional, brotowali juga dimanfaatkan untuk membantu mempercepat penyembuhan luka. Tanaman ini mengandung berberin yang memiliki sifat antibakteri dan antiradang.

Kandungan tersebut berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri pada luka sekaligus mendukung proses pemulihan jaringan kulit.

Sebagai obat luar, brotowali umumnya digunakan dalam bentuk ekstrak atau ramuan yang dioleskan pada area luka. Penggunaan secara topikal dipercaya membantu menjaga kebersihan luka sekaligus mengurangi risiko infeksi.

Meski demikian, penderita diabetes tetap harus berhati-hati dalam merawat luka. Apabila luka tidak kunjung sembuh, membesar, atau muncul tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, maupun keluar cairan, segera periksakan diri ke tenaga medis.

Penggunaan brotowali sebaiknya hanya menjadi pelengkap perawatan, bukan pengganti terapi medis.

Cara Mengolah Brotowali sebagai Ramuan Herbal

Walaupun memiliki rasa yang sangat pahit akibat kandungan pikroretin, brotowali tetap banyak digunakan sebagai tanaman herbal karena mudah ditemukan dan mudah diolah menjadi ramuan tradisional.

Untuk membuat ramuan brotowali, siapkan beberapa potong batang brotowali, lalu tambahkan beberapa lembar daun sambiloto dan daun kumis kucing. Cuci seluruh bahan hingga bersih, kemudian rebus dengan sekitar empat gelas air hingga mendidih.

Lanjutkan perebusan sampai air menyusut menjadi sekitar dua gelas. Setelah itu, saring air rebusan dan biarkan hingga hangat sebelum diminum.

Dalam pengobatan tradisional, ramuan ini umumnya dikonsumsi sebanyak setengah gelas setiap hari sebagai pendamping untuk membantu mengontrol kadar gula darah.

Selain untuk diabetes, brotowali juga kerap dimanfaatkan untuk membantu meredakan rematik, demam, nyeri pinggang, hingga gangguan pernapasan ringan.

Meski memiliki berbagai potensi manfaat, konsumsi brotowali harus dilakukan secara bijak. Mengonsumsi brotowali secara berlebihan tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan efek samping, termasuk risiko keracunan.

Oleh karena itu, penggunaan brotowali sebaiknya mengikuti anjuran tenaga kesehatan dan tidak menggantikan pengobatan medis yang telah diresepkan dokter.

Penulis: Dea Sifa